Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 22 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
TNI Akan Restrukturisasi Koops, Enam GSA Tewas di Aceh Besar
[Politik dan Keamanan]

Jakarta, Pelita



Struktur Komando Operasi (Koops) yang menjalankan operasi militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) kemungkinan besar akan dilakukan perubahan organisasi. Restrukturisasi itu menjadi bagian dari evaluasi Mabes TNI terhadap pelaksanaan operasi militer.


Kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (18/7), Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto menjelaskan, restrukturisasi yang dimaksud bukan pada Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) tapi hanya Koops. Namun bukan pula dimaksudkan untuk mengganti Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Mayjen TNI Bambang Darmono.


"Tidak," tegas Panglima saat ditanya kemungkinan Bambang diganti.


Panglima juga menyatakan, akan menarik batalyon yang melakukan pelanggaran dalam operasi militer.


"Karena keberadaannya justru bukan menyelesaikan masalah Aceh tapi menambah permasalahan di sana. Kita selalu evaluasi kembali apakah perlu ditarik atau tidak. Terhadap mereka yang tak benar dalam bertugas akan kita akan tarik," kata Panglima.


Dikatakan evaluasi tersebut dilakukan untuk menilai optimalisasi kinerja Koops selama 2 bulan operasi militer di Aceh. Bila hasil evaluasi memutuskan kinerja tidak optimal maka TNI akan melakukan restrukturisasi.


"Kalau kita menganggap perlu dioptimasilisasi dengan perubahan organisasi ya akan kita lakukan. Tapi bukan PDMD tapi Koops," begitu Panglima.


Enam GSA tewas


Sementara itu dari Banda Aceh diberitakan, pertempuran di kawasan pegunungan di Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar antara TNI dengan pemberontak Gerakan Separatis Aceh (GSA), Kamis (18/7), mengakibatkan enam pemberontak dilaporkan tewas.


Komandan Korem 012/Teuku Umar Kolonel Inf Gerhan Lantara kepada pers di kawasan Cot Keueng, Kuta Baro atau sekitar 12 kilometer dari Kota Banda Aceh, kemarin menjelaskan, pasukan TNI berhasil menyita lima pucuk senjata api laras panjang (empat AK-47 dan sepucuk M-16 milik GSA).


Dalam baku tembak dengan pemberontak GSA itu, TNI mengerahkan kekuatan gabungan antara lain pasukan dari Yonif 509, Yonif 643, Yonif 312 dan pasukan Para Komando (parako).


Selain senjata, pasukan TNI juga menyita ratusan butir amunisi berbagai jenis senjata api milik anggota GSA tersebut di lokasi pertempuran, jelas Kolonel Gerhan Lantara.


Ia menjelaskan, pasukan gabungan TNI itu telah dikerahkan ke kawasan pegunungan tersebut selama empat hari, untuk melakukan pengendapan dan pengintaian aktivitas GSA.


Medan yang menjadi lokasi baku tembak yang cukup jauh dari pemukiman penduduk tersebut sangat sulit, karena terdiri atas bukit-bukit terjal dan hutan belantara.


Lebih lanjut, Kolonel Gerhan Lantara, menambahkan, pasukan TNI akan terus mengempur dan mendesak sejumlah kawasan yang dijadikan tempat persembunyian pemberontak GSA itu.


Sementara itu, pantauan Antara ketika hendak menuju lokasi pertempuran yakni di Desa Cot Keueng, Kecamatan Kuta Baro, terlihat cukup sepi, hanya terlihat sejumlah penduduk terutama kaum wanita.


Sejumlah wanita setengah baya yang dijumpai, menuturkan bahwa laki-laki dan para pemuda desa mereka banyak yang sudah ke kota (Banda Aceh -Red ) untuk berdagang.


Di kawasan Desa Cot Keueng, yang merupakan wilayah pertanian di Kabupaten Aceh Besar itu sebagian besar pintu rumah penduduk terkunci, seakan daerah tersebut tidak berpenghuni.


Akan tetapi, di pemukiman penduduk di Desa Cot Keueng itu tidak terlihat aparat keamanan. Lokasi kontak senjata antara GSA dengan pasukan TNI itu diperkirakan berjarak sekitar 6-7 kilometer dari pemukiman penduduk.


Catatan aparat keamanan, menunjukkan bahwa Kecamatan Kuta Baro yang berdekatan dengan komplek kampus Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry Darussalam itu, terutama kawasan Cot Keueng, termasuk salah satu wilayah basis GSA.


Kejar 14 GSA


Di Lhokseumawe, TNI/Polri masih mencari 14 anggota GSA yang menjadi target operasi di Desa Puson, Lhokseumawe, Aceh Utara.


"Ke-14 anggota GSA itu sering mengganggu keamanan di desa dengan menggunakan senjata," kata Dandim 0103/Lhokseumawe Letkol Inf Tatang Sulaeman seusai memimpin langsung penyisiran di Desa Nelayan Puson Lhok Seumawe, kemarin.


Tatang mengemukakan sebenarnya ada 15 orang yang menjadi target operasi, tetapi satu sudah ditangkap. Mereka tersebar di Desa Puson Lama tujuh orang, dan Puson Baru delapan orang.


"Semua yang menjadi target operasi kami berasal dari dua desa itu," katanya.


Setelah melakukan penyisiran dua kali, tertangkap Zulfikar dari 15 yang ditargetkan. "Selain itu kami juga menangkap tujuh lainnya yang dicurigai sering terlibat dalam GSA," kata Tatang.


Sementara itu keuchik/Kepala Desa Pusong M Ali TB mengatakan warga mulai dikumpulkan aparat seusai sholat subuh Jum'at pagi. Sekitar 7.000 warga dari kedua desa itu dikumpulkan di lapangan pengeringan ikan dan di halaman Masjid Al Azhar.


Dalam penyisiran tersebut aparat melakukan pemeriksaan atas 13 rumah yang dicurigai sebagai tempat tinggal anggota GSA. Ali mengaku tidak terlalu mengenal tujuh warganya yang dicurigai TNI/Polri sebagai anggota GSA.


Mereka selama ini meminta uang kepada masyarakat dengan intimidasi. Ali mengungkapkan sebelum pemberlakuan darurat militer para anggota GSA sering meminta uang antara Rp5-10 juta, namun sejak diberlakukan Darurat Militer,mereka tidak berani lagi. (ant/jon)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Aneh, Bantuan "Kecil" Dikaitkan dengan Timika, TNI Tak Mau Didikte AS
Kebakaran Landa Hutan di Perancis, Ribuan Warga Dievakuasi
Kemenangan Golkar Tergantung Calon Presidennya, Parpol Juga Bingung Sistem Politik
Mengenal Sosok Calon Presiden, Jusuf Kalla, "Joker" Andalan Golkar
Kebijakan KPU Tentang Pembagian Daerah Pemilihan, Masih Didominasi Parpol Besar