Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 03 September 2010  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kecerdasan Emosional Anak Penting Dikembangkan
[Agama dan Pendidikan]

Jakarta, Pelita



Pendidik dan Pemerhati masalah anak Dr Seto Mulyadi mengatakan kecerdasan emosional sangat penting dikembangkan karena sangat berpengaruh pada perkembangan prestasi diri anak tersebut.


"Betapa banyak kita jumpai anak-anak di mana mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun bila tidak dapat mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa atau angkuh dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat untuk dirinya," papar Seto yang biasa dipanggil Kak Seto pada Pelita, baru-baru ini.


Seto menjelaskan, kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada anak sejak dini. Karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.


Menurutnya, di samping IQ, ada suatu jenis kecerdasan yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya.


"Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang anak untuk bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan terdalam orang-orang di sekelilingnya, mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Semua ini termasuk kunci keberhasilan bagi seorang anak di masa depan," papar Seto.


Kecerdasan spiritual dapat menumbuhkan fungsi manusiawi seseorang sehingga membuat mereka menjadi kreatif luwes, berwawasan luas, spontan, dapat menghadapi perjuangan hidup, menghadapi kecemasan dan kekhawatiran, dapat menjembatani antara diri sendiri dan orang lain serta menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama.


"Peran orangtua dalam upaya menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual pada anak sangat penting. Sama pentingnya dalam upaya orangtua dalam menumbuhkembangkan potensi kecerdasan anak pada bidang yang lainnya," papar Seto.


Menurut Seto, suasana damai dan penuh kasih sayang di sekolah, di samping keluarga, contoh-contoh nyata berupa sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap disiplin dan penuh semangat, tidak mudah putus asa, lebih banyak tersenyum daripada cemberut, semua ini memungkinkan anak mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual maupun kecerdasan moralnya.


Seto menjelaskan, menurut Howard Gardner dalam bukunya yang berjudul "Multiple Intelligences", kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika-logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan inter-personal, kecerdasan intra-personal, dan kecerdasan naturalis.


Melalui konsepnya, kata Seto, mengenai kecerdasan multiple atau kecerdasan ganda ini, Gerdner ingin mengoreksi keterbatasan cara berfikir yang konvensional mengenai kecerdasan. Dimana kecerdasan seolah-olah hanya terbatas pada apa yang diukur oleh beberapa test intelegensi yang sempit saja, atau sekedar melihat prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan ujian di sekolah belaka.


Teori Gardner ini, kata Seto, kemudian dikembangkan dan juga semakin dilengkapi oleh para ahli lain. Diantaranya Daniel Goleman melalui bukunya yang terkenal "Emotional Intelligence" atau kecerdasan emosional.


"Selanjutnya oleh tokoh-tokoh seperti Sternberg dan Salovey, sebagaimana diungkapkan oleh Goleman, disebutkan adanya lima wilayah kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional yaitu kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan," papar Kak Seto. (len)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Masalah KB Bukan Lagi Urusan Perempuan
Tarmizi Taher: Pemerintah Jangan Lagi "Lahirkan Anak Haram"
Nekara Selayar: Dentingnya Terdengar Hingga ke Tanah Cina
Informasi Masuk Perguruan Tinggi
Dipastikan 2010 Indonesia Harus Sehat