Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 21 Agustus 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Untuk Selamat dari Kehancuran Indonesia Butuh Pimpinan Terbaik
[Agama dan Pendidikan]

Bandung, Pelita



Indonesia membutuhkan pemimpin terbaik untuk menyelamatkannya dari kehancuran. Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 harus menghasilkan pemimpin terbaik untuk mengantarkan bangsa Indonesia sebagai pemimpin di antara bangsa-bangsa di dunia. Kalau Pemilu 2004 gagal memilih pemimpin terbaik, Indonesia akan hancur bahkan mungkin Indonesia tidak ada lagi di peta dunia.


Sosialisasi calon Presiden melalui Konvensi Partai Golkar, di Bandung, Selasa (2/9) menampilkan sejumlah tokoh seperti Akbar Tandjung, Tutty Alawiyah, Thabrani Rab, Wiranto, Kemala Motik Gafur, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Putaran terakhir menampilkan R Muhono, Marwah Daud Ibrahim, dan Haryono Suyono.


Haryono Suyono mengusung 10 agenda utama di antaranya agenda reformasi sebagai proses pembaruan yang sambung menyambung. Untuk itu rekonsiliasi guna mencapai konsensus nasional perlu segera untuk mempertahankan sendi-sendi kehidupan negara.


"Reformasi dan pembangunan harus menempatkan manusia Indonesia sebagai titik sentralnya," kata Haryono sambil menegaskan, pemberdayaan sumber daya manusia dengan tujuan agar setiap penduduk mendapat dukungan pemberdayaan sesuai bakat, aspirasi dan ketersediaan lapangan kerja atau menyiapkan lapangan kerja secara mandiri.


Akbar Tandjung dan Tuty Alawiyah yang tampil memaparkan visi dan misinya dalam sesi pertama mengatakan bahwa krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 sebenarnya bukanlah monopoli bangsa Indonesia. Hampir semua bangsa mengalami hal yang sama, termasuk negara-negara tetangga di lingkungan ASEAN. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa kalau Malaysia, Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya bisa segera keluar dari krisis, sementara Indonesia malah megalami krisis multidimensi yang berkepanjangan hingga sekarang ini.


Ironisnya lagi, disaat negara-negara tetangga sudah bisa keluar dari krisis dan terus membangun, Indonesia malah sebaliknya sibuk menjual satu persatu aset yang sudah dimiliki. Rakyat pun makin terpuruk, pengangguran makin bertumpuk, sementara praktik-praktik KKN yang sebelumnya banyak dicela, malah makin merajalela. "Pemerintahan kita sekarang ini tidak saja kehilangan kewibawaan, tapi sekaligus sudah kehilangan nurani kemanusiaan," kata Tuty Alawiyah.


Sementara menurut Akbar, masih sulitnya Indonesia keluar dari krisis yang berkepanjangan selama ini disebabkan berbagai faktor. Salah satu di antaranya karena pemerintah sendiri tidak mampu melaksanakan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan secara konsisten. Itu bisa dilihat dari KKN yang makin menjadi-jadi, bahkan melebihi dari apa yang pernah terjadi sebelumnya. Kalau sebelumnya mencaci-maki praktik-praktik yang berkaitan dengan KKN, sekarang justru malah ikut melibatkan diri di dalamnya.


Krisis kewibawan kepemimpinan juga menjadi penyebab lain hingga merosotnya disiplin nasional serta terjadinya konflik horisontal. Suasana yang tidak kondusif tidak saja membuat ketakutan para investor, namun juga membuat risiko orang datang ke Indonesia pun makin tinggi. Kemajemukan yang ada di bangsa ini tidak dapat dijadikan kekuatan, namun sebaliknya menjadi sumber konflik.


Acara sosialisasi Capres Golkar yang berlangsung di Hotel Papandayan Bandung kemarin juga memberi nuansa yang membuat hangat suasana terutama ketika Prof DR KH Nurullah Marzuki dan Sri Sultan tampil menyampaikan visi dan misinya. Nurullah Marzuki yang tampil dalam sesi pertama mengemukakan bahwa sebenarnya tanpa mencalonkan diri sebagai Presiden dari Partai Golkar, dia sekarang ini sudah Presiden yakni sebagai Presiden Ikatan Paranormal Indonesia.


Namun menurut ahli pengobatan alternatif ini, meskipun dia tidak terpilih nanti jadi Presiden Indonesia, tidak bakal mundur dari Partai Golkar. "Bersama puluhan juta paranomral di Indonesia, saya sudah siap berada di Golkar sekaligus untuk memenangkan Partai Berlambang Pohon Beringin pada Pemilu 2004," katanya mantap.


Sementara Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan tegas mengatakan sangat tidak tepat kalau pemerintahan yang menyebut dirinya reformis sekarang selalu mengkambinghitamkan pemerintahan Partai Golkar sebagai penyebab kemelut yang berkepanjangan sekarang ini. "Itu tidak fair," katanya.


Sedangkan Wiranto mengatakan bahwa untuk memperbaiki nasib rakyat harus dimulai bagaimana memperbaiki pemerintahan. Bagaimana pemerintah mau memperbaiki nasib rakyat yang kini semakin kolaps sementara pemerintahnya terjebak pada dishamoni, disorientasi dan saling menyalahkan.


Pemerintah harus mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di negeri ini dan yang diharapkan rakyat. Dari situlah pemerintah bisa mengadopsi apa yang diharapkan rakyat.


Karenanya yang dibutuhkan bangsa ini adalah pemimpin nasional yang benar-benar memiliki pengalaman, bukan yang asal asalan dari jalanan. Bagaimana bangsa ini keluar dari krisis sementara rakyat akrab dengan kekacauan dan terus dipaksa dengan ketidakpastian hukum, "Kini saatnya Golkar tampil memperbarui pemerintahan untuk memperbaiki nasib rakyat dan bangsa ini dari keterpurukan yang berkepanjangan," kata Wiranto. (djo)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Musyawarah II Iluni FTUI, Aswil Berupaya Memperkuat Jaringan
Kerupuk Situbondo Mempersatukan Warga
Sari Kelapa Tunjang SMK 1 Pandak
Pesta Rakyat yang Tumbuhkan Gotong-Royong
SMK 1 Pandak Bantul Terapkan Usaha Mandiri