Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 20 Desember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Ngatimah Berjuang Untuk Sesuap Nasi
[Metropolitan]

Ngatimah Berjuang Untuk Sesuap Nasi

SEMAKIN beratnya beban hidup menyebabkan seorang ibu beranak tiga harus rela menarik gerobak sampah demi sesuap nasi untuk keluarganya. Ngatimah harus rela meninggalkan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil untuk dititipkan bersama neneknya di kampung halamannya di Pemalang, Jawa Tengah.
Ngatimah, 38 tahun, terpaksa datang Jakarta untuk berjuang mengubah nasib, karena untuk mendapatkan pekerjaan di daerah asalnya Pemalang sangat sulit. Timah panggilan sehari-hari ini harus mengadu nasib di kota Metropolitan bersama Kliwon, 40 tahun, suaminya yang juga sama berkerja sebagai petugas kebersihan di wilayah Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.
Ia penghasilan pas-pasan sekitar Rp275.000 perbulan sebagai pengangkut sampah. Timah bersama suaminya rutin mengirimkan uang hasil jerih payahnya ke kampung untuk menunjang kebutuhan hidup ketiga anaknya di desa. Kalau tidak dikirim, anak saya sama neneknya makan apa? Wong terlambat sehari saja, mereka tidak makan, kata Ngatimah yang mengaku hanya dapat mengirim Rp500.000 setiap bulan.
Menurut pengakuan Timah, kehidupan di kampung sangat sulit dan memprihatinkan. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan sehari-hari saja sangat susah. Jadi saya terpaksa harus ke Jakarta mencari pekerjaan, katanya.
Kendati pekerjaannya itu banyak dilakoni oleh kaum pria, namun Timah tidak merasa malu. Sebagai wanita, ia bersedia menjadi pengangkut sampah dengan penghasilan yang sangat minim. Kalo malu-malu ya nggak makan dong mas, katanya kepada Pelita.
Timah bersama suaminya harus tinggal di bedeng dipo (penampungan) tempat pembuangan sampah. Ia harus mengirit biaya pengeluaran untuk tidak mengontrak rumah hanya untuk mementingkan keluarganya di desa. Saya terpaksa tinggal di bedeng, ya tidur beralaskan tikar karena tidak ada uang untuk sewa kamar, ujar Ngatimah
Untuk makan sehari-hari, Timah berkerja keras agar dapat penghasilan tambahan dengan cara mengangkut sampah limbah kain atau benang konveksi (home industry pakaian jadi-Red). Lumayan banyak konveksi di daerah sini. Buat tambahan makan, katanya.
Menurut Ngatimah dalam sehari, ia dapat uang tambahan sekitar Rp20.000 untuk mengangkut sampah limbah konveksi. Banyak pengusaha konveksi yang meminta tolong kepadanya untuk membuang limbah agar tidak berceceran dan mengotori lingkungan sekitar. Bahkan menurut dia, ada juga bahan kain yang masih bisa dijual kembali dengan harga 1 Kg Rp2.000.
Bau dan kotoran sampah merupakan makanan sehari-hari bagi Ngatimah yang sudah berkerja hampir 3 tahun sebagai pengangkut sampah di Kelurahan Tanah Sereal. Ia sendiri sudah tidak merasakan bau atau merasa jijik, meskipun harus makan di tempat pembuangan sampah. Sudah biasa. Tidur aja ditemani tikus, kata Timah dengan tegar.
Dalam sehari-hari Ngatimah harus mengangkut sampah dari rumah tangga warga di beberapa RT dan RW yang ada di Tanah Sereal. Dengan gerobak sampah yang dapat menampung sekitar 100 Kg, Ngatimah harus sekuat tenaga dapat menarik gerobak agar sampai ke tempat pembuangan di dipo yang jaraknya sekitar 1 hingga 2 Km.
Tak jarang juga ada kendala saat gerobak sampah yang ditariknya mengalami kerusakan atau kempes ban. Ia terpaksa mengangkat gerobak yang penuh sampah itu untuk mengganti ban yang pecah akibat kelebihan beban. Semua dilakukan Ngatimah agar dapat menyambung hidup demi sesuap nasi. (owy)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
RSHJ Dipersiapkan Jadi BLU
Tarif Busway Bakal Naik dengan Sistem Zona
Ayam Tirem Berformalin Masih Dijual di Jakut
Asisten Keuangan dan Umum Jaksel Ancam Pecat Lurah
Bangunan di Lahan Pemda DKI Dibongkar Paksa