Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 24 Juli 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
"Pahitnya" Petani Kulit Kayu Manis Jambi
[Opini]






Oleh M Tohamaksun



Komoditi kulit kayu manis (cassiavera), secara turun-temurun di masa lalu menjadi andalan para petani pada beberapa kabupaten di Provinsi Jambi.


Banyak petani tradisional, terutama di Kabupaten Kerinci, sekitar 418 KM barat Kota Jambi yang jadi "kaya mendadak" sehingga bisa menunaikan ibadah haji karena "si-kayu manis" itu.


Hingga kini pun, sebenarnya sebagian besar atau sekitar 60 persen ekspor komoditi kulit kayu manis Indonesia berasal dari Provinsi Jambi.


Namun apa yang terjadi sekarang, para petani tanaman tersebut kian merana akibat "terpukul" oleh anjloknya harga komoditi tersebut.


Petani kayu manis Jambi sudah lama "menjerit", namun berbagai komponen pemerintah dinilai lambat merespons nasib mereka yang sedang "pahit" itu, banyak pihak pula yang menuding pemerintah setempat bersama instansi terkaitnya tidak tanggap terhadap nasib mereka.


Para petani kulit kayu manis di Kabupaten Kerinci Jambi misalnya, hingga kini masih sabar menunggu harga hasil panennya membaik, dengan hanya menjual kulit manis dari ranting-rantingnya saja guna menutupi kebutuhan sehari-hari, sedang pohon utamanya tetap dipelihara.


Salah seorang warga Kerinci Jambi, Agus (38) mengatakan, harga kulit manis di daerahnya kini sangat rendah, yaitu sekitar Rp2.000 sampai dengan Rp2.500/Kg.


Harga itu jauh di bawah harga tertinggi beberapa tahun lalu yang mencapai sekitar Rp9.000 sampai Rp10.000/Kg.


Agus bersama sejumlah petani lainnya mengaku masih sayang menjual habis kayu manis miliknya, karena itu sambil menunggu harga membaik kebunnya tetap dipelihara.


"Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti membeli lauk-pauk kami terpaksa menjual kulit manis yang diambil dari ranting-rantingnya saja," ujarnya.


Karena itu ia mengharapkan kepada pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi serta pusat memperhatikan nasibnya, dengan memperjuangkan agar harga komoditi hasil panennya membaik.


Para petani di Kabupaten Kerinci Jambi setiap tahunnya mampu memproduksi komoditi kulit kayu manis sekitar 20.000 ton, namun tata niaga dan harganya masih ditetapkan pedagang besar dan pengumpul, yang sebagian besar dari Padang, Sumatera Barat.


Bupati Kerinci, Fauzi Si'in pernah mengatakan, tata niaga harga yang sebagian besar ditetapkan oleh para pedagang besar dan pengumpul itu hingga kini menjadi persoalan yang sulit teratasi.


Produksi kulit manis yang telah dikupas dan dikeringkan itu, pada tahun 2001 sedikit menurun (18.262 ton dari luas tanaman 47.385 hektare) akibat anjloknya harga pada tingkat petani.


Pada 2002 kembali meningkat jadi 20.867 ton, dengan luas tanaman 50.778 ha, dengan harga rata-rata Rp2.000/Kg, sedangkan harga di pasaran luar negeri berkisar antara Rp50.000 sampai Rp80.000/Kg.



Keluar daerah



Fauzi Siin mengatakan, produk cassiavera petani Kerinci itu selama ini banyak yang 'lari' ke Sumbar, karena daerah tetangga itu memiliki pelabuhan ekspor yang lebih dekat dibandingkan ke pantai Timur Jambi. Pengusaha kulit manis asal Minangkabau itu selama ini memiliki jaringan internasional yang cukup kuat.


Cassiavera asal Kerinci itu selama ini sebagian besar diekspor melalui Sumbar, tujuan utamanya negara-negara Eropa.


Kabupaten Kerinci menjadi sentra produksi kulit kayu manis terbesar, bahkan selama ini memasok sekitar 60 persen kebutuhan dunia, sisanya dipasok oleh Vietnam.


Sebaliknya, kepedulian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terhadap para petani kulit manis (Cassiavera) di Provinsi Jambi dirasakan masih minim


Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi, Nasrun Arbain mengatakan, petani Cassiavera, khususnya di Kab.Kerinci dan Merangin, kini 'menderita' akibat anjloknya harga itu.


Sementara mekanisme pasarnya selama ini hanya dikuasai para pedagang antar provinsi, sehingga harganya dengan leluasa 'ditekan' mereka sendiri, sementara petani dirugikan.


Hal itu terbukti, karena harga cassiavera sampai saat ini tidak lebih dari Rp2.000/Kg, namun penjulan di tingkat pengumpul hingga ke tangan eksportir bisa mencapai lima kali lipat.


"Dengan demikian yang untung hanya pedagang pengumpul/eksportir, sementara petani sama sekali tidak menikmati keuntungan," katanya.


Untuk membantu para petani cassiavera itu, HKTI Jambi menyarankan pemerintah dan instansi terkait agar membangun industri pengolahan di daerah sentra produksi.


Selain itu perlu dana 'talangan' untuk menampung hasil petani melalui BUMD, pengaturan jadwal panen, serta membangun kerjasama antara Provinsi Jambi dengan Sumatera Barat melalui Kadinda.



Diversifikasi



Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jambi ternyata mengalami kesulitan memantau perkembangan volume dan perolehan devisa ekspor komoditi kulit kayu manis itu.


Kadisperindag Jambi, Ir Asianto Marsaid mengatakan, sulitnya memantau perkembangan realisasi ekspor kulit manis itu karena komoditi itu umumnya dibeli para pedagang luar daerah dan tidak diekspor lewat Jambi, tetapi melalui Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumsel dan Sumut.


"Kulit manis Jambi banyak diekspor melalui Sumbar, karena sentranya berada di Kabupaten Kerinci yang letaknya lebih dekat dengan Sumbar dari pada ke lokasi pelabuhan di Jambi bagian Timur," katanya.


Asianto didampingi Kasubdin Perdagangan Luar Negeri (PLN)-nya, Amril Madjid mengatakan, pihaknya juga tidak mendapatkan pasokan data secara rutin tentang jumlah kulit kayu manis yang diekspor dari Jambi melalui provinsi tetangga itu.


Hal itu juga karena produksi kulit manis hasil panen petani setempat banyak yang langsung dibeli pedagang, yang merupakan kepanjangan tangan para eksportir dari Padang yang langsung membeli ke lokasi perkebunan kayu manis milik petani itu.


Selain kulit kayu manis, Kabupaten Kerinci merupakan sentra produksi komoditi teh, kopi serta padi.


"Bahkan sekitar 60 persen total ekspor Cassiavera Indonesia merupakan produksi Jambi," katanya tanpa menyebutkan secara rinci total produksi dan volume ekspor komoditi tersebut setiap tahunnya.


Banyaknya komoditi asal Kerinci yang diekspor lewat Sumbar itu selain karena lokasinya lebih dekat dengan Padang, jarak tempuhnya juga lebih dekat cepat ke Padang sekitar tiga sampai empat jam dibandingkan harus ke Jambi yang mencapai sekitar 10 jam.


Berdasarkan data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, daerah itu memiliki luas areal perkebunan kayu manis sekitar 45.300 hektare, dengan produksi sekitar 15.000 ton/tahun.


Khusus di Kabupaten Kerinci, tercatat luas areal tanaman kayu manis 5.241 hektare, dengan produksi sekitar 2.400 ton, rata-rata produksi 949,58 Kg/hektare, diusahakan oleh lebih kurang 2.100 petani.


Namun para petani kulit manis di Provinsi Jambi, dalam beberapa tahun terakhir terpuruk karena harga kulit manis yang terus anjlok, yaitu antara Rp7.000 sampai Rp10.000/Kg pada 1999, kini hanya sekitar Rp1.500 hingga Rp2.500/Kg di tingkat petani.


Kadis Perindag Jambi mengakui pula pihaknya tidak bisa mengkses data riil realisasi ekspor kulit manis Jambi yang dipasarkan ke manca negara melalui tiga provinsi tadi, karena yang mendata adalah BPS.


"Kita hanya mendata komditi ekspor yang diekspor lewat Jambi berdasarkan laporan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) di pelabuhan oleh Bea dan Cukai, sedangkan untuk data secara keseluruhan yang menangani pihak BPS," kata Asianto.


Untuk mengubah nasib dari keterpurukan yang terus-menerus, sejumlah petani kulit kayu manis di Kerinci Jambi kini "beralih profesi", diantaranya memproduksi sirup yang bahan bakunya berasal dari kulit manis.


Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (PPK) Kabupaten Kerinci, M Rahman mengatakan, akibat anjloknya harga kulit manis itu, para petani berupaya meningkatkan pendapatan dengan mengolah kulit manis menjadi sirup atau melakukan diversifikasi.


"Sirup Cassiavera merupakan salah satu solusi untuk membantu petani -mendongkrak- harga kulit manis yang kini anjlok," katanya.


Dari hasil penelitian dan uji coba, sirup Cassiavera mengandung kadar vitamin dan mineral.


Hasil penelitian Biotrop oleh Balai POM Diskes dan Sucovindo Jambi di Jakarta, sirup Cassiavera mengandung 14 macam vitamin dan mineral, yang berguna meningkatkan kesehatan dan vitalitas.


Kulit manis banyak kegunaannya, seperti untuk campuran bahan baku makanan, minuman, obat-obatan dan bahan baku industri lainnya. (ant)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Membangun Sentimen Negatif Atas Terorisme
BKKBN Rangkul IBI Mantabkan Pelayanan Akseptor
Mampukah AIPO Pecahkan Persoalan Kawasan?
Sukhoi dan Gaplek dalam Perspektif Pertahanan Negara
Rusia Bisa Kembalikan Wibawa Lewat Arab Saudi