|
[Kesehatan] Badam POM Perlu Alat Canggih
OBAT palsu dan penyalahgunaan bahan kimia pada makanan yang beredar di pasaran sudah sering ditemukan, namun terkesan berlomba dengan pengawasan oleh pihak berwenang. Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal tersebut, Pelita mewawancarai Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), dr Husniah Rubiana Thamrin Akib, berikut petikannya.
Obat palsu dan makanan berbahaya selalu saja ada, bagaimana menurut Anda?
Petugas Badan POM secara kontinyu mengumpulkan sampel-sampel obat dan makanan kemasan yang ada di pasaran. Setelah diproses ada beberapa pelaku yang sudah dimejahijaukan. Namun rupanya sanksi yang diberikan tidak membuat jera.
Disisi lain, peralatan yang ada di Badan POM sangatlah terbatas. Ini tentu sangat menghambat kerja para petugas dalam memeriksa sampel-sampel yang dikumpulkan itu. Dengan kata lain menghambat kerja pengawasan obat dan makanan karena masih memakai alat lama, padahal sekarang teknologi pembuatan obat dan makanan sudah canggih.
Teknologi canggih seperti apa?
Contohnya begini, kalau kita menggunakan alat yang canggih dapat memeriksa atau mendeteksi kandungan delapan bahan kimia berbahaya pada makanan dalam sekali pemeriksaan saja. Sekarang yang kini miliki harus dilakukan satu per satu, sehingga memerlukan waktu yang lama.
Mengapa tidak membeli alat yang baru?
Kami tidak memiliki cukup dana untuk membeli peralatan yang diperlukan bagi pemeriksaan sampel obat dan makanan itu. Bayangkan cakupan tugas sangat luas yaitu seluruh wilayah Indonesia, seharusnya memang memiliki alat yang bisa bekerja lebih efektif.
Alokasi dana untuk pengawasan sangat minim tidak cukup untuk membeli peralatan. Anggaran Badan POM sekitar Rp500 miliar pertahun, padahal kegiatan pengawasan obat dan makanan itu membutuhkan dana sekitar Rp1,5 triliun per tahun. Dana Rp500 miliar itu sudah termasuk untuk gaji pegawai, biaya listrik dan air, jadi ya memang sangat minim.
Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Kami sedang mengkaji kemungkinan dengan memanfaatkan pinjaman lunak Bank Dunia untuk membeli alat yang canggih itu. Kami sudah mengusulkan tetapi belum ada kesepakatan.
Apakah masalah maraknya obat palsu dan makanan berbahan kimia berbahaya juga menjadi perhatian dunia?
Oh ya, saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah membentuk Satgas Pemberantasan Obat Palsu tingkat internasional yaitu Impact (International Medical Anti Counterfeiting Taskforce) yang siap memerangi beredarnya obat palsu.
Satgas ini merupakan respon dari masyarakat dunia yang memiliki kepedulian tinggi terhadap maraknya kasus obat palsu di berbagai negara.
Impact menyadari bahwa pemberantasan obat palsu tidak dapat dilakukan secara parsial dan harus dilakukan dengan kolaborasi di antara pemangku kepentingan terkait, yaitu institusi pengawas obat, bea cukai, aparat penegak hukum baik di tingkat nasional, regional maupun internasional, profesi, dan masyarakat.
Anggota Impact adalah sejumlah organisasi internasional seperti WHO, WIPO, WCO, Interpol, dan pemangku kepentingan lain di semua negara di dunia, termasuk Indonesia.
Berkaitan dengan obat dan makanan asal China bagaimana?
Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) mendukung penyelenggaraan First ASEAN-China Conference on Combating Counterfeit Medical Product (Konferensi ASEAN-China tentang Pemberantasan Pemalsuan Produk Obat) yang diselenggarakan mulai 13 hingga 15 November di Jakarta.
The First ASEAN-China Conference on Combating Counterfeit Medical Product dihadiri oleh seluruh negara anggota ASEAN ditambah dengan Republik Rakyat China, para delegasi berasal dari institusi pengawas obat, polisi, bea dan cukai, dan Asosiasi Profesi Kesehatan serta Asosiasi Perusahaan Farmasi.
Konferensi ini merupakan langkah awal terbentuknya suatu aksi kolaborasi di antara negara-negara anggota ASEAN dan Republik Rakyat China dalam pemberantasan obat palsu di wilayah regional. Kerjasama ini menunjukkan kesungguhan dalam penanganan obat palsu secara komprehensif.
Pertemuan pertama ini juga untuk mengintensifkan kerjasama WHO-Impact dalam hal bantuan yang bersifat teknis serta mengajak negara-negara ASEAN untuk menyadari tentang keinginan internasional dan ikut berperan dalam pembentukan suatu aksi tertentu.
Sedangkan hasil yang diharapkan adalah dapat terbentuk koordinasi kepastian yang terkait dengan pemberantasan obat palsu level nasional dan regional. Selain itu akan ada sistem SPOC (Single Point of Contact) dalam pemberantasan obat palsu.
Untuk memperkuat pemberantasan obat palsu ini juga diperlukan perbaikan legislasi dan regulasi tingkat nasional dan regional untuk pemberantasan obat palsu serta peningkatan pemanfaatan teknologi dalam pemberantasan obat palsu.
Berkaitan dengan kerjasama khusus dengan China, Badan POM akan melakukan pembicaraan lanjutan mengenai produk makanan impor di China pada 26 November 2007. Kesempatan itu akan dimanfaatkan untuk membahas maslah produk makanan impor asal China yang berformalin ke Indonesia.(dew) |