Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 26 Nopember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Menengok Panti Laras (Penampungan Orang Gila) Cipayung Gubernur Heran, Orang Gila Fasih Bahasa Ingri
[Metropolitan]





PENDERITA sakit jiwa atau yang biasa disebut orang gila kerap ditakutkan masyarakat bahkan diasingkan. Ketakutan itu boleh jadi mereka yang terganggu kejiwaannya ini kerap lepas kontrol dan menyerang orang di sekitarnya termasuk orang dekat sekali pun hingga mencederakan dan menghilangkan nyawa.


Seorang laki-laki tanpa busana sehelai pun duduk termenung di halaman Panti Laras Cipayung Ceger Jakarta Timur. Kedua kakinya dirantai dengan besi yang berat dan tidak memungkinkan dirinya berlari. "Dia dari Kosambih. Dia dititipkan di sini setelah menyembelih bapaknya," kata Kepala Panti Laras Cipayung Budiman Taufik.


Budiman mengatakan lelaki itu terpaksa dipisahkan dengan teman-temannya karena kondisinya sudah sangat parah. Berbagai obat penenang sudah tidak mempan lagi suntikkan dalam tubuhnya. "Dia sudah kebal obat, jadi terpaksa kita rantai agar tidak menyerang yang lain," papar Budiman.


Sebagai pengelola panti, Budiman setidaknya mengasuh lebih dari 300 penderita sakit jiwa dari yang taraf ringan hingga stres berat. Penderita sakit jiwa yang dikategorikan berat itu, menurut Budiman, tergolong cukup berbahaya.


Uniknya, mereka yang tergolong stres berat ini tidak bersedia menggunakan pakaian. "Mereka lebih suka telanjang. Kalau kita paksa pakaikan baju pasti langsung dibuka atau disobek-sobek, bahkan dimakan," tutur Budiman.


Pamerkan bahasa Inggris dan Perancis


Akan tetapi tidak semua penderita sakit jiwa menakutkan seperti yang dijelaskan Budiman tadi. Ada seorang penghuni Panti Laras Cipayung yang berhasil mencuri perhatian Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso saat meninjau Panti Laras Cipayung, Jum'at (03/10).


Saat rombongan melintas, tiba-tiba seorang perempuan menyeruak dan petugas panti laras memberi tahu perempuan berusia 28 tahun itu bernama Defina menguasai bahasa Perancis dan Inggris. Semula pandangan meragukan tertuju kepada Defina, tapi begitu gubernur memintanya memamerkan kemampuannya semuanya pun terbelalak.


Dengan fasih Defina memperkenalkan dirinya dalam bahasa Perancis. Begitu pun ketika gubernur meminta Defina untuk memamerkan kemampuannya berbahasa Inggris. "I have student in IKIP Rawamangun. I'm from Karawang (saya mahasiswi IKIP Rawamangun. Saya berasal dari Karawang--Red)," ujar Defina.


Gubernur dan Defina pun terlibat percakapan dalam bahasa Inggris."Why you stay here (kenapa kamu di sini--Red)," tanya gubernur kepada Defina. Dengan lancar Defina menjawab, "I can't get a work to eating. My mother only give me Rp5.000 one day (saya tidak dapat pekerjaan. Ibu saya hanya memberi saya Rp5.000 sehari--Red)."


Dalam bahasa Inggris Defina dengan lancar menjelaskan dirinya telah enam bulan berada di panti. Ketika gubernur berseloroh, "I want to study French with you (saya ingin belajar bahasa Perancis dari kamu--Red)." Defina langsung menolaknya. "Ohh, I don't have time (saya tidak punya waktu--red)," seloroh Defina.


Ungkapan dari kebon binatang


Jawaban polos Defina langsung mengundang tawa rombongan di antaranya Walikota Jakarta Timur Koesnan Halim, dan pejabat Dinas Bintal dan Kesos DKI Jakarta di antaranya Kepala Dinas Bintal Kesos Syarifudin Mahfud dan Kabag TU Sasmita.


Menurut Budiman, Defina merupakan pasien RSCM yang dititipkan ke panti karena orang tuanya tidak sanggup lagi mengurusnya. Defina ditinggalkan keluarganya yang tidak mampu lagi mengeluarkan biaya untuk mengobati Defina yang tidak kunjung sembuh.


Dalam kesehariannya, Defina adalah salah satu penghuni panti yang tidak berbahaya. "Jika kumat, paling dia hanya mencaci maki orang. Ungkapan dari Kebon Binatang keluar semua," papar Budiman.


Sayangnya, kata Budiman, tidak ada riwayat hidup tentang Defina dari RSCM sehingga tidak diketahui penyebab gangguan jiwa pada Defina. Keterampilan berbahasa Inggris dan Perancis diperoleh Defina saat menimba ilmu di IKIP Rawamangun jurusan sastra Perancis.


Sama dengan penghuni panti laras lainnya, perkembangan Defina pun sangat lamban. Tidak seperti panti sosial lainnya yang memiliki paramater yang pasti, panti laras sulit untuk mengindentifikasi kesembuhan penderita sakit jiwa. "Mungkin hanya secara medis yang bisa, tapi penderita sakit jiwa ini suka kambuh lagi ketika sudah dinyatakan sembuh," tuturnya.


Untuk menanganinya, dibutuhkan kesabaran ekstra. Khususnya dari petugas panti laras. 32 orang pegawai panti laras bekerja 24 jam yang dibagi dalam dua shift. Suhemi, yang telah 12 tahun mengabdi sebagai pegawai panti laras mengaku telah mengenyam asam garam berhubungan dengan penderita sakit jiwa.


Digigit orang gila


Pengalaman buruk seperti diserang, digigit, atau dipukul sudah menjadi hal biasa buatnya. "Pernah saya mau nyuntik pasien yang ngamuk, suntiknya malah diambil dan disuntikan ke saya. Saya mau mandiin pake selang malah selangnya diambil terus diguyur ke saya, ini sudah biasa buat saya," tutur Suhemi.


Menurutnya, untuk menghadapi penderita sakit jiwa yang menyerang dia tidak boleh melawan karena pasti akan kalah. Jika hanya dipukul Suhemi akan diam saja dan pergi tapi jika sudah mengamuk dia akan langsung minta bantuan rekan-rekannya untuk memberikan obat penenang.


Setiap harinya, Suhemi bekerja mulai pukul 05.30 WIB hingga sore hari. Tugasnya adalah memandikan penderita sakit jiwa, yang bisa mandi sendiri hanya diawasi sementara yang tidak akan dimandikan massal dengan cara dibariskan ke samping kemudian disemprot dengan selang.


Begitu pun waktu makan, mereka yang bisa makan sendiri hanya diawasi sementara yang tidak terpaksa disuapi dengan telaten. Para penderita sakit jiwa ini tergolong menolak untuk makan terutama mereka yang stres berat harus dibujuk dengan sabar. Jika tidak, makanan yang diberikan akan dilemparkannya ke lantai atau ke teman sendiri maupun petugas.


Tidak terbayangkan kesabaran yang harus dimiliki petugas panti untuk menangani para penderita sakit jiwa. Tak banyak yang rela mengabdikan diri untuk merawat orang yang tersisihkan dari masyarakat. Sebagai Dinas Sosial, unit ini adalah unit yang paling mulia. Mereka tulang punggung orang-orang terlantar di Jakarta. Semoga pengabdian mereka bisa menjadi cermin agar masyarakat mau ikut berpartisipasi.(elly anisyah)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Kadis Bintal Kesos DKI: Orang Gila, Aset Pemda "Sampai Mati"
KILAS KOTA & KRIMINAL
Seribu Anggota FBR "Menyerbu" Mapolres Jakarta Timur, Gubernur Ingatkan FBR Jangan Bela yang Salah
Jelang Ramadhan, 300.000 PMKS Bakal Serbu Jakarta, Gambir dan Masjid Istiqlal Akan Jadi Sasaran Oper
Dituntut 12 Bulan, Desmond WNA, Singapura Justru Mengaku Ditipu