Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 26 Nopember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
PAK SOEWARDJONO LUNCURKAN BUKU
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono

[Swadaya Mandiri]

Pak Soewadjono Surjaningrat, Kepala BKKBN Pusat yang pertama, 1970-1983, yang berulang tahun ke 85 pada tanggal 3 Mei 2008 yang lalu, meluncurkan buku biografinya. Peristiwa penting itu mengambil tempat di Hotel Ambara, Jakarta, pada hari Kamis 24 Mei 2008. Buku biografi yang diberi judul “Mengabdi tugas kemanusiaan” itu persiapan dan penerbitannya disponsori oleh Kepala BKKBN Dr. Sugiri Syarief, MPA. Peluncuran buku itu dihadiri oleh Kepala BKKBN yang kedua, Prof. Dr. Haryono Suyono, Kepala BKKBN yang ke enam, Dr. Sumaryati Aryoso SKM, dan Kepala BKKBN yang ke tuju, Dr. Sugiri Syarief MPA. Disamping itu hadir pula mantan Sekretaris Jendral Departemen Kesehatan, Drs. Sukaryo, mantan Dirjen Depkes Dr. Broto Wasito, sahabat dan teman-teman lama Dr. Soewardjono dari lingkungan BKKBN maupun dari lingkungan Departemen Kesehatan. Hadir pula pimpinan ulama dari berbagai agama yang aktif membantu pengembangan program KB dewasa ini.
Dalam bukunya Dr. Soewardjono mengungkapkan pengalamannya memimpin BKKBN selama tigabelas tahun dan sekaligus menaruh harapan agar program KB sebagai upaya untuk membudayakan Norma Keluarga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera lebih digalakkan lagi, utamanya dalam usaha membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera. Upaya membangun keluarga kecil menurut beliau relatif mudah karena sudah cukup bukti-bukti bahwa kita bisa melakukannya dengan baik. Tetapi upaya membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera, dalam bahasa populer mengentaskan penduduk dari lembah kemiskinan, memerlukan kerjasama dengan berbagai Departemen, Instansi dan masyarakat luas, keluarga yang kaya dan keluarga yang miskin, termasuk dukungan para alim ulama dari segala agama.
Upaya membangun keluarga tidak bisa dikarbit. Upaya ini juga tidak bisa diwakilkan kepada pemerintah dan pegawai negeri yang memungut pajak. Upaya ini tidak bisa diberikan hanya dengan memberikan BLT tetapi semua pihak harus bekerja keras, belajar dengan diikuti pelatihan ketrampilan seperti dianjurkan oleh Yayasan Damandiri melalui Pos Pemberdayaan Keluarga yang sebenarnya merupakan pengembangan Pos KB di masa lalu, atau Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu yang dikembangkan bersama oleh Kepala BKKBN Dr. Haryono Suyono dan Menteri Kesehatan Dr. Soewardjono Surjaningrat mulai tahun 1983.
Nama Dr. (HC), dr. Soewardjono Surjaningrat SpOG (K) baru muncul setelah Bapak HM Soeharto, sebagai pejabat Presiden memberikan komitmen melalui penanda tanganan Deklarasi Kependudukan Dunia pada tahun 1967 mempersiapkan tindak lanjut untuk menangani masalah kependudukan dengan sungguh-sungguh. Menurut para aktifis yang tergabung dalam organisasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dan hasil Kongres Kependudukan yang pertama di awal tahun 1967, masalah keluarga berencana banyak berhubungan dengan kesehatan ibu, anak dan upaya untuk mengajak ibu-ibu menggunakan alat KB atau kontrasepsi.
Karena itu Pak Harto menggagas pembentukan suatu lembaga yang bisa menjadi wadah secara resmi untuk mengumpulkan ahli yang bisa merumuskan dan melaksanakan program KB guna meningkatkan kesadaran masyarakat dan melayani kebutuhan mereka akan kontrasepsi. Secara hati-hati Pak Harto melangkah dan membentuk suatu lembaga semi pemerintah yang disebut Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN). Lembaga ini tidak lama karena pak Harto mulai mendapat dukungan internasional yang perlu diserahkan pengelolaannya kepada lembaga pemerintah yang lebih permanen dan resmi.
Maka kemudian digagas pembentukan suatu lembaga berbentuk Badan. Karena tugasnya mengatur hal-hal yang berhubungan dengan masalah kesehatan kaum ibu, maka pada awalnya kelengkapan badan ini dipercayakan kepada aparat Departemen Kesehatan. Sebelum badan ini diresmikan pak Harto, seperti biasa, secara cermat mencari siapa yang akan dipercaya untuk memimpin lembaga baru tersebut. Konon beberapa Jenderal senior dan dokter-dokter senior sempat ditawari pak Harto atau pembantunya untuk tampil menjadi pemimpinnya.
Lembaga baru itu tidak menarik, banyak kalangan menyangsikan keberhasilannya. Mereka tidak melihat bahwa dengan kepemimpinan yang gigih, seperti pak Ali Sadikin di DKI Jakarta, bisa berhasil, dan tidak mendapat perlawanan yang berarti dari manapun datangnya. Setelah beberapa perwira tinggi tidak “berkenan” ditawari memimpin, pak Soewardjono yang dokter TNI di Bandung mendapat tawaran. Sebagai seorang dokter ahli kandungan yang kolonel, pak Soewardjono diyakinkan oleh koleganya bahwa tawaran itu merupakan kehormatan dan sekaligus tantangan yang menarik serta memberi harapan masa depan yang sangat baik.
Pak Soewadjono yang Kolonel muda dengan gaya Yogyanya yang lemah lembut, biarpun kelahiran tanggal 3 Mei, dan berbintang Taurus yang bisa ganas, menanggapi tawaran itu dengan rasa syukur dan menerimanya tanpa perlawanan. Tempat tinggal beliau di Bandung, praktek swasta yang sangat laris, serta jabatan yang mapan di Bandung, tidak menjadi hambatan. Tantangan dan posisi yang pada waktu itu bisa dianggap menentang arus tidak mengganggu pikiran perwira yang siap berjuang tersebut. Pak Soewardjono dengan isteri yang juga dokter, tidak bergeming dan pada tanggal 29 Juni 1970 beliau dilantik sebagai Ketua BKKBN yang pertama, bersamaan dengan diresmikannya BKKBN.
Sebagai lembaga baru, BKKBN memperoleh banyak tenaga dari Departemen Kesehatan, Departemen Penerangan, ABRI, dan lembaga lainnya. Dari Departemen Kesehatan BKKBN memperoleh tenaga senior seperti Prof. Dr. Judhono, dr. Ida Sukaman dan dr. Sugeng Supari. Dari Departemen Penerangan BKKBN memperoleh tenaga senior yang telah mempunyai pengalaman sangat luas, seperti Bapak Mardhani Saryono Dipo MA, serta tenaga tehnis dalam bidang penerangan lainnya. Dari instansi lainnya juga banyak diperbantukan tenaga yang berpengalaman. Mulailah gerakan KB merambat dan menangani masalah kependudukan dengan sistematis. (Prof. Dr. Haryono Suyono, mantan Kepala BKKBN).

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
GERAKAN KB BERBASIS MASYARAKAT
Belajar dari Keberhasilan Masa Lalu
Setu Legi (Setengah Tuwo Lemu Ginuk-ginuk)
Bupati Untung: Bisnis Tanpa Etika Bisa Sengsarakan Orang Lain
Pemerintah Belum Optimalkan Lansia