Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 27 Juli 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kebijakan Tata Niaga Gula Dievaluasi
[Ekonomi dan Keuangan]

Kebijakan Tata Niaga Gula Dievaluasi

PEMERINTAH mengevaluasi kebijakan tata niaga gula untuk mencari kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan konsumen, industri makanan dan minuman, industri gula serta petani.
Yang jelas kita pasti mencari kebijakan yang terbaik untuk kepentingan konsumen, industri makanan dan minuman, industri gula dan petani, kata Menteri Perdagangan Mari, Elka Pangestu, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Mendag menjelaskan saat ini pemerintah masih melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan SK Menteri Perdagangan No.527 tahun 2004 tentang tata niaga gula.
SK tersebut mengatur perdagangan gula rafinasi yang berbahan baku impor atau gula rafinasi yang diimpor oleh industri makanan dan minuman tidak boleh dipasarkan di tingkat eceran (untuk konsumen). Sedangkan gula kristal putih dari tebu boleh dijual pada konsumen.
Bagaimana kita mencari kebijakan yang seimbang antara stakeholder? Tunggu saja, sedang dikaji, semuanya urgent, ujarnya. Untuk sementara pemerintah akan menegakkan aturan tata niaga gula yang diberlakukan selama ini.
Selama satu bulan belakangan, kalangan petani tebu dan pabrik gula berbahan baku tebu mengeluhkan masuknya gula rafinasi ke pasar konsumsi.
Departemen Perdagangan kemudian menerbitkan Surat Menteri Perdagangan (Mendag) RI Nomor 357/M-DAG/4/2008 tanggal 2 April 2008 tentang penyaluran dan pendistribusian gula rafinasi di daerah yang menegaskan bahwa distributor gula rafinasi dilarang menjual produknya kepada peritel.
Depdag memberi waktu dua pekan kepada produsen gula rafinasi untuk membenahi sistem distribusi agar produknya tidak beredar di tingkat eceran dan mengganggu perdagangan gula tebu lokal.
Namun, produsen gula rafinasi mengaku tidak sanggup untuk menarik gula rafinasi yang telah merembes hingga ke tingkat pengecer dalam waktu yang diberikan.
Meski demikian, Mendag mengatakan tidak akan memberi perpanjangan waktu maupun sanksi jika masih ditemukan gula rafinasi di eceran.
Selama tidak ada masalah di lapangan, kita akan memantau terus, tambah mendag seraya mengatakan pihaknya telah meminta dinas perindustrian dan perdagangan daerah untuk menegakkan tata niaga gula.
Persaingan antara industri gula rafinasi dan gula kristal putih semakin ketat karena produksi masing-masing industri selalu meningkat setiap tahunnya. Sementara itu, industri makanan dan minuman besar masih diperbolehkan mengimpor sendiri.
Lima produsen
Hasil survei Sucofindo selama tahun 2007 mengungkapkan total konsumsi nasional per tahun itu sekitar 4,6 juta ton. Sekitar 3,1 juta hingga 3,15 juta ton merupakan konsumsi langsung oleh masyarakat, sedangkan sisanya adalah konsumsi industri makanan dan minuman. Total konsumsi gula nasional rata-rata 15 kg per kapita per tahun.
Saat ini terdapat lima produsen gula rafinasi dengan kapasitas produksi 2,18 juta ton per tahun. Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) awalnya menargetkan produksi 2008 1,7 juta ton, namun ditekan hingga menjadi 1,5 juta ton.
Sebanyak 57 pabrik gula tebu di Indonesia selama 2007 diperkirakan telah menghasilkan 2,44 juta ton gula. Kalangan pabrik gula tebu memproyeksikan produksi 2008 bisa mencapai 2,70 juta hingga 2,79 juta ton. Jika target produksi AGRI dan pabrik gula tercapai, maka akan ada minimal 4,2 juta ton gula yang dihasilkan selama tahun ini.
Sementara itu, industri makanan dan minuman masih melakukan impor gula rafinasi langsung untuk bahan baku produksinya sekitar 500.000 ton per tahun.
Pemerintah juga menerbitkan izin impor gula putih sebanyak 110.000 ton kepada PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI) dan Perum Bulog yang diperkirakan terealisasi 30.000 ton. (iz)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Menakertrans Lepas 200 TKI Formal Ke UEA
Industri Pelayaraan Nasional Butuh Investor
Presiden Belum Izinkan Ekspor Beras
PK Nilai Laporan Keuangan MA Tidak Transparan
Deptan Promosikan Pangan Non-Beras Melalui Korpri