Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 31 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Menteri PPKTI Prioritaskan, Bidang Kesehatan dan Pendidikan
[Agama dan Pendidikan]

Atambua, Pelita



Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia (PPKTI), Manuel Kaisiepo memberikan prioritas pembangunan kesehatan dan pendidikan di daerah perbatasan antarnegara seperti Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).


Bupati Belu, Drs Marsellus Bere mengatakan di Atambua, Jumat (27/6) setelah mengikuti rapat koordinasi PPKTI di Jakarta (26/6) yang dipimpin Meneg PPKTI membahas pembangunan daerah-daerah perbatasan antarnegara.


"Pada rapat koordinasi PPKTI diputuskan antara lain, daerah perbatasan antarnegara harus mendapat prioritas dalam pembangunan khususnya bidang kesehatan dan pendidikan," tuturnya.


Adapun alasan utama bagi pemerintah dalam memberikan perhatian utama itu adalah bahwa wilayah perbatasan antarnegara merupakan "show window" sehingga ketika masyarakat antarbangsa memasuki wilayah Republik Indonesia, daerah perbatasan sudah harus menjadi Indonesia mini bagi mereka.


Penampilan daerah perbatasan menjadi cermin Bangsa dan Negara Indonesia.


Selain daerah perbatasan antarnegara, pemerintah pun memberikan perhatian yang besar pada wilayah-wilayah yang rawan bencana alam, daerah konflik atau bekas konflik dan daerah yang menampung pengungsi.


Kabupaten Belu, lanjutnya masuk dalam kategori perbatasan antarnegara, bekas daerah konflik dan penampung pengungsi. Karena itu sangat wajar jika dana pembangunan daerah ini ditambah lagi di luar Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).


Untuk tahun ini, Pemerintah Pusat mengalokasikan dana pembangunan bagi daerah perbatasan antarnegara sebesar Rp12 triliun yang dibagi-bagikan ke KTI seperti NTT, Papua, Kalimantan dan Sulawesi.


Bupati Bere menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Belu sangat menyadari bahwa pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan di daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Timur (Timtim) ini masih cukup jauh tertinggal dari daerah lain di KTI.


"Karena itu pada hari ini kami telah meminta Kepala Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan untuk membuat program pembangunan bidang ini secara menyeluruh. Untuk bidang pendidikan diprioritaskan pada pembangunan Sekolah Dasar sedangkan bidang kesehatan pada pembangunan Puskesmas," papar Bupati Bere.


Sedikitnya 150 dari 282 fasilitas sekolah dasar yang tersebar di 166 desa sudah sangat memprihatinkan apalagi dana bantuan bagi sekolah-sekolah itu melalui Instruksi Presiden (Inpres) sudah berakhir.


Sedangkan pembangunan bidang kesehatan diarahkan pada Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) karena sarana kesehatan inilah yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat di desa-desa terpencil di sepanjang tapal batas NTT dan Timtim.


Data Dinas Pendidikan Kabupaten Belu menjelaskan, jumlah Taman Kanak-Kanak di wilayah ini sebanyak 19 unit, 282 SD, 33 SLTP, 15 SLTA serta Akademi Keperawatan Pemkab Belu.


Data Dinas Kesehatan Belu menjelaskan, jumlah Puskesmas sebanyak 14 unit, 52 Puskesmas Pembantu, 91 Polindes, 11 Balai Pengobatan dan satu RSUD Atambua. (dik/ant)


 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Soal Penetapan Awal Ramadhan dan Hari Raya, Para Tokoh Tidak Sepakat, Mengikuti Suatu Sistem Tertent
Goyahnya Nasionalisme di Tengah Globalisasi
Kondisi Proses Belajar, Mengajar di NAD Menyedihkan
Pendidikan Lingkungan Hidup, Sebaiknya Diajarkan sejak Dini
Empat Universitas Adopsi, Teknologi Microsoft