Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 31 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Penyelenggaraan PAUD dan Berbagai Permasalahannya
[Opini]

Penyelenggaraan PAUD dan Berbagai Permasalahannya
Oleh Man Suparman

Buat apa anak dimasukkan ke TK (Taman Kanak-kanak), yang hanya belajar bernyanyi dan menggambar, buang-buang waku dan uang saja. Nanti saja, langsung masuk sekolah SD (Sekolah Dasar)

UNGKAPAN atau pemahaman seperti itu, masih sering muncul di tengah-tengah orang tua atau masyarakat awam yang tingkat pendidikannya sangat rendah, terutama yang tinggal di kampung-kampung atau pedesaan.

Pemahaman seperti itu, tentu saja sangat keliru. Padahal pendidikan anak sejak usia dini sangat bermanfaat terhadap daya rangsang otak anak. Bahkan agama menganjurkan pendidikan anak harus dimulai sejak dalam kandungan ibunya.

Kualitas anak yang duduk di bangku SD, yang tidak pernah sekolah di TK, tentu akan sangat jauh berbeda dengan anak yang pernah mengikuti pendidikan usia dini di TK. Sayang kenyataan ini, belum banyak dipahami para orang tua, baik karena yang tingkat pendidikannya rendah maupun karena belum adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan akan usia dini, dan beberapa faktor lain.

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, sejak tahun 2003, mulai menggalakkan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam upaya mencetak dan menyiapkan generasi bangsa yang cerdas, sehat, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Untuk tahun 2007 ini, Departemen Pendidikan Nasional, menargetkan sekitar 13, 6 juta anak terlayani program PAUD. Target itu, merupakan peningkatan dari pencapaian tahun 2006, yang hanya 13, 2 juta anak. Sedangkan target tahun 2008 adalah 14, 2 juta anak dan tahun 2009 adalah 15, 3 juta anak (Pelita, 26 Maret 2007).

Beberapa tahun terakhir ini, sejak digulirkannya program PAUD mulai tumbuh lembaga PAUD, sehingga menambah daftar lembaga-lembaga PAUD baik formal maupun non-formal seperti RA, TPA, TK, Play Group atau Taman Bermain, yang selama ini terkesan hanya monopoli kalangan tertentu.

Kesan seperti itu, mulai terhapus selain munculnya orang-orang atau tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian untuk mendirikan lembaga pendidikan anak usia dini secara swadaya bersama-sama masyarakat sekitar baik yang formal maupun non-formal.

Kondisi seperti itu, misalnya saja seperti yang berlangsung di daerah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Meskipun baru di lingkungan masyarakat perkotaan dan di beberapa tempat kompleks perkebunan milik PTPN (Perusahaan Terbatas Perkebunan Negara).

Mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini, sudah barang tentu sangat menggembirakan, meski pun berdasarkan data yang diperoleh penulis dari Drs. Himam Haris Kasubdin PLSP (Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, baru menyentuh sekitar 30 persen dari 262.704 anak usia 0-6 tahun.

Dalam peyelenggaraan PAUD di daerah yang berpenduduk sekitar 2 juta jiwa ini, ditempuh pula melalui Pos Yandu Plus sebagai hasil revitalisasi Pos Yandu, yang di dalamnya di antaranya diselenggarakan PAUD. Sebuah upaya yang sinergi antara Subdin PLSP Dinas P dan K dengan Kantor BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana) setempat.

Di Pos Yandu Plus, dalam seminggu berlangsung satu kali, bahkan ada yang sampai empat kali pertemuan melakukan kegiatan program PAUD. Anak-anak, selain ditimbang badannya, diberikan makanan gizi tambahan, juga melakukan kegiatan-kegiatan belajar mengenal huruf, menggambar, bermain ketangkasan dan kegiatan lainnya yang dapat merangsang otak anak.

Mencermati pogram PAUD yang dilaksanakan di daerah kabupaten, banyak kendala sehingga upaya yang dilakukan belum bisa secara optimal, karena banyaknya kendala. Pertama, menyangkut sarana dan prasarana. Mengingat program ini, baru digulirkan sekitar empat tahun yang lalu, maka sekolah-sekolah atau lembaga PAUD jumlahnya masih sangat terbatas.

Kedua, masih sangat rendahnya kesadaran para orang tua mengenai arti dan manfaat pentingnya pendidikan anak usia dini, sehingga enggan atau tidak tertarik untuk memasukkan putra-putrinya terhadap PAUD atau setingkat TK, RA, TPA, Taman Bemain

Untuk memecahkan kendala-kendala seperti itu, sudah saatnya pemerintah lebih spektakuler lagi dengan mencanangkan Program Wajib Belajar Usia Dini, yang diikuti dengan pembangunan fisik dan non-fisik seperti pendanaan untuk tenaga tutor atau pengajar, dan menumbuhkembangkan peran masyarakat yang mau berkorban secara materi untuk mendirikan lembaga PAUD non-formal.

Tidak kalah pentingnya, antara pemerintah kabupaten dengan pemerintah pusat harus sinergi dalam melaksanakan program ini. Jangan sampai pemerintah daerah kurang memberikan perhatian yang maksimal dalam kebutuhan anggaran program ini. Sudah saatnya pemerintah kabupaten mengalokasikan dana melalui APBD guna terselenggaranya program PAUD.

Dengan begitu, tujuan untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas, sehat, dan mampu menghadapi berbagai tantangan akan dapat terwujud. Wakil Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono pernah mengungkapkan, jika anak-anak Indonesia sehat, cerdas, karena sejak kecil sudah pandai berdo\'a. Maka, pemimpin Indonesia di masa mendatang, akan lebih baik dari pemimpin yang sekarang.

-------------
Penulis adalah wartawan Pelita

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Menatap Format Pendidikan yang Ideal di Aceh
Kritik Wapres pada Perbankan
Anak Pedagang Rokok dan Sopir Bajaj Itu Bertemu Presiden
SBI, Carry Trade, dan UMKM
Pendidikan yang Bersifat Pengkaderan