Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Masa Depan Timor Leste Semakin Tidak Jelas
[Politik dan Keamanan]

Masa Depan Timor Leste Semakin Tidak Jelas

PERISTIWA penyerangan terhadap Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta dan PM Xanana Gusmao oleh kalangan pemberontak, Senin (11/2) kemarin semakin mengancam perdamaian bagi negeri yang baru merdeka ini. Eskalasi politik diperkirakan akan semakin memanas. Akankah dengan peristiwa itu, masa depan Timor Leste akan semakin terpuruk dan bagaimana kondisi stabilitas politik dan keamanan yang sebenarnya? Berikut perbincangan Pelita dengan Peneliti Politik LIPI, Dr Muridan S Widjojo, kemarin, di Jakarta.

Bagaimana Anda menilai peristiwa penyerbuan oleh kalangan pemberontak militer ke kediaman Presiden Timor Leste Ramos Horta dan PM Xanana Gusmao, kemarin?
Peristirwa tertembaknya Presiden Timor Leste oleh pemberotak mengindikasikan pertarungan antar-faksi di kalangan militer Timor Leste sampai saat ini belum selesai. Persaingan antar-gerilyawan memang kerap terjadi dan akumulasinya melalui serangkaian ketidakpuasan oleh sekelompok militer terhadap pemerintah yang berkuasa dibawah pimpinan Mayor Reinaldo. Peristiwa ini merupakan kerugian besar bagi Timor Leste, masa depannya semakin suram dan mengerikan.
Menurut Anda, apa yang menyebabkan timbulnya faksi-faksi di dalam tubuh militer Timor Leste?
Yang jelas bangunan sebagai sebuah bangsa bagi Timor Leste belum terselesaikan. Perebutan kekuasaan di kalangan militer dikarenakan anggaran pemerintah yang sangat terbatas. Anggaran minim karena sumber daya alamnya sangat miskin. Maka timbullah ketidakpuasan kalangan militer terhadap pemerintah. Perekonomian Timor Leste memang sangat tergantung kepada negara lain, tidak ada sumber daya alam yang bisa diandalkan di sana.
Mengapa sampai terjadi peristiwa penyerbuan ke rumah Presiden Ramos Horta meski masih dalam perlindungan tentara PBB?
Peristiwa tersebut menggambarkan bahwa tingkat pengamanan Presiden Timor Leste memang masih sangat sederhana, sehingga dapat ditembus oleh kalangan pemberontak. Selain itu, tentara PBB dan pasukan Australia tidak bisa selamanya di Timor Leste, karena biaya penggelaran pasukan tidaklah murah.
Pasukan Australia sendiri tidak bisa melakukan tindakan untuk menjaga dan mengendalikan keamanan di Timor Leste. Pasukan Australia hanya bisa melakukan tindakan yang bersifat represif. Seharusnya untuk mengendalikan keamanan di Timor Leste adalah Angkatan Bersenjata Timor Leste sendiri.
Apa perbedaan kondisi Timor Leste ketika merdeka dengan Indonesia ketika lepas dari dari tangan penjajah Belanda dan Jepang?
Perbedaan kondisi kedua negara saat merdeka memang tidak sama, saat Indonesia merdeka, meski kondisi perekonomian Indonesia saat itu sangat lemah dan miskin namun memiliki sumber daya alam yang melimpah. Presiden Soekarno saat itu begitu optimis dalam menapaki jalan kemerdekaan. Sementara Timor Leste saat ini tidak ada yang bisa diandalkan dalam menopang perekonomian negara dan ditambah minusnya sumber daya alam. Intinya, national building Timor Leste sebagai sebuah bangsa belum matang.
Ini sekadar masa lalu saja, menurut Anda, apakah minimnya sumber daya alam menjadi salah satu alasan Indonesia melepas Timor Leste?
Kebijakan melepas Timor Leste pada masa pemerintahan mantan Presiden BJ Habibie memang lebih bersifat keputusan pragmatis semata. Artinya, daripada terus-menerus ditekan oleh dunia internasional atas invasi ilegal Indonesia atas Timor Leste lebih baik dilepas saja meski kebijakan itu dikecam oleh kalangan nasionalis.
Timor Leste akhirnya dianggap sebagai duri dan parasit dalam kebijakan diplomasi dan kepentingan Indonesia. Masuknya pasukan Indonesia ke Timor Leste saat itu tanpa mandat PBB, berbeda dengan kasus Papua, Indonesia mendapat pengesahan dari PBB.(encep azis muslim)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Presiden: Beri Kritik dengan Dosis Tepat
PKB Tetap Besar dan Siap Tanpa Gus Dur
KPU Pakai UU Lama Jika RUU Pemilu Belum Disahkan
Pemuda Harus Ikuti Logika Demokrasi Jika Ingin Memimpin
Mantan Direksi BNI ke Pengadilan