Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 22 Juli 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Masyarakat di Tiga Desa Kembali Protes, Enam Enam Bulan Kesulitan Air
[Nusantara]

Cianjur, Pelita



Bencana kesulitan air di tiga desa masing-masing di Desa Cikahuripan, Desa Kebon Peuteuy dan Desa Gekbrong, Kecamatan Warungkondang, Cianjur, Jabar, terus berlanjut. Diduga akibat rusaknya lingkungan sehubungan kegiatan usaha penambangan pasir secara besar-besaran, dan diduga tersedotnya sumber air bawah tanah oleh pabrik tapioka di Kampung Wates, Desa Gekbrong.


Mereka pun, belum lama ini, kembali melayangkan surat protes kepada Bupati Cianjur, menuntut agar Pemkab Cianjur bertanggung jawab atas terjadinya bencana kesulitan air di tiga wilayah desa tersebut. Dalam surat protes yang ditandatangani 120 warga masyarakat, dijelaskan sudah hampir enam bulan masyarakat kesulitan memperoleh air bersih, dan hanya diberi janji-janji dan rapat-rapat tanpa ada penyelesaiannya.


"Untuk memenuhi kebutuhan air bersih terpaksa kami membeli air bersih dari daerah lain.Kalau tidak begitu, bagaimana kami dapat memasak nasi, dan minum," kata salah seorang ibu rumah tangga penduduk Kampung Gekbrong," Kamis (17/4).


M. Fallah, salah seorang warga masyarakat penandatangan surat protes menjelaskan, upaya-upaya yang telah dilakukan masyarakat sebelumnya mengirimkan surat kepada Bupati Cianjur, kepada DPRD Cianjur, pertemuan langsung dengan DPRD, berbagai pertemuan dengan parat Pemda dan DPRD baik di Desa Gekbrong maupun di Gedung DPRD, dan aksi unjukrasa ke DPRD Cianjur.


"Dari berbagai upaya seperti itu, hasilnya masyarakat hanya memperoleh bantuan enam tangki air dari Pemkab Cianjur melalui Dinas Cipata Karta, tetapi bantuan tangki air tidak menyelesaikan masalah. Bencana kekurangan air terus berlangsung dan warga masyarakat mengalami penderitaan yang berkepanjangan," katanya.


Warga masyarakat di tiga desa, kata Falah, meminta kepada Pemkab Cianjur untuk menanggulangi permasalahan yang terjadi, mengungkap penyebab yang sebenarnya, menindak tegas pelaku kegiatan usaha yang terbukti menggakibatkan erusakan alam lingkungan.


Ia juga mempertanyakan kepada Pemkab Cianjur, apakah ada tidak rules and regulation dalam proses pembangunan industri yang berorientasi terhadap masa sekarang dan masa yang akan datang dalam konsep pembangunan lingkungan hidup.


Bencana Kekeringan


Disamping itu, apakah Pemkab Cianjur, apakah akan bertanggungjawab atau tidak terhadap terjadinya bencana kekeringan dan kesulitan air yang dialami warga masyarakat di tiga wilayah desa. "Jika memang tidak akan bertanggung jawab, maka kami akan melakukan tindakan dengan cara sendiri," tegasnya.


Disebutkan cara yang akan diambil oleh warga masyarakat, antara lain akan merebut sumber air yang saat ini dirampas atau digunakan kegiatan industri, akan menyelidiki berdasarkan fakta di lapangan apa yang menjadi penyebab kekeringan, dan akan mengadukan persoalan ini kepada Gubernur Jabar di Bandung.


Kepala Satpol PP (Polisi Pamong Pradja) Pemkab Cianjur, Drs. Sudradjat, ketika dikonfirmasi Pelita, menyatakan, permasalahan kesulitan air yang dialami oleh masyarakat Gekbrong, memang telah dilakukan berbagai upaya. Sedangkan menyangkut perizinan penambangan pasir dan pabrik tapioka kami tengah melakukan penelitian, apakah ada pelanggaran tidakdi lapangan," katanya.


Jika memang nanti diketahui ada pelanggaran dan berdampak terhadap kesulitan air sebagaimana yang dialami oleh masyarakat di tiga desa. "Kami akan menegakkan peraturan yang ada, tetapi kami juga masih mempelajarinya," kilahnya melalui telepon.


Pabrik tapioka yang berada di daerah perbatasan Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Sukabumi itu, untuk mengoperasikan pabrik menggunakan aumur bawah tanah yang kedalamannya mencapai 60 meter. Sehingga diduga air bawah tanah banyak tersedot oleh sumur bawah tanah milik pengusaha pabrik tapioka. Sedangkan pengusaha pabrik tapioka, hingga kemarin, belum berhasil dihubungi untuk diminta konfirmasinya. (man)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Bendung Trahean Jebol, Puluhan Rumah Terendam
Mantan Bupati Kotim Diminta Tak Ikut Pencalonan
Pemekaran Papua Untuk Keadilan dan Efektivitas Pemda
Malu-malu Memberi Dukungan Plh Sekda Purwakarta
Di Lapas Sidoarjo: Napi Berontak Tujuh Tertembak