Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Anak Guru dan Mantan Tukang Ojek Lulusan Terbaik AAL
[Derap TNI-POLRI]

Anak Guru dan Mantan Tukang Ojek Lulusan Terbaik AAL

BANYAK orang beranggapan bahwa para Kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) adalah anak-anak pejabat, Perwira Tinggi, dan pengusaha. Mereka dipastikan menjadi lulusan terbaik atau paling tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di AAL.
Tapi ternyata tidak. Jabatan, kedudukan, dan kekayaan orang tua tidak menjamin anaknya sukses nomor satu di AAL. Buktinya? Tahun ini, lulusan yang terbaik justru disabet oleh anak-anak dari orang tuanya yang sangat bersahaja. Bahkan lulusan terbaik di Korps Marinir adalah mantan tujang ojek.
Sidang Dewan Akademi telah menetapkan 192 orang Kadet Tingkat III Angkatan ke-53 AAL lulus secara keseluruhan.
Mereka terdiri atas Korps Pelaut 55 orang, Teknik 28 orang, Elektronika 19 orang, Suplai 34 orang, dan Marinir 56 orang. Sidang Dewan Akademi pun telah memutuskan dan menetapkan lulusan terbaik untuk masing-masing korps.
Dari Korps Pelaut Sermakad (P) Faiq Mumtaz M dengan nilai rata-rata 781,91. Korps Teknik Sermakad (T) Vendri Kristianto dengan nilai rata-rata 773,59. Korps Elektronika Sermakad (E) Desmala Surya M dengan nilai rata-rata 725,91. Korps Suplai Sermakad (S) Hendra Bastian L dengan nilai rata-rata 707,73. Korps Marinir Sermakad (M) La Ode Arjuna dengan dengan nilai rata-rata 714,64, kata Kabagpen AAL Mayor Laut (Kh) drs Yayan Sugiana.
Istimewanya, kelima peraih lulusan terbaik dari tiap-tiap korps tersebut berlatar belakang orang tua yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Empat orang di antara mereka berayah/ibu seorang guru SD (Faiq, Vendri, Desmala, dan La Ode Arjuna). Sementara orang tua Hendra Bastian seorang guru SMP.
Bulan November, saat Sidang Dewan Akademi menetapkan para lulusan terbaik, memuat hari peringatan Guru Nasional. Tampaknya bulan tersebut membawa berkah bagi mereka dan para orang tuanya.
Dari kelima lulusan terbaik masing-masing korps tersebut, Sermakad Pelaut Faiq Mumtaz Muhammad menduduki peringkat pertama. Nilai rata-rata yang dikumpulkannya 781,91. Nilai tersebut berada di atas prestasi lulusan terbaik dari Korps Teknik, Elektronika, Suplai, dan Marinir. Dengan demikian, pemuda asal kota Purworejo, Jawa Tengah ini berhasil meraih Adimakayasa.
Penghargaan tertinggi yang selama ini diidam-idamkan para Taruna Akademi TNI tersebut diserahkan langsung oleh Kasal Laksamana TNI Sumardjono dalam Upacara Penutupan Pendidikan Kadet Angkatan ke-53 AAL. Upacara berlangsung Kamis (6/12) di Gedung Mas Pardi AAL Bumimoro Surabaya.
Faiq Mumtaz Muhammad lahir di Purworejo, 9 Oktober 1984. Alumnus SMA Negeri 1 Purworejo ini menyelesaikan masa pendidikan di AAL dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3.40. Pada semester dua ia menerima penghargaan Tri Sakti Wiratama emas. Penghargaan Adi Tanggap Emas diraihnya pada semester empat.
Di Semarang, tanggal 17 Desember 2007, putra pasangan guru SD Suhaemi dan Khoironiyah tersebut menjadi perwakilan dari AAL yang menerima pemasangan pangkat di pundak langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kisah unik dialami oleh Sermakad La Ode Arjuna. Lulusan terbaik dari Korps Marinir tersebut sebelum bergabung di Kawah Candradimuka Bumimoro sempat jadi tukang ojek untuk membantu meringankan biaya hidup keluarganya yang serba paspasan. Mereka hidup dengan mengandalkan gaji sang ayah yang waktu itu masih berprofesi sebagai penjaga sekolah dasar. Selama sembilan bulan, Laode berjibaku dengan panas dan hujan; menyusuri jalanan di Kota Muna; mencari penumpang. Hidup waktu itu dirasakannya pahit.
Dalam sehari ia dapat mengumpulkan penghasilan antara Rp20.000 hingga Rp50.000. Uang tersebut disamping digunakannya untuk menyambung hidup keluarganya, juga digunakan untuk biaya kuliah adiknya.
Namun, guratan takdir rupanya telah membawanya di Bumimoro. Sejarah telah mencatatnya dengan tinta emas sebagai lulusan terbaik untuk Kadet Korps Marinir Angkatan ke-53 AAL.(wis/be)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Ribuan Warga Surabaya Banjiri Open Day Koarmatim
PPRC TNI Wujud Kualitas Prajurit TNI
Jabatan Danyon Ipam Diserahterimakan
Kodam Jaya dan Jajaran Tanam 10.897 Pohon
Aksi Tanam Pohon di Seskoal