Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 21 Desember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
PPN Kejawanan Cirebon Sentra Industri Perikanan
[Ekonomi dan Keuangan]

PPN Kejawanan Cirebon Sentra Industri Perikanan

PEMBAGUNAN Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan (PPN Kejawanan) Cirebon, Jawa Barat, terletak di Kelurahan Pengambiran Kecamatan Lemah Wungkuk Kota Cirebon, yang berada di bagian Timur Jawa Barat secara geografis sangat strategis karena merupakan pintu gerbang Jawa Barat bagian Timur dan dengan mudahnya menghubungkan daerah pemasaran potensial yakni Bandung dan Jakarta.
PPN Kejawanan juga menjadi sentra ekonomi berbasis industri perikanan, baik untuk sekala kecil, menengah maupun besar, dalam rangka mewujudkan Cirebon sebagai Kota Perikanan.
Salah satunya adalah PT Arteria Daya Mulia (Arida) yang berdiri tahun 1982 dan memulai operasinya sebagai perusahaan manufaktur yang memproduksi benang dan jaring ikan yang bermutu tinggi. Bahkan, perusahan tersebut optimistis dapat meningkatkan nilai ekspor jaring ikan lebih dari Rp15 miliar per bulan.
Tren permintaan jaring ikan di dunia naik. Ekspor kami sendiri menyebar ke seluruh dunia, jadi krisis keuangan di Amerika tidak berpengaruh, kita ekspor ke Amerika Latin tapi itupun sedikit hanya satu atau dua konteiner, kata Direktur PT Arida, Irawan Mulia Putra, di Cirebon, baru-baru ini.
Dia mengatakan sekitar 30 hingga 40 persen produknya diekspor melalui tiga agen di luar negeri. Produksi pabrik jaring ikan sendiri mencapai 400 ton per bulan atau mencapai 4.800 ton per tahun.
Dengan meningkatnya permintaan jaring di dalam dan luar negeri, menurut dia, akan semakin meningkatkan harga jual jaring itu sendiri. Untuk saat ini harga jaring mencapai delapan hingga sembilan AS dolar per kilogram, kemungkinan harga masih dapat meningkat.
Jaring ini produk yang menarik. Dia bukan produk konsumer, tetapi produk ini sebagai alat untuk mencari nafkah karena itu jaring selalu dibutuhkan nelayan, ujarnya.
Bukti dari adanya peningkatan permintaan jaring adalah tidak ada lagi stok jaring yang disimpan produsen jaring ikan. Kita sudah tidak bisa stok jaring lagi sekarang. Jadi kalau ada permintaan jaring harus antri dulu, biasanya antri satu sampai dua bulan dulu, kata Irawan.
Menurutnya, dalam berbisnis jaring ikan produsen jaring Indonesia tidak terlalu takut bersaing dengan negara lain karena biasanya setiap negara mengembangkan jenis jaring ikan sendiri-sendiri.
Thailand produksi jaring, Vietnam produksi jaring. Tapi setiap negara beda-beda jenis jaring yang diproduksi, ujarnya.
Menurutnya, Indonesia saat ini telah mampu mencukupi 100 persen kebutuhan jaring sebagai alat tangkap untuk domestik, bahkan telah mencapai swasembada.
Jika dihitung dari seluruh hasil produksi pabrik jaring di Indonesia, saya rasa sudah tidak perlu impor. Kita sudah mampu penuhi kebutuhan domestik, bahkan bisa dibilang kita sudah swasembada, sambung Irawan.
Menurut dia, dari produksi dua pabrik jaring besar di tanah air di Cirebon dan Medan sebenarnya telah mampu mencukupi kebutuhan jaring di tanah air. Di Indonesia selain dua pabrik jaring besar tersebut masih ada beberapa pabrik jaring lainnya.
Saat ini, dia mengatakan, impor jaring Indonesia memang kecil tetapi cukup mengganggu produsen jaring di tanah air karena harga jaring impor sangat murah. Namun, dari segi kualitas jaring Indonesia jauh lebih baik dari jaring impor tersebut.
Saya tidak bisa sebutkan itu produk impor dari mana, itu tidak etis. Tapi yang jelas pengetatan impor pemerintah bisa membuat produsen jaring tanah air tenang, katanya tidak menyebutkan produk jaring murah tersebut merupakan produk ilegal. Tetapi harga jual produk tersebut membuat produk jaring dari tanah air tersaingi.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 450 ton per bulan. Saat ini pabrik jaring besar yang berlokasi di Cirebon tersebut mampu memproduksi 400 ton per bulan atau 5.400 ton per tahun.
Produk kami sendiri telah tersebar di banyak negara di dunia. Kami kerjasama dengan 35 hingga 40 agen yang membantu penjualan jaring di Indonesia dan tiga agen untuk penjualan di seluruh dunia, ujarnya.
Dia mengatakan produk jaring perusahaannya 60 hingga 70 persen untuk dijual di dalam negeri sisanya untuk ekspor. Tren permintaan jaring di dalam negeri maupun di luar negeri pun diperkirakan akan semakin meningkat.
Jaring ini produk yang unik, bukan produk konsumer tetapi permintaannya cukup tinggi. Ini semua karena jaring berhubungan dengan kebutuhan manusia mencari nafkah, bebernya.
Selain perusahaan jaring, PPN Kejawenan juga memiliki perusahaan pengalengan rajungan yang memiliki kapasitas produksi lebih dari dua ton per hari.
Tetapi sayang sejak krisis ekonomi gelobal yang terjadi dan juga dibarengi oleh penurunan harga minyak dunia yang mencapai 60 dolar AS perbarel, akhirnya perusahaan pengalengan tersebut hanya memproduksi maksimal dua ton per hari.
Ekspor ke AS
Kepala Operasional PT PAN Samudra Mujahid mengatakan saat ini ekspor rajungan dari Cirebon ke Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan drastis sejak September 2008 seiring dengan menurunnya permintaan akibat krisis keuangan yang menimpa negara adidaya tersebut.
Penurunannya drastis sampai 50 persen. Kita dulu bisa ekspor dua petikemas dengan ukuran 15 hingga 16 ton per bulan ke Amerika, sekarang dua petikemas itu dari dua perusahaan, katanya.
Dia mengatakan hingga saat ini ekspor rajungan perusahaannya hanya dilakukan ke AS, sama sekali belum ada upaya mengalihkan pasar ekspor ke negara lain.
Hingga saat ini perusahaan kami hanya bertahan. Ada beberapa perusahaan pengalengan di Cirebon dan Pemalang mulai tutup, ujar dia.
Pasalnya pesanan daging rajungan dari AS, menurut dia, menyebabkan harga daging rajungan di tingkat nelayan menjadi semikin jatuh.
Kalau dulu sebelum ada kenaikan harga BBM dan krisis keuangan kita beli ke nelayan rajungan Rp180.000 per kilogram. Tapi sejak permintaannya turun harga juga semakin turun, sekarang saja Rp100.000 sampai Rp110.000 per kilogram, kata Mujahid.
Hal senada juga di ungkapkan Supervisor Operasional PT PAN Putra Samudra Agustinus. Menurutnya, perusahaan pengalengan daging rajungan tersebut per hari membutuhkan satu hinggga dua ton per hari.
Daging kepiting biasanya kita dapat dari nelayan rajungan di Cirebon, Pemalang, Merak, Lampung, sampai Batam, katanya.
Dia juga mengakui penurunan pesanan dari AS mulai membuat pekerja perusahaan pengalengan daging rajungan tersebut khawatir. Pasalnya beberapa perusahaan serupa di Cirebon sendiri sudah berhenti produksi. (ervin nur astuti)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Bulog Ditunjuk Sebagai Distributor Gula Pasir
KUKM Agar Tingkatkan Kemampuan Manajerial
Pengamat: Perbaiki Sistem Kredit Untuk UMKM
Renumerasi Dana Pemerintah di BI Rp3 Triliun
Pertumbuhan Kinerja Perbankan Positif