Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 01 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Perkebunan Sawit Hambat Pertambangan di Kotim
[Nusantara]

Perkebunan Sawit Hambat Pertambangan di Kotim

Sampit, Pelita
Sektor tambang biji besi dan batubara yang sangat potensial di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Kalimantan Tengah (Kalteng), setelah mulai layunya sektor kehutanan di daerah ini ternyata pemanfaatannya untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat terhambat. Hal ini disebabkan di kawasan tersebut telah dikuasai perkebunan sawit yang memiliki Hak Guna Usaha (HGU).
Masalahnya, kata Fredy Mardhani NT, SH, penasihat hukum PT Mentaya Iron Ore Mining (MIOM) dalam siaran perskepada sejumlah wartawan di Sampit Kamis (8/11) sebagian besar cadangan bahan tambang di Kotim itu berada dalam wilayah HGU perkebunan sawit. Dan masalah itulah yang kini juga dialami PT MIOM, tegasnya.
Diungkapkan oleh Fredy, pertindihan lahan PT MIOM dengan sebuah perkebunan sawit PT Karya Makmur Bahagia (KMB) di Desa Tumbang Sepayang, Kecamatan Antang Kalang, Kotim, hingga saat ini belum terpecahkan. Berkali-kali diadakan pertemuan tapi tak ada penyelesaiannya. Bahkan dalam forum rapat PT MIOM selalu diposisikan dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Misalnya, kami dituduh telah merusak tanaman sawit dan menghancur jalan, tambahnya.
Diinformasikan pula oleh Drs Guldani selaku Humas PT MIOM, pada tanggal 19 Mei 2006 di Jakarta dan tanggal 28 Agustus 2006 yang difasilitasi Pemkab Kotim di Sampit telah disepakati pembayaran ganti rugi tanaman sawit lahan seluas 26,08 hektar sebesar Rp912.800.000 dengan harga per hektarnya Rp35.000. Dan PT MIOM telah mentransfer dana tersebut ke rekening PT KMB melalui surat tanggal 7 Juni 2006.
Akan tetapi oleh bank ditolak karena rekening tersebut sudah ditutup, dan kami telah menyurati PT KMB untuk meminta rekening baru tetapi sampai saat ini belum ada tanggapan, kata Guldani.
Padahal, ungkap Guldani, luas lahan yang dieksploitasi PT MIOM hanya 26,08 hektar di antatara 16.100 hektar lahan HGU PT KMB. Kalau dengan lahan seluas itu saja tidak bisa diselesaikan begitu saja oleh pemerintah daerah, bagaimana kalau luas tambang yang diajukan untuk dieksploitasi ratusan hektar, tanya Guldani.
Sementara itu Fredy Mardhani NT, penasihat hukum PT MIOM mengatakan, kalau berpedoman pada aturan UU yang ada, penyelesaiannya seharusnya tidak rumit seperti yang dihadapi PT MIOM. Kita tentu tidak mau menunggu 35 tahun lagi atau sampai berakhirnya batas waktu pemberian HGU, jika begitu sangat celakalah nasib kita, katanya.
Menurut UU No 11 tahun 1967 dengan jelas mengatur bahwa kalau terjadi pertindihan lahan maka tambang harus diutamakan, termasuk bagaimana cara penyelesaianyapun sudah diatur dengan jelas, tambah Fredy.
Sekarang, ujar Fredy, apakah penguasaan HGU tidak melanggar hak-hak masyarakat adat atau hak-hak pribadi warga masyarakat Desa Tumbang Sepayang dan desa lainnya di sekitarnya. Buktinya, ada gugatan masyarakat Tumbang Sepayang sebagaimana yang pernah disampaikan ke DPRD Kotim tanggal 17 April 2007 lalu. Diungkapkan Fredy, HGU PT KMB menurut informasi Kacab BRI Sampit telah dijaminkan ke PT BRI.
Sedangkan Kadis Pertambangan Kotim Jauhar Fauzni SH,MM secara terpisah mengatakan, potensi tambang biji besi maupun batubara di daerahnya sangat potensial dan bisa menjadi andalan pendapatan pengganti sektor kehutanan. Hanya saja selama ini tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Disebabkan potensi tambang itu berada di kawasan perkebunan sawit dan tumpang tindih, katanya. (rag)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Uji Coba Daur Ulang Sampah Jadi Kompos di Pasar Ciputat
Lukman Berpeluang Jadi Bupati Konawe
Agar UKM Terbebas Black-list dan Mendapat Permodalan
Pemprov Kobar Diminta Tegas Soal Tata Batas
Kisah Keberanian Adeging Praja Mangkunegaran