Pendidik dan Pemerhati masalah anak Dr Seto Mulyadi mengatakan kecerdasan emosional sangat penting dikembangkan karena sangat berpengaruh pada perkembangan prestasi diri anak tersebut.
"Betapa banyak kita jumpai anak-anak di mana mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun bila tidak dapat mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa atau angkuh dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat untuk dirinya," papar Seto yang biasa dipanggil Kak Seto pada Pelita, baru-baru ini.
Seto menjelaskan, kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada anak sejak dini. Karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.
Menurutnya, di samping IQ, ada suatu jenis kecerdasan yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya.
"Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang anak untuk bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan terdalam orang-orang di sekelilingnya, mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Semua ini termasuk kunci keberhasilan bagi seorang anak di masa depan," papar Seto.
Kecerdasan spiritual dapat menumbuhkan fungsi manusiawi seseorang sehingga membuat mereka menjadi kreatif luwes, berwawasan luas, spontan, dapat menghadapi perjuangan hidup, menghadapi kecemasan dan kekhawatiran, dapat menjembatani antara diri sendiri dan orang lain serta menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama.
"Peran orangtua dalam upaya menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual pada anak sangat penting. Sama pentingnya dalam upaya orangtua dalam menumbuhkembangkan potensi kecerdasan anak pada bidang yang lainnya," papar Seto.
Menurut Seto, suasana damai dan penuh kasih sayang di sekolah, di samping keluarga, contoh-contoh nyata berupa sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap disiplin dan penuh semangat, tidak mudah putus asa, lebih banyak tersenyum daripada cemberut, semua ini memungkinkan anak mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual maupun kecerdasan moralnya.
Seto menjelaskan, menurut Howard Gardner dalam bukunya yang berjudul "Multiple Intelligences", kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika-logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan inter-personal, kecerdasan intra-personal, dan kecerdasan naturalis.
Melalui konsepnya, kata Seto, mengenai kecerdasan multiple atau kecerdasan ganda ini, Gerdner ingin mengoreksi keterbatasan cara berfikir yang konvensional mengenai kecerdasan. Dimana kecerdasan seolah-olah hanya terbatas pada apa yang diukur oleh beberapa test intelegensi yang sempit saja, atau sekedar melihat prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan ujian di sekolah belaka.
Teori Gardner ini, kata Seto, kemudian dikembangkan dan juga semakin dilengkapi oleh para ahli lain. Diantaranya Daniel Goleman melalui bukunya yang terkenal "Emotional Intelligence" atau kecerdasan emosional.
"Selanjutnya oleh tokoh-tokoh seperti Sternberg dan Salovey, sebagaimana diungkapkan oleh Goleman, disebutkan adanya lima wilayah kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional yaitu kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan," papar Kak Seto. (len)