Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 31 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kerajaan Sambas Berkait dengan Brunei Darussalam
[Agama dan Pendidikan]





JIKA menyebut kata "Sambas" untuk ibukota kabupaten Sambas, orang dapat membayangkan suatu kota tua bekas kerajaan yang pernah diperintah oleh seorang Sultan.


Menurut buku peninggalan kerajaan-kerajaan di pulau Kalimantan yang diterbitkan Museum Negeri Pontianak Juli 2000, Kerajaan Sambas -- sekitar 225 km dari Kota Pontianak, sebelum mendapat pengaruh Islam adalah kerajaan bercorak Hindu.


Dari sejarahnya kerajan Sambas diketahui mempunyai kaitan dengan kerajaan besar yang kaya minyak bumi -- Brunei Darusalam, melalui kedatangan Raja Tengah, seorang keturunan raja Brunei ke kesultanan Sukadana, Ketapang Kalbar.


Raja Tengah sebenarnya "terdampar" akibat badai yang menghantam rombongannya dalam pelayaran kembali dari negeri Johor ke Sarawak dan Brunai Darussalam.


Sisa-sisa peninggalan kerajaan Sambas, kini dapat dilihat di keraton kota Sambas yang masih berdiri megah di Kalimantan Barat.


Keraton yang bernama "Alwatzikhoebillah" itu saat ini dihuni oleh keturunan Raja Tengah, Raden Haji Winata Kusuma (41) bergelar Pangeran Ratu, anak dari Pangeran Muhammad Taufik bin Muhammad Ibrahim Syafiudin.


Pengukuhan Raden Winata Kusuma sebagai Pangeran Ratu dilakukan dalam suatu upacara sakral bernuansa Islam pada pertengahan Juli 2000 lalu.


Keraton yang terletak ditengah kota Sambas itu kini menjadi objek wisata baik oleh wisatawan lokal maupun internasional, terutama wisatawan dari negara tetangga Malaysia dan Brunei Darussalam .


Selain peninggalan keraton dan makam raja-raja yang tampak terpelihara baik, di dalam istana juga terdapat meriam kecil yang disebut "LELE" , ada yang berbuntut dan tidak berbuntut.


Lele berbentuk meriam kecil ini dibungkus dengan kain kuning berjumlah tujuh masing-masing bernama Raden Mas, Raden Sambir, Raden Putri, Ratu Kilat, Raden Panjang, Pangeran Pajajaran dan Pangeran Guntur.


Keberadaan meriam-meriam kecil tersebut sangat diminati pengunjung. Menurut kepercayaan Lele itu hanya berhasil diangkat bila benda itu sendiri berkenan.


"Walaupun kecil kalau "beliau" tidak berkenan tidak terangkat," demikian biasa warga masyarakat setempat menyatakannya misteri kesakralan benda yang sebenarnya tergolong sebagai senjata api itu.


Keraton Sambas itu telah mengalami pemindahan dari berbagai tempat, dibangun pada tahun 1713 dan dipugar kembali menjadi bentuknya yang sekarang pada tahun 1933 .


Di keraton itu terdapat "tempayan" besar yang ukurannya setinggi badan manusia.


Tempayan besar yang terbuat dari porselin itu mempunyai keunikan yakni menjadi basah setiap saat "diusap" dengan tangan.


"Usaplah, tangan akan selalu "terase" (terasa-red) basah", kata pengunjung di sana kepada pengunjung lainnya.


Ke Sukadana


Mengenai hubungan dua kerajaan tersebut yakni kerajaan Sambas dan Brunei Darussalam diakui memang berkaitan dengan garis keturunan Raja Tengah dan Sultan Abdul Jalil Akbar -- sebagai dua bersaudara.


Raja Tengah keturunan Raja Brunei Darussalam terdampar di Sukadana, Ketapang karena kapalnya dihantam badai saat berlayar kembali dari lawatannya ke negeri Johor.


Di Sukadana tersebut, Raja Tengah kawin dengan saudara perempuan Sultan Sukadana, penguasa wilayah yang kini menjadi kabupaten Ketapang.


Setelah perkawinannya, Raja Tengah pamit untuk pergi ke Sambas yang ketika itu menjadi tempat tinggal barunya.


Saat Raja Tengah tiba di kerajaan Sambas, daerah itu diperintah oleh Ratu Sepudak, pemeluk agama Hindu yang berkuasa di kota Lama, sebuah kawasan yang dikenal dengan sebutan "Kote Tebangun" di muara sungai Sambas.


Kemudian putra sulung Raja Tengah keturunan dari Raja Brunai Darussalam -- kerajaan tertua di belahan pulau Kalimantan -- tersebut mengawini putri Ratu Sepudak.


Anak Raja Tengah itu bernama Raden Sulaiman, lalu menetap di Bandar dan mempunyai banyak pengikut.


Kemudian ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Lubuk Madung dan dinobatkan menjadi Sultan pertama Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Syafiudin.


Kerajaan Sambas yang istananya masih berdiri megah di Kota Sambas terus berkembang, perekonomian dan kesejahteraannya maju pesat dan pada tahun 1872 Sultan Muhammad Syafiudin II mendirikan sekolah.


Semasa pendudukan Jepang di Indonesia, kerajaan Sambas masih berjaja dibawah pemerintahan Sultan Muhammad Mulya Ibrahim.


Versi Sambas


Versi sejarah kerajaan Sambas yang disusun oleh Uray Djalaluoddin Yusuf Dato Ronggo menerangkan bahwa Raja Tengah yang keturunannya memerintah di Sambas tersebut adalah anak dari Sultan Syaiful Rizal.


Anak Sultan Syaiful Rizal ada dua orang satu diantaranya, yakni Sultan Abdul Jalil Akbar, memerintah di Negeri Brunei Darussalam.


Kedatangan Raja Tengah ke Sambas menurut versi sejarah Sambas adalah karena tertarik akan keberadaan tambang emas dan buah "Entenet" dan akar kayu pidara putih yang berkhasiat sebagai penambah keperkasaan pria.


Kayu pidara putih lebih dikenal sebagai akar pasak bumi, campuran jamu keperkasaan pria -- sementara buah "entenet" yang bentuknya semacam kancing, belum diteliti khasiatnya.


Mengenai masa berdirinya kerajaan Sambas sejauh ini tidak jelas, namun dari penelitian selanjutnya sebelum sumpah Gajah Mada di dengungkan, Sambas sudah takluk bersama Brunei -- terjadi pada tahun 1331.


Kekayaan tambang emas yang menarik hati Raja Tengah setelah mendengar ceritanya dari Raja Johor, diantaranya berlokasi di Siminis, Sebawi, Lala Lumar Bengkayang dan Monterado yang terkenal dengan emas kertasnya .


Tambang Emas di Monterado (Kabupaten Bengkayang) sekarang, pernah dikelola oleh perusahaan pertambangan modern namun beberapa tahun terakhir ini tutup.


Dilokasi tersebut kegiatan penambangan emas tanpa izin (peti) yang diusahakan oleh masyarakat setempat saat ini makin "marak". (ant/dik)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Unhi Buka Program Magister, Ilmu Agama dan Kebudayaan
MUI Desak DPR Agar Sahkan RUU Sisdiknas
UT Kendari Buka Program Kursus , Kuliah Jarak Jauh Pascasarjana
Fakultas Agama Islam Unissula, Buka Kuliah Sore Hari
MUI Tak Ingin Ada "Pemurtadan", Terkait RUU Sisdiknas