Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 01 Agustus 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Agrowisata Cilangkap, Arena Budidaya Flora dan Pariwitasa
[Nusantara]

Agrowisata Cilangkap, Arena Budidaya Flora dan Pariwitasa

TIGA loket berwarna hijau-kuning yang beratapkan genteng cokelat itu sejajar menyatu sehingga bangunannya tampak kian kokoh berdiri di atas tanah yang datar. Sisi kiri maupun kanan loketnya terhampar danau buatan yang dipenuhi tumbuhan eceng gondok serta sayuran kangkung.
Di danau sebelah kiri terdapat rumah makan sederhana. Bagian belakang juga terdapat danau buatan yang berbentuk seperti bulan sabit. Tak kalah mempesonanya, dikala pagi hari yang cerah tampak di latar belakang area ini pegunungan yang menjulang tinggi. Sementara itu, di dalam lahan seluas 25 hektar ini terlihat berbagai jenis tanaman seperti tanaman hias, obat, jamur, anggrek, sayur-mayur, dan buah.
Itulah gambaran tentang Agrowisata di Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur, sebuah tempat pembudidayaan bibit tanaman dan sekaligus tempat pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian.
Indonesia merupakan negara agraris terbesar ketiga di dunia yang memiliki kekayaan alam dan hayati yang sangat beragam. Jika dikelola dengan tepat, kekayaan tersebut mampu menjadi andalan perekonomian nasional. Terpenting adalah mampu membudidayakan segala jenis tanaman asli Indonesia yang nyaris punah.
Koleksi flora di sini antara lain pohon belimbing, rambutan, sawo kecik, palm, dan lain-lain. Bibit-bibit tanaman tersebut dapat dibawa pulang, tentunya dengan cara membelinya sebagai kenang-kenangan.
Pada awalnya, perkebunan ini adalah lahan persawahan tempat menyemai benih-benih padi sehingga dahulu masyarakat mengenalnya sebagai KUD (Koperasi Unit Desa). Peralihan dari KUD menjadi Agrowisata dimulai tahun 2004. Hingga kini pembangunan Agrowisata itu mencapai sekitar 50 persen dan ditargetkan rampung tahun 2010.
Penyebabnya adalah keterbatasan dana yang dimiliki sehingga proyek ini berjalan tersendat-sendat.
Tiket masuk berkunjung masih dibebaskan. Artinya, belum dikenakan biaya bagi pengunjung. Namun jika membawa kendaraan bermotor akan dikenakan biaya Rp1.000. Biasanya pengunjung ramai berdatangan pada Minggu pagi. Tempat ini lalu dijadikan sebagai arena senam dan olahraga lainnya.
Sarana yang ditawarkan diantaranya rumah makan, area mancing, taman bermain anak-anak, gazebo, dan musholla. Rumah makan ini menghadirkan berbagai menu hidangan mulai dari ikan bakar sampai sayur-mayur yang dihasilkan dari petani setempat. Perlu dicatat sayuran di sini bersifat alami karena tidak menggunakan pupuk buatan sehingga disebut sayuran organik.
Dengan adanya Agrowisata ini masyarakat sangat senang karena dapat mengisi waktu luang untuk bersantai dan bercengkerama. Memancing merupakan kegiatan yang dapat melepaskan kepenatan. Danau buatan yang sebenarnya difungsikan sebagai tempat penampungan air apabila terjadi ancaman banjir ini dijadikan sebagai kawasan pancing gratis. Ikan di dalamnya pun sangat banyak dan beragam.
Aneh dan lucu. Terkadang sebagian masyarakat sekitar terbiasa mengucapkan kata Agrowisata menjadi argo. Mungkin karena susahnya melafalkan kata Agri atau mungkin juga akibat lebih dahulu mendengar kata argo dalam istilah tarif taksi.(pk-10)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
MUI Kuningan: Pembubaran Ahmadiyah Tunggu SK Presiden
Dibaleka Cianjur Lemah DAK TA 2007 Terancam Hangus
PDAM Serang Siap Hadapi PDAM Kota
Pantai Pabean Ilir Ditanami 250.000 Bibit Bakau
Kota Tangerang Adakan Bimtek SKPD