Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 20 April 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Menangani Anak Jalanan
[Opini]

Menangani Anak Jalanan

Oleh: Hendrizal SIP
HARI Anak Nasional diperingati pada 23 Juli. Dalam momen ini, ada baiknya kita mendiskusikan soal anak jalanan. Ini karena mengingat, belakangan ini anak jalanan semakin banyak tampak berke-liaran terutama di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Medan, Surabaya, Bandung dan lainnya.
Sebelum krisis, prosentase terbesar anak jalanan adalah dari keluarga broken home. Sementara saat ini prosentasenya yang terbesar adalah karena dampak dari krisis ekonomi yang membuat sangat banyak rumah tangga menjadi miskin sehingga banyak pula yang menyia-nyiakan anaknya.
Seiring dengan banyaknya anak jalanan itu, akhir-akhir ini banyak pula pihak yang menyatakan peduli terhadap mereka. Namun demikian, potret masa depan anak jalanan di negeri ini masih kelihatan tetap buram. Itu karena kepedulian yang ada masih semu dan samar-samar. Sebagian besar masyarakat masih demikian berat menerima anak jalanan sebagai bagian dari warga bangsa Indonesia yang semestinya juga memiliki hak dan kewajiban.
Demikian pula soal penanganan anak jalanan, terlihat masih buruk. Itu misalnya karena penanganan anak jalanan yang dilakukan instansi pemerintah belum terkoordinasi dengan baik. Pasalnya, Departemen Sosial (Depsos) dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menjalankan program anak jalanan masing-masing tanpa saling koordinasi.
Karena hal-hal di atas, penyelesaian soal anak jala-nan sampai saat ini tidak pernah tuntas. Nasib buruk mereka tampaknya tak banyak berubah. Padahal, sebagai bagian dari bangsa ini, anak-anak jalanan itu juga memiliki hak untuk hidup layak di negara ini. Masalah itu sangat menarik kita diskusikan saat ini.
Perlu kita ketahui, anak jalanan merupakan istilah yang dipa-kai untuk menyebut anak-anak yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk bekerja di jalan. Mengenai usia anak jalanan, banyak yang mengacu pada Konvensi Hak Anak, yakni 18 tahun ke bawah. Batasan inilah yang kini banyak digunakan untuk menunjuk pengertian anak jalanan.
Studi yang dilakukan di Filipina dan Amerika Latin setidaknya memilah anak jalanan dalam 2 kategori. Anak-anak yang masih melaku-kan kontak secara rutin dengan orangtua di rumah disebut children on the street. Sedangkan anak-anak yang telah putus hubungan dengan orangtua disebut children of the street.
Kelemahan penanganan anak-anak jalanan di Indonesia selama ini adalah para pendamping ataupun instansi pemerintah terkait tidak terlebih dahulu memahami akar persoalan kemunculan anak-anak jala-nan, sehingga akhirnya mengalami ketidaktepatan dalam menerapkan model-model/strategi-strategi pendampingan. Perlu diketahui, motivasi ekonomi dan kekerasan dalam keluarga merupakan alasan yang paling sering menghantarkan anak-anak masuk ke dunia jalanan. Pilihan untuk menjeratkan diri pada kehidupan di jalanan didasarkan pada kenyataan bahwa jalan menyediakan berbagai kemungkinan mengais rezeki tanpa persyaratan formal, sebuah syarat yang tidak mungkin mereka miliki.
Selain itu, jalan juga menyimpan sejumlah aktivitas bernilai ekonomi. Tidaklah mengherankan bila di jalan anak-anak itu sanggup menyiasati kehidupan dengan menjadi tukang semir, pengasong, penge-mis, pengamen, pengelap kaca mobil, dan sejenisnya.
Kemunculan anak-anak jalanan itu juga merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dengan gejala urbanisme. Anak-anak jala-nan itu sebagian besar berasal dari daerah-daerah kawasan kumuh atau dikirim oleh para orangtuanya dari desa-desa. Sebagian lagi berasal dari keluarga-keluarga gelandangan dan anak-anak yang minggat karena tak tahan dengan tindak kekerasan dalam keluarga.
Untuk mempertahankan hidup, anak-anak jalanan rata-rata meng-habiskan waktu antara 45 sampai 70 jam setiap minggunya. Penghasi-lan mereka bervariasi antara Rp 3.000 sampai Rp 7.000 per hari. Tapi kerapkali penghasilan tersebut tidak mereka nikmati semuanya, sebab sebagian harus diberikan kepada orangtua atau disetorkan kepada anak yang lebih besar sebagai upah perlindungan.
Beberapa orangtua bahkan ada menganggap anak-anaknya sebagai pekerja, termasuk anak-anak jalanan itu. Sedangkan orangtua itu sendiri menganggap dirinya sebagai mandor. Hal itu tentu bertentangan dengan hal ideal di mata orangtua lain, di mana anak merupakan anugerah yang harus dibimbing supaya nantinya hidup dengan baik. Berbagai bimbingan diberikan, mulai dari bimbingan di dalam keluarga dengan diberikan kehangatan hingga dibekali ilmu pengetahuan pada beberapa lembaga pendidikan. Tapi para anak jalanan tidak memperoleh hal yang ideal itu.
Hal yang tidak ideal itulah yang juga antara lain menyebabkan semakin banyaknya anak jalanan. Bila kita cermati, beberapa traffic light yang ada di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, terdapat beberapa orang pengemis dan atau pengamen yang mengikutsertakan bahkan mempekerjakan anak mereka yang masih di bawah umur untuk mencari uang. Beberapa anak ada yang dipekerjakan oleh orangtua mereka, ada juga yang dipekerjakan oleh para preman yang menguasai suatu traffic light. Rata-rata mereka adalah seusia siswa Sekolah Dasar (SD). Namun ada juga anak yang berusia lima tahun ke bawah, bahkan di bawah satu tahun yang digendong oleh wanita tua. Tapi apakah anak yang mereka bawa untuk mengais rezeki di jalan itu anak kandung mereka?
Ada beberapa wanita dan pria yang duduk di trotoar mengamati para anak mereka yang tengah bekerja. Mereka cuma duduk menanti setoran uang. Ada juga beberapa wanita yang membawa seorang bayi dalam gendongan yang berjalan melewati beberapa kendaraan yang sedang berhenti sambil meminta uang. Bagi seorang anak, mereka mau tidak mau harus mau menuruti perintah dari orangtua atau bos mereka. Ada juga anak yang memang senang mencari uang dengan cara demikian karena sudah terbiasa memperoleh uang dengan mudah.
Para pengendara yang bisa juga dinamakan sebagai pemberi tampak tidak mempedulikan nasib masa depan para anak jalanan. Sebagai manusia normal, kalau melihat orang yang mengalami kesusahan, pastilah membantu. Sebagian orang akan merasa kasihan kalau yang meminta adalah anak-anak. Jika banyak orang berpikiran yang sama, maka uang yang didapat juga bertambah. Maka bagi mereka yang mempekerjakannya akan memperoleh uang yang banyak kalau membawa beberapa anak untuk dipekerjakan.
Bagi para orangtua yang menanti setoran anak mereka, uang banyak yang diperoleh adalah hal yang menyenangkan. Maka hal ini akan senantiasa terulang dan tidak akan berhenti hingga menemukan cara lain untuk mencari uang. Seperti teori operan kondisioning, respons yang diikuti reward akan cenderung diulang. Setiap hari mereka tetap saja mempekerjakan anak, karena hasil yang didapatkan bisa dikatakan banyak.
Kalau ditilik dari sisi hukum, hal itu merupakan pelanggaran Undang-Undang RI Nomor 1/2000 tentang Konvensi ILO Nomor 182 mengenai pelarangan dan tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Mempe-kerjakan anak juga melanggar hak asasi anak-anak, karena mereka juga memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, pengayoman, perlindungan, beristirahat, bersantai, dan semacamnya. Kalau semua undang-undang dan peraturan yang mengatur tentang anak ada konsekuensi bagi pelanggarnya dan betul-betul ditegakkan, maka bagi mereka yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur \'apalagi yang mengarah pada pekerjaan kasar\" tentunya akan dikenai sanksi.
Persoalan itu perlu dicatat serius. Apalagi mengingat, kebanyakan anak yang terlihat pada beberapa traffic light adalah mereka yang berusia antara 7-12 tahun. Usia seperti itu merupakan tahapan operasional konkret, di mana anak mulai dapat berpikir logis mengenai objek dan kejadian. Apa saja yang dialami seorang anak di jalanan, merupakan norma yang tidak tertulis, juga nilai yang memang semestinya dilakukan. Yang berbahaya, kalau pengaruh negatif yang dikondisikan, maka hal negatif itu pula yang tertanam.
Dalam ilmu psikologi, ada teori yang disebut teori belajar sosial. Teori ini menyatakan, seseorang mempelajari sesuatu dengan mengamati apa yang dilakukan orang lain. Melalui belajar mengamati, secara kognitif seseorang akan menampilkan perilaku orang lain dan mungkin kemudian mengadopsi perilaku tersebut (model-ling). Artinya, semua perilaku yang dilakukan seseorang merupakan hasil mengamati perilaku orang lain. Faktor-faktor seperti perilaku, kognitif, pribadi lain dan lingku-ngan, akan bekerja secara interaktif sehingga satu sama lain saling mempengaruhi.
Dalam konteks inilah penting kita catat dan waspadai tingginya tingkat kekerasan yang dihadapi anak-anak jalanan. Tidak jarang mereka menjadi obyek pelampia-san seksual ataupun sasaran pemukulan, baik dari sesama anak jala-nan maupun orang dewasa. Dalam arti tertentu, perlindungan hukum terhadap mereka cenderung masih lemah. Karena itulah, perlindungan hukum harus diupayakan secara serius oleh instansi terkait, terutama oleh Depsos. Di sini Depsos perlu berkoordinasi dengan Departemen Hukum dan HAM serta Depdiknas.
Depsos juga penting melakukan koordinasi dengan para orangtua yang memiliki anak-anak jalanan tersebut. Ini terutama mengingat, masa kanak-kanak merupakan masa bermain, yang mana di dalamnya terjadi internalisasi nilai-nilai yang nantinya akan dibawa hingga dewasa. Di sinilah peran orangtua sangat dibutuhkan dalam penanaman nilai-nilai positif sedari dini.

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana S2 PIPS Universitas PGRI Yogyakarta, Research Fellow di BRIE India

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Menangani Anak Jalanan
Menangani Anak Jalanan
Menangani Anak Jalanan
Pancasila dan Kelompok Islam
Pertarungan Parpol Islam 2009