|
[Hiburan] Mainan Yo-Yo Mengantarkan Rosgana Menembus Dunia dan Meraup Dolar
MUNGKIN tak pernah terlintas dibenak Oke Rosgana, jika Yo-Yo yang semula dianggap hanya mainan anak kecil, kini telah mengubah jalan hidupnya. Tidak hanya mencatatkan diri sebagai pemain Yo-Yo profesional pertama di Indonesia, pria kelahiran Bandung 31 tahun ini pun kini berhasil meraup dolar dari hasil karyanya mendesain Yo-Yo. Bahkan, sebuah media sempat menobatkannya sebagai \"Bapak Yo-Yo Indonesia.\"
Tidak ada kata terlambat untuk belajar, adalah salah satu prinsip yang dipegang Ros saat pertama kali belajar bermain Yo-Yo. Di usianya yang bukan anak-anak lagi, Ros tak malu untuk menekuni keahlian bermain Yo-Yo. Awalnya, dia hanya terpukau dengan penampilan pemain Yo-Yo dunia Hans Dan Van Elzen dan Kate Miller yang beraksi di Bandung pada pertengahan tahun 2000. Saat itu, Ros yang masih berstatus mahasiswa Fakultas Seni Rupa ITB begitu terpesona dengan daya tarik Yo-Yo.
Dengan kegigihan dan keuletannya berlatih memainkan Yo-Yo, kurang dari satu tahun Ros berhasil menjadi salah satu pemain Yo-Yo tingkat internasional. Hebatnya, semua itu dipelajarinya secara otodidak. \"Saya juga cari tahu cara bermain Yo-Yo di internet. Hans (pemain Yo-Yo dunia-Red) hanya mengajari bermain Yo-Yo di internet. Belajar Yo-Yo harus sabar, ulet, dan jangan gampang menyerah,\" ujar Ros.
Ketika Ros menyambangi Kantor Harian Umum Pelita, Senin (9/4) sore, dia menyempatkan diri memperagakan keahliannya bermain Yo-Yo. Sejumlah teknik sangat dikuasainya. Mulai dari memainkan Yo-Yo ke bawah, atas, samping kanan, dan kiri; Ros juga terampil memainkan Yo-Yo tanpa tali. Dengan lincah, tangannya memainkan tali Yo-Yo ke segala arah. \"Ini gaya digigit kambing,\" ujarnya saat melempar Yo-Yo hingga bisa menjepit baju belakang.
Dengan keahliannya ini, pada 2001 Ros berhasil menjuarai kejuaraan Yo-Yo profesional tingkat nasional. Dalam momen inilah Ros berhasil mendapatkan hadiah yang diidamkannya yakni Yo-Yo impor senilai Rp1 juta. Angka yang sulit dikumpulkan bagi mahasiswa seperti dirinya, apalagi hanya untuk sebuah Yo-Yo. \"Saat berlatih, saya hanya menggunakan Proyo (sejenis Yo-Yo buatan lokal-Red) seharga Rp25.000,\" ujarnya.
Keberhasilannya ini membuat Ros makin giat menekuni keahlian bermain Yo-Yo. Sayangnya, event pertandingan Yo-Yo makin jarang digelar. Namun, Ros tak mau menyerah. Jika ada orang mungkin menganggap remeh sebuah Yo-Yo, tapi tidak bagi Ros. Melalui dunia maya (internet-Red), Ros berbagai informasi dengan sesama pecinta Yo-Yo. Dari situs www.skiltoys.com, pintu kesuksesan untuk Ros mulai terbuka lebar.
Saat itu, keinginannya memiliki dan mengkoleksi Yo-Yo makin menggebu-gebu. Namun, memiliki Yo-Yo baginya tidak mudah, selain harganya yang mahal, saat itu belum ada Yo-Yo berstandar internasional yang diproduksi di dalam negeri. Untuk mendapatkanya harus memesan langsung dari negara asal seperti Amerika, Australia, dan Jerman. Harga untuk satu Yo-Yo dipatok harga mulai dari 40 dolar AS hingga 1.200 dolar AS, tergantung jenis dan kualitas Yo-Yo.
Menurut Ros, tingginya harga Yo-Yo karena kualitas bahan yang digunakan. Umumnya Yo-Yo yang biasa digunakan pemain profesional terbuat dari bahan plastik dan metal. Bahkan, ada Yo-Yo yang terbuat dari magnesium dan titanium. Tak jarang pecinta Yo-Yo ada yang menghiasinya dengan emas dan berlian. \"Tapi biasanya itu untuk koleksi,\" jelasnya.
Membuat desain Yo-Yo
IDE kreatif pun muncul. Keahlian sebagai Sarjana Seni Rupa ITB dimanfaatkannya untuk mendesain Yo-Yo. Ternyata, hasil karyanya digemari oleh pemain Yo-Yo se-dunia. Ros pun kebanjiran order. Uniknya, desain pertamanya yang dipesan sebuah perusahaan mainan di Amerika Serikat \"Dave\'s Skill Toy\" dibayar dengan Yo-Yo, bukan uang. Ia dibayar dengan empat buah Yo-Yo senilai 150 dolar AS.
\"Saya menolak dibayar dengan uang karena saat itu saya sangat menginginkan Yo-Yo \'The Hitman\'. Akhirnya mereka memberikan empat Yo-Yo dan salah satunya adalah Yo-Yo idaman saya,\" kata ayah dari Hasyah Azra Syahida yang kini baru berusia tiga bulan.
Kecintaannya terhadap Yo-Yo memang tidak tertandingi. Bayangkan saja, ketika menikahi Milda Halida pada tahun 2004, uang yang diperoleh saat menggelar resepsi pun digunakannya untuk membeli benang Yo-Yo.
Kesulitan memperoleh Yo-Yo dari dalam negeri, membuatnya terinspirasi untuk membuat Yo-Yo sendiri. Namun, Ros mengaku bingung untuk memasarkan Yo-Yo buatannya di dalam negeri. Selain harga produksi yang terlalu mahal, peminatnya pun tidak sebanyak di luar negeri. Akhirnya, dengan mengandalkan dunia maya, Ros berhasil memasarkan Yo-Yo karyanya ke mancanegara. Bayangkan, dari sebuah Yo-Yo Ros berhasil meraup dolar.
Jadi jangan kaget jika jalan-jalan ke luar negeri dan membeli Yo-Yo, anda akan menemukan hasil karya Ros. Keahliannya mendesain Yo-Yo membuat namanya mendunia. Undangan dari berbagai negara pun tak henti-henti diterimanya. Setelah sempat ikut bertarung di Asia Pasific Yo-Yo Contest di Malaysia pada 2005, kini Ros tak lagi berstatus pemain tapi juri di tingkat dunia.
Jadi duta pariwisata Subang
ROS didaulat menjadi juri Yo-Yo untuk tingkat dunia bukan hanya karena kepiawaiannya memainkan Yo-Yo, tapi juga karena desain Yo-Yo buatannya telah mendunia. Selain menjadi orang pertama di Indonesia yang berhasil menjadi pemain Yo-Yo profesional tingkat dunia, Ros juga orang pertama yang membuat Yo-Yo berstandar internasional di Indonesia.
Namun, bagi Ros hal paling membanggakan adalah saat dirinya bisa mempromosikan Subang, Jawa Barat sebagai kawasan pariwisata ke seluruh dunia melalui Yo-Yo. Apalagi, Ros yang saat ini berstatus pegawai di Dinas Pariwisata Kabupaten Subang mendapatkan support dari Bupati Subang Drs Eep Hidayat, MSi. Tidak hanya moril tapi materil. Tak jarang, event internasional yang diikutinya disupport sepenuhnya oleh Bupati Subang.
\"Saya bangga sekali saat diundang ke Sudan untuk main Yo-Yo, momen itu bisa saya gunakan untuk memperkenalkan pariwisata di Subang dan mereka tertarik untuk datang ke Ciater,\" kata Ros yang selalu mengenakan topi saat beraksi dengan Yo-Yo-nya.
Saat ini, Ros terus mengembangkan kecintaannya terhadap Yo-Yo dengan membentuk klub pecinta Yo-Yo di Indonesia. Saat ini, tak kurang dari 100 orang terdaftar di klubnya. Berinteraksi dengan pecinta Yo-Yo dari seluruh dunia melalui internet adalah kegiatan rutinnya setiap hari. Ternyata dari hal kecil pun bisa jadi pintu kesuksesan, kuncinya adalah sabar dan terus berusaha.(elly anisyah)
|