Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 20 Desember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Metode SRI Alternatif Tingkatkan Produksi Padi
[Ekonomi dan Keuangan]

Metode SRI Alternatif Tingkatkan Produksi Padi

Jakarta, Pelita
Presiden Global Quest Rafael Pena mengatakan penanaman padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) dapat menjadi alternatif yang diterapkan secara lebih luas di Indonesia guna meningkatkan target produksi beras secara nasional.
Sistem ini, ujar dia, pada acara workshop peningkatan produksi padi dengan metode SRI di Jakarta, Senin (20/10), telah terbukti mampu meningkatkan produksi padi petani di sejumlah negara.
Dengan sistem ini disamping meningkatkan produksi juga hemat penggunaan air, bibit, pupuk dan pestisida nabati, katanya.
Rafael menambahkan sistem penanaman padi dengan metode ini sudah dimulai di Indonesia sejak beberapa tahun lalu seperti di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali dan di wilayah Indonesia Timur.
Karena itu, metode ini diharapkan terus dikembangkan dan disebarluaskan dalam rangka memberi kontribusi kongkrit terhadap program peningkatan produksi beras nasional (P2BN).
Ia yakin program pemerintah untuk swasembada beras tahun 2008 akan bisa tercapai dengan mudah kalau makin banyak petani di Indonesia beralih ke cocok tanam dari sistem konvensional ke sistem SRI yang hemat air dan bibit serta berproduksi tinggi.
Bahkan, bila hanya 10 persen saja dari persawahan teririgasi di seluruh negeri menggunakan metode tanam SRI maka target produksi beras dua juta ton pemerintah Indonesia dapat terlaksana dengan mudah.
Menurut para petani yang telah mempraktekkan metode ini, irigasi yang dihemat bisa lebih 40 persen kalau dibanding dengan cara tanam tradisional, jelasnya.
Hal ini dapat menjadi solusi nyata untuk mengatasi problem para petani di sejumlah wilayah di tanah air yang belakangan makin sering dilanda bencana kekeringan dan wilayah yang minim air irigasi khususnya di wilayah timur Indonesia.
Metode ini juga dikenal sebagai ramah lingkungan antara lain karena memitigasi terjadinya polusi asap akibat berkurangnya pembakaran jerami sehingga mampu menekan emisi gas (CO2).
Metode ini juga memitigasi emisi gas methan (CH4) yang dihasilkan oleh proses reduksi akibat penggenangan sawah. Dam mitigasi emisi Co2 dan methan akan menekan produksi gas rumah kaca yang dapat memicu pemanasan global.
Untuk satu hektar sawah hanya diperlukan 7 kg bibit SRI, jumlah ini lebih rendah dibanding pola lama yang memerlukan 40 kg bibit. Panennya bisa dua kali lipat dibanding pola tanam biasa yang hasilnya sekitar 4-5 ton per hektar, katanya. (cr-1)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
IHSG BEI Naik 1,97 Persen Ikuti Bursa Regional
Rp551,7 T Simpanan Tidak Dijamin LPS
Pencapaian Prioritas Pembangunan Ekonomi Jauh Dari Ideal
Mandala dan Total E&P Indonesie Kerjasama Layanan Udara
Kredit Bermasalah Perbankan Bakal Meningkat