Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 16 September 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Lebak Dinilai Belum Serius Tuntaskan Wajardikdas
Laporan: Roy

[Swadaya Mandiri]

Lebak, Pelita
Warga menilai Pemkab Lebak, Banten, belum serius tuntaskan program wajib belajar pendidikan dasar (Wajardikdas) sembilan tahun karena sampai memasuki masa penerimaan siswa baru (PSB) tak ada kebijakan yang dilakukan untuk meringankan beban orang tua.
"Seharusnya dalam menuntaskan wajardikdas Pemkab Lebak membebaskan segala biaya saat penerimaan siswa baru, namun saat ini tidak ada kebijakan seperti itu," kata Suherman, 50, warga Kabupaten Lebak, Minggu.
Menurut dia, program wajardikdas tidak akan tuntas Tahun 2009 nanti jika Pemkab sendiri tidak membuat terobosan untuk memobilisasi penuntasan pendidikan dasar itu.
Kondisi di Lebak, ujar dia, sebagian besar anak-anak putus sekolah karena tidak ada biaya untuk melanjutkan ke sekolah lebih tinggi yang biayanya cukup mahal.
Karena tidak melanjutkan sekolah, banyak anak usia belajar sembilan tahun menjadi tukang semir, pe-ngamen, pedagang koran dan plastik di pasar Rangkasbitung, atau menjadi pengangkut hasil bumi seperti kelapa, pisang dan singkong di desa-desa.
"Mereka putus sekolah akibat rendahnya motivasi orangtua, tapi kalau Pemkab membuat gebrakan dengan menggratiskan segala biaya pendaftaran sejak awal akan kembali membangkitkan para orang tua untuk mendorong anaknya melanjutkan sekolah hingga tamat SMU atau SMP," ujarnya..
Hal serupa dikemukakan Ervan, 35, warga Cijaku dengan mengatakan, program wajardikdas di Lebak belum mengakar ke tingkat desa karena kurangnya sosialisasi serta promosi itu.
Minimal, katanya, pada tahun ajaran baru Pemkab Lebak memasang spanduk wajib belajar sembilan tahun di jalan, kantor desa atau sekolahan untuk merangsang masyarakat.
Apalagi, lanjut dia, di wilayahnya banyak terdapat desa-desa terpencil, termasuk di Kecamatan Cigemblong yang hingga kini belum memiliki kantor pendidikan kecamatan.
"Banyak anak-anak di sini menjadi kuli petik buah cengkih dan menggembala kerbau karena orangtua dan anak tidak mengerti tentang pendidikan," katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Belajar Bina Insan Rangkasbitung Nurmanah menjelaskan, untuk mendorong para orang tua agar menyekolahkan anaknya pihaknya terpaksa mendatangi rumah-rumah warga di Desa Rangkasbitung Timur.
"Momen tahun ajaran baru seperti sekarang kami meminta orangtua yang memiliki anak lulusan SD agar dilanjutkan ke SMP. Begitu juga bagi anak-anak usia 7 tahun agar segera di sekolahkan ke SD," tegasnya.(roy)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Ibu Hamil Harus Banyak Konsumsi Garam lodium
Banyak Anak Banyak Rezeki Tak Berlaku Lagi
Posyandu Nusa Indah III Pelaksana Terbaik
BKKBN Butuh 70.611 Penyuluh KB
Ratusan Lansia Ikuti Senam