Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 03 September 2010  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Dari Mudik Kultural ke Mudik Spiritual
[Opini]






Oleh Munawar AM



Dari perspektif teori kependudukan diketahui bahwa gelombang terjadinya urbanisasi terutama distimulir oleh faktor ekonomi. Dalam jeda pencarian kebutuhan hidup, dan ini hampir pasti sudah menjadi tradisi dan budaya, ada saat di mana komunitas urban sampai pada titik di mana mereka harus kembali ke daerah asal barang sejenak, untuk kemudian kembali lagi ke kota utuk alasan yang sama; memenuhi tuntutan ekonomi.


Proses kembalinya komunitas urban secara kolektif hampir pasti terjadi pada saat Hari Raya Idul Fitri tiba. Proses ini lazim disebut dengan mudik, yang dalam arti harfiyah berarti "kembali ke udik" (kampung halaman). Bagi komunitas urban yang pemudik itu, mudik Idul Fitri telah menjadi agenda tahunan, dan entah mengapa, mudik secara kolektif tidak terjadi pada hari-hari libur nasional, atau hari-hari libur keagamaan lainnya. Atau demikian, bahwa mudik utamanya terjadi di lingkungan masyarakat (pulau) Jawa, dan kurang begitu kental di luar masyarakat Jawa. Hal ini boleh jadi didukung dengan kenyataan bahwa komunitas pemudik memang didominasi oleh masyarakat di (pulau) Jawa. Kesibukan pemantauan arus mudik misalnya, masih di dominasi pada titik-titik tertentu di sepanjang pulau Jawa. Mudik menjadi terkesan khas Jawa, dalam pandangan budayawa Jacob Sumardjo (2001) diakibatkan oleh kultur masyarakat Jawa yang disebutnya sebagai "masyarakat sawah". Dahulu, "masyarakat sawah" dicirikan oleh aspek lokalitas. Di sepanjang pelosok provinsi Lampung misalnya, ciri lokalitas masyarakat Jawa sangat mudah ditemui. Di Kota besar seperti Jakarta misalnya, lokalitas juga tampak dalam kesatuan tempat tinggal sebagai dasar tumbuhnya nilai-nilai sosial, termasuk solidaritas.


Hal itu terjadi karena untuk "bersawah", sering didahului dengan "babat alas" (membuka hutan) yang tidak bisa dilakukan secara individu, sebaliknya memerlukan tenaga yang besar (sebelum teknologi pertanian muncul). Untuk melengkapi keperluannya, secara kolektif pula dibangunlah saluran-saluran irigasi, cara bertanam beramai-ramai, mencegah serangan hama dan menuai panen.


Dalam menuai panen, sering didahului dengan upacara-upacara yang bernuansa religi. Upacara bernuansa religi tidak hanya dalam konteks "religi sawah" melainkan sangat kental pula dalam tradisi gotong royong, kerja bakti, bersih desa hingga ziarah dan bersih makam. Yang disebut belakangan masih sering dijumpai menjelang datangnya bulan Ramadhan (nyadran), atau menjelang Idul Fitri tiba. Pada peristiwa yang terakhir itu, komunitas pemudik sudah bisa ditemui di sana. Penghormatan atas leluhur di atas makamnya hanya bagian kecil saja dari kultur bagaimana masyarakat Jawa masuk dalam lingkaran "mudik" kultural dalam pengertian luas.


Bagian kecil lain jelas; bahwa penghormatan itu ditujukan oleh komunitas pemudik kepada sanak famili, kerabat dan keluarganya persis di hari Raya Idul Fitri. Dalam nuansa tersebut, ciri lokalitas kemudian masih sangat mungkin bisa ditemukan, meski sudah terjadi pergeseran dalam hal bahasa maupun gaya hidupnya akibat persinggungan kultur kehidupan di kota.


Jika ditelusuri lebih lanjut, konteks mudik telah mengalami polarisasi di tingkat pelaku; di mana mudik (Idul Fitri) tidaklah khas milik umat Islam (di Jawa khususnya), melainkan milik seluruh bangsa, utamanya komunitas urban. Jadi, tidak bisa dikategorikan bahwa mudik semata-mata milik komunitas "pedesaan" (meski dominan) semata yang tinggal di kota-kota besar, melainkan juga milik komunitas urban kelas menengah (muslim maupun non muslim) bahkan kelas menengah ke atas.


Mudik Spiritual Idul Fitri dalam konteks spiritual bisa dikatakan sebagai puncak "bersih diri" sehingga sifatnya--dalam konteks "masyarakat sawah" di atas--tidak lagi kolektif dan tidak mengenal lokalitas secara kultural, melainkan bersifat spiritual-individual, dan berlaku bagi setiap muslim tanpa memandang sekat-sekat kesukuan. Idul Fitri, yang berarti "kembali kepada fitrah kesucian manusia" secara metafisis bagi seorang Muslim pada prinsipnya bersyarat. Salah satunya adalah dengan melakukan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh --puasa dalam konteks ini bisa dikategorikan sebagai tangga yang harus ditempuh dalam proses "mudik spiritual" yang berpuncak pada Idul Fitri (bersih diri). Mudik spiritual dalam dalam makna yang demikian tidak berlaku, atau nonsens bagi orang yang tidak melaksanakan puasa Ramadhan. Hal-hal terkait bisa dikemukakan di sini. Pertama, ibadah dan puasa Ramadhan memiliki nilai lebih dibanding bulan-bulan lainnya. Latihan-latihan spiritual sarat dilakukan di bulan ini, sebagai latihan dasar untuk menempuh hal yang sama untuk dilaksanakan di bulan-bulan selain bulan Ramadhan. Ini sekaligus untuk menghindarkan diri dari watak kesalehan simbolis, watak ojo-dumeh atau kemaruk beribadah, sehingga ibadah dilaksanakan selama Ramadhan suntuk. Jika demikian, maka ibadah tidak akan meninggalkan apapun kecuali kesan "pamer".


Kedua, dalam situasi "lapar dan dahaga" tercermin bahwa pola hidup sederhana, menjadi daya tawar bagi terciptanya pribadi-pribadi muslim yang berkepedulian terhadap sesama dan berwawasan sosial. Di sini, nilai implementatif zakat fitrah (salah satu kata kunci "bersih diri") bisa ditemukan titik singgungnya. Pola-pola konsumtifisme seharusnya bisa diminimalisir, sungguh pun untuk menopang hal itu, dari segi ekonomi finansial berkecukupan.


Ketiga, puncak puasa Ramadhan adalah Idul Fitri, tercapainya kembali kondisi fitrah kemanusiaan. Sekembalinya kita pada posisi "fitrah" meniscayakan hilangnya pola-pola dan cara-cara destruksi. Kondisi fitrah-bersih diri mengajari kita akan etika berperikehidupan yang manusiawi, untuk membedakannya dengan perikehidupan hewani, yang destruktif, dekaden dan amoral.


Kondisi Fitrah juga mengajari kembali kepada kita akan "pandangan dunia" tauhid yang memiliki implikasi kesatuan keterciptaan, kemanusiaan, keumatan, tindakan dan tujuan kehidupan. Pola-pola pemecahbelahan keumatan, di hadapan "pandangan dunia" tauhid, terbukti hanya akan menjauhkan umat dari kesadaran akan pentingnya transformasi nilai-nilai sosial Islam.


Dalam puasa pula, ditekankan sejauh mana seseorang mampu menapaki tangga-tangga pembersihan diri menuju fitrah sebagaimana dijanjikan oleh bulan Ramadhan, yaitu tangga-tangga rahmah, maghfirah dan itqun min Al-Nar. Dengan demikian, berpuasa


sebulan penuh pun sebenarnya belum merupakan jaminan bahwa seseorang berhasil memasuki kembali (arti harfiah dari Id) garis finish lambang kemenangan dan keberhasilan menjaga kondisi fitrahnya sehingga seseorang berhak menyandang sebagai muttaqien --orang yang bertakwa sebagai tujuan puasa Ramadhan.


Fitrah yang merupakan kodrat manusia semenjak lahir menggambarkan keadaan suci-asali manusia yang secara ruhani berkecukupan (contentment) dan selalu ada dalam kesadaran berketuhanan (Gods Consciousnes). Kondisi Fitrah adalah keadaan manusia di mana dirinya sepenuh hati berada dalam kesadaran bahwa Tuhan selalu hadir dalam dirinya, dan bahwa kemana pun engkau menghadapkan wajah, di situ ada wajah Tuhan (Rahman, 1994).


Dengan demikian, hanya jika manusia berada dalam "kesadaran berketuhanan" lah keadaan fitrahnya dapat ia raih, pahami dan rasakan. Hal itu bisa kita pahami dan rasakan terutama ketika berada dalam kesendirian, atau ketika berada di segenap segmen kehidupan dan di "jalan-jalan" yang menuju ke arah pembumian etika dan tindakan Ktuhanan.


Ketika pikiran kita mulai tenang, ketika bisa mengatasi diri dari kesibukkan adi-duniawi dan hingar bingar nuansa materialisme, akan terdengar suara nurani yang mengajak kita untuk berdialog, mendekat bahkan menyatu dengan suatu totalitas wujud Yang Maha Hadir (The Omnipresent), yaitu Tuhan.


Kesadaran yang demikian itu akan mengantarkan kita pada usaha untuk menyadari ebih lanjut betapa lemahnya kita sebagai manusia di hadapan-Nya, dan betapa ekuasaan dan keperkasaan-Nya yang melintasi ruang dan waktu. Suara yang terdengar tu adalah suara fitrah kemanusiaan; suara kesucian-kemanusiaan. Suara itulah yang dikumandangkan pada setiap saat diri kita menghadap keharibaan-Nya, dan suara-suara Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Walillahi Alhamd yang dikumandangankan saat perayaan Idul Fitri. (Munawar AM adalah penulis lepas, tinggal di Cilacap)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Banjir dan Longsor Bayangi Pemudik Jatim?
Pemerintahan yang Amanah
Berderma Melalui Zakat
Perang Rampas Hak Anak Aceh, (Cermatan di Peringatan Hari Konvensi Hak Anak, 20 November)
Potensi Kekerasan di Bekas Daerah Konflik