Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 22 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Memberantas Buta Aksara Latin dengan Metode Miqro
[Agama dan Pendidikan]

Drs H Tasyrifin Karim
Memberantas Buta Aksara Latin dengan Metode Miqro

MENURUT data di Depdiknas, saat ini terdapat 12 juta penyandang buta aksara latin. Pemerintah berupaya memberantas buta aksara ini dengan menggandeng BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia) yang dinilai berhasil memberantas buta aksara al-Qur\'an. Sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai, Pelita mewawancarai Dewan Pakar TK/TP Al-Qur\'an BKPRMI Drs H Tasyrifin Karim.

Penyandang buta aksara latin saat ini berjumlah 12 juta orang. Depdiknas berupaya memberantasnya. Mengapa harus melibatkan BKPRMI?
Sebaiknya kami jelaskan dulu. Kami sudah berpengalaman menggarap program pemberantasan buta aksara al-Quran dengan metode Iqro selama 18 tahun, menjelajah dari ujung Aceh sampai Timor Timur (ketika Timor Timur masih bagian dari Indonesia). Kami sudah melatih sekitar 500.000 lebih guru TK/TP Al-Qur\'an. Dengan unit-unit pembelajaran yang kami buka, seperti di masjid, di mushalla, atau tempat-tempat lain yang dapat dimanfaatkan, sekitar 45.000 tempat dimanfaatkan sebagai tempat pembelajaran. Kini jumlah santri yang aktif sekitar 6 juta sampai 7 juta. Kalau ditambah dengan yang sudah selesai mungkin di atas 10 juta-an. Berdasarkan inilah Depdiknas menggandeng BKPRMI.
Apakah program ini hanya terfokus pada TK/TP al-Quran saja?
Awalnya memang terfokus pada usia TK dan usia SD saja. Taman Kanak-kanak Islam untuk usia TK dan Taman Pendidikan Al-Qur\'an untuk usia SD. Tapi kenyataan di lapangan, banyak permintaan usia SMP, SMA, perguruan tinggi, bahkan di berbagai instansi, kantor-kantor pun mendapat pembelajaran tingkat dasar untuk mengenal baca tulis al-Qur\'an. Jadi, yang buta aksara al-Quran itu bukan hanya TK atau SD. Kemudian kita buat Iqro terpadu, paketnya singkat, 10-15 pertemuan, mereka sudah dapat membaca al-Quran. Ini yang kita kembangkan dan mempunyai daya tarik tersendiri.
Depdiknas mempercayakan BKPRMI untuk menggarap pemberantasan buta aksara latin. Bukankah ada perbedaan aksara al-Quran dan latin?
Justru itu, ketika tim dari Depdiknas memanggil kami pada tahun 2006, kami ditantang, apakah sanggup memberantas buta aksara latin? Kami dengan yakin menyatakan bisa walaupun belum pernah melakukan. Kami beranggapan bahwa huruf Arab yang sulit saja bisa dilakukan, apalagi huruf latin. Dimana kesulitan huruf Arab itu, pertama ada makhorijul huruf-nya, bagaimana mengeluarkan huruf sesuai dengan makhroj, di dalam Bahasa Arab ada kaidah panjang pendek. Tidak boleh yang panjang dibaca pendek, yang pendek dibaca panjang. Huruf Arab itu ada hukum-hukum tertentu, dibaca jelas, samar, dengung, dan cara-cara membaca harus ketat sekali. Ditaati aturannya. Itu sudah kami terapkan dan mulai usia TK bisa diterapkan. Kami yakin, apalagi huruf latin tidak ada hukum bacaannya.
Berarti program pemberantasan buta aksara latin sudah jalan setahun. Bagaimana hasilnya?
Kami sudah melakukan uji coba, mengambil satu sampel. Pada tahun 2006 kami mengumpulkan 22 orang buta aksara latin berusia 14-45 tahun di Cilangkap. Ternyata setelah kami bina, ada yang delapan kali pertemuan sudah bisa baca. Yang agak berat sedikit bisa 12 kali pertemuan. Program ini kemudian dievaluasi dan dinyatakan berhasil.
Keberhasilan ini kemudian melahirkan buku yang dinamakan Miqro, artinya mirif Iqro. Kita sebelumnya mengalami kesulitan cari nama. Cara pembelajarannya, tergantung pada guru yang mengajar. Asal mereka sudah berpengalaman menjadi guru TK/TP Al-Qur\'an, kemudian kita latih sebentar dijadikan guru Miqro, tentunya sangat mudah. Cara mengajarnya tidak jauh berbeda, bagaimana cara mengajar buta aksara Arab, itu bisa kita gunakan sebagai cara untuk memberantas buta aksara latin.
Apakah ada kendala dalam melaksanakan program Miqro?
Kendalanya pasti ada, yaitu manakala tidak ada lembaga atau orang yang peduli akan pendidikan, terutama pemberantasan buta huruf latin. Kami sudah berpengalaman mengembangkan sistem Iqro bekerjasama dengan Departemen Agama, dengan Pemda, dengan PKK melalui program PGM3A (pelatihan guru membaca menulis dan memahami al-Quran). Kami bisa keliling ke seluruh Indonesia untuk melatih guru-guru dan membentuk unit-unit, sehingga kami dapat mengatasi kendala tersebut.
Pemerintah sendiri mempunyai target, jumlah buta aksara latin yang kini mencapai 12 juta orang pada tahun 2009 akan berkurang menjadi 5 juta orang dan kemudian secara bertahap akan terbebas semuanya. Sekarang, kami sudah punya model, punya alat peraga, sudah punya buku, sudah punya sistem segala macam, tinggal diback up.
Kami bisa ikut terlibat all out, kita punya guru TK/TP Al-Quran sebanyak 500.000. Paham dengan metode Iqro, kita latih sebentar, bagaimana memahami metode Miqro. Kemudian masing-masing guru mendata di lingkungannya, siapa saja yang buta aksara latin, kemduian dibuka kelas pembelajaran. Itu bisa dibayangkan, kalau satu guru dapat melayani 10 orang, dua bulan selesai. Kemudian dibuka lagi pembelajaran begitu seterusnya. Nanti pada tahun 2009, akan terlihat sekali bola saljunya menggelinding. Kalau hanya 12 juta buta aksara latin, bagi kami tidak terlalu besar, kita bisa selesaikan dalam tidak terlalu lama.(dik)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Mendiknas: Pendidikan Kejuruan Jadi Kebutuhan Tak Terhindarkan
Pengumuman Hasil Kelulusan SMA Dipercepat
Ulama Semakin Sulit Bicara Kebenaran
Siswa SMU dan MATak Lulus Hanya Delapan Persen
KMA-PBS Siapkan 100 Pengacara Untuk Bela Yayasan Supersemar