Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 25 Juli 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Globalisasi, Peluang atau Malapetaka (2), Belajar dari Pengalaman Uni Soviet dan RRC
[Politik dan Keamanan]





Oleh Sulastomo



GLOBALISASI, pada tingkat pertama, ternyata memang memberi dampak yang besar pada negara yang dahulu dikenal sebagai negara-negara blok Komunis. Teknologi informasi berhasil menembus sekat-sekat dua blok yang saling berlawanan dan ternyata Kapitalisme dengan "demokrasi" dan "pasar bebas"-nya telah berhasil memenangkan pergumulan itu, sehingga mengubah wajah negara-negara blok Komunis yang otoriter dengan sistem ekonomi yang sentralistis itu. Tidak terkecuali bagi Uni Soviet dan RRC (Republik Rakyat China), dua negara Komunis yang terbesar. Kebutuhan untuk melakukan pembaruan, ternyata tumbuh dari kalangan elit di dalam negeri itu sendiri, Mikhail Gorbachev di US (Uni Soviet) dan Deng Zhiao Ping di RRC. Dapat dipahami, oleh karena adanya ketertutupan justru menimbulkan keinginan untuk bebas semakin besar. Namun, imbas globalisasi itu menampakkan wujud yang berbeda, tergantung proses di dalam negeri.


Uni Soviet, sebagaimana kemudian kita saksikan, memang benar telah melakukan perestroika (restrukturisasi, pembaruan) secara lebih komphrehensif. Baik kehidupan politik dan ekonominya, secara serentak dilakukan pembaruan (reformasi). Rakyat Uni Soviet diberi kebebasan untuk menyatakan pendapat, sementara ekonomi US juga diselenggarakan dengan memberi kesempatan kepada masyarakat dan sektor swasta untuk ikut mengambil bagian. RRC, ternyata lebih konservatif, bertahap, gradual, tulis Stiglitz. Sistem politiknya, bahkan dipertahankan "monolit", sementara sistem ekonominya dibuka secara bertahap untuk menampung prinsip-prinsip pasar bebas. Demokrasi politik "No", demokrasi ekonomi "Yes", begitu gambaran ringkasnya. Partai Komunis China, tetap bertahan memegang kendali kekuasaan di Peking, sementara China mengundang "Coca Cola" masuk ke China. Peristiwa "Tiananmen" (Lapangan Merah) di akhir dasawarsa 80-an, dimana gerakan pro-demokrasi "dilindas", merupakan bukti, betapa sistem politik di China masih otoriter, sementara ketika orang melihat Shanghai sekarang, orang menyaksikan, betapa pasar bebas telah menjadi sistem ekonomi yang dianut negeri itu, yang akan menjadikan RRC menjadi raksasa di bidang ekonomi. Apa yang kemudian terjadi?


Uni Soviet, sebagaimana kita saksikan sekarang, tinggal nama. Uni Soviet telah terpecah belah, berkeping-keping menjadi banyak negara merdeka. Ekonomi Rusia, sebagai negara yang paling terkemuka bekas negara Uni Soviet, ekonominya juga masih memprihatinkan. Rusia, juga mengundang IMF untuk mengatasi krisis ekonominya. Sampai sekarang, masih tertatih-tatih dan menjadi "model" kegagalan IMF. Sementara China, relatif muncul sebagai negara stabil secara politik dan berkembang secara ekonomi. Pertumbuhan ekonomi RRC, sejak ekonominya menganut prinsip pasar bebas, telah tumbuh sekitar 7-8 persen pertahun. Meskipun tingkat pendapatannya baru sekitar 450 dolar AS perkapita, oleh AS sudah dianggap sebagai negara maju. Artinya, RRC tidak bisa diperlakukan sebagai negara yang sedang berkembang, yang dapat memperoleh keistimewaan tertentu. GDP RRC di awal dasawarsa 90-an adalah 60 persen GDP Rusia. Namun, pada akhir dasawarsa itu, angka itu sudah terbalik. Sebabnya, karena kemiskinan di Rusia semakin membesar, sementara kemiskinan di RRC semakin mengecil. Wajah RRC, meskipun tetap Komunis, telah lebih ramah dengan dunia luar, sementara pertumbuhan ekonominya juga menjadi banyak perhatian dunia. RRC, bahkan diperhitungkan akan muncul sebagai kekuatan ekonomi baru, mengingat jumlah penduduknya yang demikian besar, dengan upah yang relatif rendah, sehingga kemampuan bersaing industrinya sangat tinggi. Tidak terkecuali, Indonesia pun memperoleh kompetitor baru di sektor ekonomi yang sangat tangguh. Tentu, ada suatu pertanyaan, sampai kapan RRC dapat bertahan dengan sistem politik yang masih sangat sentralistis itu, sementara sistem ekonominya sudah sangat "liberal."


Fenomena Uni Soviet, barangkali dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, yang melakukan pembaruan secara drastis. Juga pengalaman negara-negara Komunis Eropa Timur, yang menempuh jalan yang sama sebagaimana US, selain Polandia, yang juga melakukan pembaruan ekonomi secara "gradual." Negara-negara Komunis Eropa Timur juga hancur berantakan. Cekoslovakia telah pecah menjadi tiga negara. Jerman Timur, bahkan akhirnya hilang dan bergabung dengan Jerman Barat. Tembok Berlin, akhirnya runtuh, yang kesemuanya itu mengawali globalisasi yang sebenarnya dan mengakhiri era perang dingin. Kalau sekarang Indonesia sedang bergulat mempertahankan kesatuan wilayahnya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, pengalaman Uni Soviet dan negara-negara Komunis di Eropa itu tentunya sangat penting sebagai pelajaran yang sangat berharga.


Reformasi yang dilakukan secara serentak, ekonomi dan politik sesuai dengan prinsip globalisasi, mengandung risiko yang sangat besar. Sebaliknya, reformasi ekonomi yang dilakukan secara "gradual" justru menunjukkan hasil yang gemilang. Joseph Stiglitz memberi contoh RRC, Polandia, dan Vietnam, tiga negara Komunis yang melakukan reformasi ekonomi secara gradual, yang ternyata justru berhasil. Sebaliknya, Uni Soviet dan banyak negara di Amerika Selatan, yang melakukan reformasi sesuai prinsip-prinsip yang direkomendasikan IMF, melakukan reformasi secara cepat, sistem politik dan ekonominya, justru semakin mengalami keterpurukan ekonomi yang tiada henti. Mengapa?


Inilah pelajaran yang sangat berharga, yang selayaknya harus kita renungkan bersama, ketika kita justru semakin gamang, sejak kita melakukan reformasi empat tahun yang lalu.(Bersambung)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Mengikuti Presiden Tanpa Prosedur Dubes Australia dan Inggris Dinilai Bebal
Darussalam yang Tak Pernah Tenteram
DPR: Penumpasan GAM Harus Selesai 1 Januari 2003
WNI Menangis Sambut Anggota DPR Australia Melanggar HAM
Kembali pada Hukum, Keadilan dan Kemanusiaan