Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 20 Desember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kelurahan di Kepala Naga Emas
[Metropolitan]

Kelurahan di Kepala Naga Emas

N a m a : Uus Kuswanto
Kelahiran : Ciamis, 21 Januari 1973
Pendidikan : S1
Jabatan : Lurah MD Selatan

Wilayah Mangga Besar ibarat seekor naga emas berkepala tiga. Dikatakan begitu, karena wilayah yang terkenal sebagai pusat bisnis ini merupakan pusat bertemunya tiga kota administratif : Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.
Wilayah ini disebut naga emas karena merupakan tambang uang bagi para pebisnis. Naga emas oleh sementara orang dianggap sebagai simbol keberuntungan. Perputaran uang di situ ratusan miliar rupiah per hari. Kaum pedagang dan pencari hiburan biasa menyebut Mangga Besar dengan istilah Mabes alias Markas Besar.
Kelurahan milik Jakarta Pusat yang berada di kepala naga emas ini bernama Mangga Dua Selatan. Luasnya 130 hektar dengan jumlah penduduk sekitar 22 ribu jiwa. Mangga Dua Selatan masuk dalam wilayah Kecamatan Sawah Besar. Di sebelah utara Mangga Dua Selatan ada Kelurahan Ancol. Itu milik Jakarta Utara. Di sebelah barat, Kelurahan Pinangsia, masuk dalam gugusan Jakarta Barat.
Di kepala naga itu, ada tiga pusat perbelanjaan terkenal dengan jenis dagangan yang (dominan) berbeda. Glodok yang dikuasai Jakarta Barat, misalnya, dominan dengan barang elektronik seperti TV dan kulkas serta obat-obatan tradisional dari daratan Tiongkok. Agak ke arah timur, ada Harco Mas yang dominan dengan komputer, apartemen dan hotel bertaraf internasional. Ini milik Jakarta Pusat. Ke arah utara, ada ITC Mangga Dua, grosir berbagai produk pakaian yang jika dipandang dari Jalan Gunung Sahari, mengesankan mal-mal yang ada di Hongkong. ITC modern ini masuk ke dalam kawasan Jakarta Utara.
Berbicara tentang Mangga Dua Selatan, kantor kelurahannya terjepit diantara dua hotel bertaraf internasional. Di kiri dan kanannya, berderet pertokoan dengan pusat perbelanjaan Harco Mas sebagai jantung kegiatan bisnisnya. Secara umum, kantor kelurahan ini terkurung di pusat perbelanjaan dan perhotelan.
Tidak terlepas dari atmosfir lingkungannya yang kental dengan aroma bisnis, bentuk bangunan kantor kelurahan yang satu ini seperti menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Berbeda dengan kelurahan-kelurahan lainnya yang berada di wilayah Jakarta Pusat. Paling tidak, ada semacam sentuhan satu tangan antara pengembang yang membangun pusat perbelanjaan dengan yang membangun kantor ini. Semacam satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dulu, lokasi kantor kelurahan bukan pada lokasi sekarang. Lahan lokasi ini merupakan hasil tukar guling.
Seperti pusat perbelanjaan modern yang dilengkapi dengan restoran dan tempat hiburan, kantor kelurahan dibangun dengan semangat terpadu. Di komplek kantor lurah ini, ada puskesmas, ada gelanggang olahraga, ada kantor Dekel, Karang Taruna dan PKK. Gelanggang remaja, jika dibutuhkan, bisa disulap jadi gedung pertemuan warga.
Meski atmosfir bisnis sangat kental mewarnai aktivitas kehidupan warganya, suasana ramai bisa senyap seketika berubah menjadi suasana sangat islami. Pada hari Jum\'at, menjelang bedug sholat Jum\'at, hampir seluruh pertokoan di sekitar kantor lurah tutup. Mereka yang mengikuti sholat di masjid Nurul Abror yang terletak tak jauh dari kantor lurah, meluber sampai ke jalan raya dan emperan toko. Masjid itu memiliki nilai sejarah dan dibangun sejak ratusan tahun yang silam. Di dalam masjid, terdapat makam Sultan Bone yang oleh sebagian jamaah dan warga dinilai keramat. Di Kelurahan Mangga Dua Selatan ini, terdapat 10 Masjid, 16 Mushola, 5 Gereja dan dua Wihara/Rumah Abu. Tempat-tempat ibadah itu tersebar di 12 RW atau 129 RT.
Dugaan sebagian besar warga Mangga Dua Selatan berasal dari warga keturunan Tionghoa, perlu direvisi. Warga pribumi tetap dominan. Perbandingannya diperkirakan 70 : 30. Dugaan warga Tionghoa lebih besar, agaknya berangkat dari data penduduk berdasarkan agama. Misalnya, dari 21.845 jiwa warga, penganut agama islam kurang dari 50%. Tepatnya, 9.944 jiwa. Selebihnya, 11.901 jiwa, merupakan warga nonmuslim. Tegasnya, nonmuslim tidak otomatis warga keturunan Tionghoa. Sebab istilah nonmuslim terangkai dalam beberapa agama, yakni Kristen Protestan, Katholik, Budha dan Hindu. Artinya, kalau mau diteliti, warga yang beragama islam tetap dominan. Apalagi, warga keturunan Tionghoa pun banyak yang beragama islam. Begitu pula kalau mau ditengok dari jumlah rumah ibadah. Masjid dan mushola ada 26 buah. Sedangkan gereja hanya ada 5 buah.
Nah, lurah yang dipercaya duduk di kepala naga itu bernama Uus Kuswanto. Sudah dua tahun Uus bertugas di sana. Bahkan ketika terjadi alih tugas dan jabatan besar-besaran di lingkungan Pemerintah Jakarta Pusat baru-baru ini, Uus tetap dipercaya duduk di kepala sang naga.
Meski memilih profesi sebagai pegawai negeri, setelah lulus dari STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) pada tahun 1995, Uus tidak pernah membayangkan bahwa suatu ketika akan jadi lurah di Jakarta. Ketika memutuskan masuk STPDN setamat SMA, niat Uus sederhana saja ; ingin menjadi pegawai negeri dan bekerja di lingkungan Pemerintah Daerah Jawa Barat. Kalau bisa, dia ingin bekerja di Pemda Ciamis, tanah kelahirannya.
Itu harapan Uus. Tapi kebijakan Departemen Dalam Negeri induk semang STPDN, lain. Kebijakan itu adalah, semua lulusan STPDN disebar ke berbagai daerah di Indonesia. Uus, alumni angkatan 1995 ini, ternyata masuk dalam gerbong DKI Jakarta. Tapi hanya beberapa bulan berkantor di lingkungan Pemprov DKI, Uus kemudian ditempatkan di Kelurahan Galur, sebagai staf tanpa jabatan. Niat saya ingin bekerja. Jadi saya tak menolak ditempatkan di kelurahan, katanya.
Sebagai pegawai negeri di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta, karir Uus terbilang lancar meski sempat sekitar tiga tahun tanpa jabatan di awal karirnya di kelurahan Galur. Jabatan pertamanya adalah Sekel Kelurahan Senen, sejak 1998 sampai tahun 2002. Dari jabatan Sekkel, Uus dapat promosi jabatan Wakil Lurah. Dia ditempatkan di Kelurahan Mangga Dua Selatan. Tiga tahun sebagai wakil lurah,
Uus dilantik jadi lurah pada tahun 2005 untuk Kampung Rawa. Dua tahun kemudian hingga sekarang, Uus dipindah kembali dengan jabatan Lurah Mangga Dua Selatan. Seperti kembali ke rumah sendiri, katanya. Uus Kuswanto duduk di Kepala naga menggantikan Eko Surdaryono.(dimas adidaya)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Cuaca Buruk, Ribuan Nelayan Jakarta Tak Melaut
DPRD DKI: Usut Indikasi Korupsi di Sarana Jaya
Wakil Walikota Jakut: Pasar Sukapura Belum Tertata
Jakarta Timur Terancam Gagal Raih Adipura 2009
Perusahan Jepang Berminat Melanjutkan Proyek MRT