Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 22 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
POSDAYA BERBASIS MASJID MAKIN MARAK
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Yayasan Tatang Nana dari Bogor, yang dipimpin oleh KH Arief Mulyadi dengan orperator lapangannya Soleh Kusmana, telah mendapat kepercayaan dari 7 Yayasan yang didirikan oleh Bapak HM Soeharto, yaitu Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP), Yayasan Damandiri, Yayasan Dakab, Yayasan Dharmais, Yayasan Supersemar, Yayasan Gotong Royong dan Yayasan Trikora, untuk mengembangkan Posdaya berbasis Masjid. Sasaran awal yang ditargetkan adalah menyelesaikan pengembangan Posdaya pada 50 Masjid yang pembangunannya dibantu oleh Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP). Pada tahap awal Yayasan Tatang Nana ditugasi mengadakan sosialisasi untuk 30 buah Masjid. Dari laporan sementara ke 30 masjid tersebut hampir seluruhnya telah dapat dikunjungi dan memperoleh penjelasan tentang maksud dan tujuan pengembangan Posdaya berbasis Masjid dengan baik.

Selama sosialisasi kepada 30 masjid diperoleh kesan bahwa umumnya Pengurus Masjid menyambut gagasan itu dengan positip. Pengurus Masjid merasa bahwa apa yang ditawarkan tidak berbeda dengan kegiatan di masa lalu dan banyak dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Banyak kegiatan yang diusulkan bisa menambah semarak dan kemakmuran Masjid. Oleh karena itu bagi kebanyakan Pengurus Masjid usulan pengembangan Posdaya berbasis Masjid segera ditindak lanjuti.

Namun ada juga beberapa Pengurus Masjid yang kawatir kegiatan Posdaya berbasis Masjid bisa mengganggu konsentrasi ibadah dan memerlukan waktu untuk memberikan jawaban yang konkrit. Ada pula Pengurus Masjid yang belum kompak dan ragu-ragu. Menghadapi kasus seperti itu, Arief Mulyadi, pimpinan Yayasan Tatang Nana, mengambil sikap yang bijaksana dengan mengalihkan pengembangan Posdaya berbasis Masjid ke Masjid lain di desa yang sama. Ada kalanya setelah pengembangan Posdaya berbasis Masjid itu dipindahkan, pengurus yang ragu-ragu makin kompak dan sepakat dan minta agar rencana semula segera dilaksanakan. Dalam keadaan seperti ini, apabila kegiatan sudah dialihkan, Arief Mulyadi terpaksa tidak dapat memenuhi permintaan karena keterbatasan daya dan dana. Namun masjid yang bersangkutan bisa membuat Posdaya di masjidnya dengan menyimak persiapan dan langkah-langkah yang dilakukan di Masjid lain yang ditunjuk.

Pengembangan Posdaya dimulai dengan sosialisasi melalui pengenalan program dan rencana kegiatan. Sekaligus Pengurus Masjid dibantu membentuk Tim Kelompok Kerja (Pokja) yang sehari-harinya mengurus Posdaya, yaitu mengadakan hubungan dengan jamaah masjid dan masyarakat sekitar serta merancang kegiatan sehari-hari. Pembentukan Posdaya berbasis Masjid menjadikan kegiatan di masjid dan sekitarnya bertambah marak. Ibu, bapak dan anak-anak berdatangan ke masjid bukan hanya pada jam sholat tetapi juga untuk mengikuti kegiatan lain yang bervariasi.

Kegiatan Posdaya melaksanakan program Mellinium Development Goals (MDGs) merupakan satu-satunya di dunia. Kegiatan MDGs tersebut telah ditetapkan sebagai UU nomor 17 tahun 2006. Oleh karena itu pelaksanaan MDGs dengan prioritas Pengentasan Kemiskinan dilakukan melalui pemberdayaan jemaah masjid. Pemberdayaan itu diwujudkan antara lain melalui dakwah pembekalan dan dukungan jamaah Masjid agar keluarga muda berperan sebagai wirausahawan. Kegiatan sederhana biasanya dilakukan dengan mengajak para ibu dan suami muda untuk belajar menabung, belajar menggeluti kegiatan yang bisa mendatangkan untung, atau bahkan diajak bergabung dengan usaha lain yang telah dikembangkan oleh penduduk yang lebih maju. Kegiatan bersama itu bisa juga tumbuh sebagai kegiatan koperasi.

Untuk mendapatkan modal, masjid bisa menyisihkan dana yang diterima sebagai sedekah atau menganjurkan kepada jamaah masjid yang lebih mampu untuk memberi bantuan kepada penduduk miskin yang ingin bekerja keras untuk maju. Kalau perlu pada hari-hari tertentu jamaah masjid dan penduduk sekitar dianjurkan memberikan amal ibadah berupa bantuan kepada usaha ini secara khusus, baik dengan penambahan modal atau dengan cara mengangkat penduduk yang tidak bekerja sebagai karyawan magang atau dilatih untuk mampu bekerja dengan baik dan mendatangkan untung. Posdaya berbasis masjid bisa menjadi ukuran apakah agama seseorang dihayati atau hanya sebagai ritual yang tidak ada bukti nyatanya di dunia.

Program yang sama pentingnya adalah mempermudah akses terhadap bidang kesehatan. Posdaya berbasis masjid bisa mengerahkan jamaah, yang mempunyai akses lebih baik terhadap pelayanan kesehatan untuk membantu jamaah lain memperbaiki aksesnya terhadap pelayanan kesehatan. Kalau perlu bidan dapat diundang mengadakan pemeriksaan ibu hamil dan anak-anak melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di sekitar masjid. Dengan demikian setiap Posdaya mempunyai kegiatan Posyandu untuk pelayanan KB dan Kesehatan. Kalau di sekitar masjid sudah ada Posyandu maka jamaah masjid membantu dana agar kualitas pelayanan di Posyandu bisa bertambah baik.

Sasaran yang lain adalah penanganan masalah pendidikan. Melalui Posdaya dibentuk Pokja Bidang Pendidikan untuk mengadakan pendataan anak usia sekolah yang tinggal di sekitar masjid. Apabila ditemukan anak-anak yang belum atau tidak sekolah maka dapat dimintakan perhatian kepada jamaah masjid untuk membantu anak-anak itu sekolah. Kalau ada anggota jamaah yang lebih mampu dihimbau agar membantu orang tua anak menyekolahkan anaknya. Apabila tidak, dapat diedarkan pengumuman kepada seluruh jamaah masjid agar secara gotong royong membantu anak itu bersekolah. Lebih dari itu, halaman masjid dapat dipergunakan untuk mengembangkan kegiatan bermain bagi anak-anak usia tiga sampai lima tahun (batita dan balita). Kegiatan itu bisa diatur dengan menugaskan anak-anak yang lebih dewasa, kalau tidak pagi hari, siang hari, setelah anak-anak itu pulang sekolah. Dana yang dibutuhkan dikumpulkan melalui kotak masjid pada waktu sholat. Kegiatan pendidikan sambil bermain untuk anak batita dan anak balita memberi kesempatan kepada kedua orang tua anak-anak tersebut bekerja.

Kegiatan lain adalah meningkatkan pemeliharaan lingkungan di desa dengan baik. Kegiatan pemeliharaan lingkungan yang sehat dan baik serta kondusif akan memberi suasana yang lebih nyaman dan damai. Upaya ini dilakukan dengan menggelar kerja bakti bagi anggota Posdaya di masjid agar penduduk terangsang meniru di rumah atau sekitarnya. Posdaya mengisi budaya Islami dengan karya nyata. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan, www.haryono.com).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Menteri PU: Pulang Kampung Itu "The Real Happiness"
PPK Ciptakan Lapangan Kerja dan Wirausaha
Lebaran Membangun Solidaritas
Gaung Posdaya Makin Membahana
PKK Kotim Juara Lomba Masak Tingkat Nasional