Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 19 April 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Keprihatinan Atas Kelangkaan Ulama Hadis
[Agama dan Pendidikan]

Keprihatinan Atas Kelangkaan Ulama Hadis

PROF Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA menyatakan keprihatinannya atas kelangkaan ulama di Indonesia dewasa ini. Lebih memprihatinkan lagi kelangkaan ulama Hadis. Studi Hadis di Indonesia terlihat masih jarang, kalau tidak dikatakan sangat langka, paparnya.
Hal itu menimbulkan banyak permasalahan tentang penggunaan Hadis palsu atau mengklaim yang bukan Hadis sebagai Hadis. Di Indonesia juga sulit menemukan orang yang disebut sebagai Muhaddis dalam arti terminologis.
Atas dasar keprihatinan itu ketiga orang ialah Ali Nurdin (sekarang Dekan Fakultas Ushuluddin di PTIQ Jakarta), Saifuddin (kini menjadi Penghulu di Brebes, Jawa Tengah), dan Khairul Mannan (kini mengajar di Brunei Darussalam) mengkaji Hadis secara mendalam bersama Ali Mustafa Yakub. Kegiatan berlangsung disekitar tahun 1996.
Melihat kepandaian ketiga mahasiswa tersebut, khususnya dalam bidang Hadis, sekelompok mahasiswa mulai berdatangan mengikuti pengajian tersebut, dan menyatakan minatnya untuk mengaji bersama. Keinginan mereka itupun akhirnya mendapat sambutan hangat, dan pada saat itu juga mereka secara resmi mengikuti pengajian.
Melihat semangat belajar mereka yang tinggi ini pengasuh berinisiatif untuk mendirikan pesantren yang selain berfungsi sebagai tempat belajar-mengajar, peserta pengajian juga bisa tinggal di pesantren tersebut (nyantri). Alasannya, jika turun hujan yang menghalangi pengajian, para santri tetap dapat menghadiri pengajian, selain itu Ali Mustafa Yakub juga tidak ingin menyia-nyiakan hasrat mahasiswa yang terus-menerus datang mengaji.
Di belakang rumahnya terdapat sepetak tanah. Sebagai langkah awal, lokasi tersebut bisa dijadikan bangunan asrama santri. Sempit memang, hingga bangunan ini terkesan seperti tempat kost. Meski demikian, orang-orang yang berminat menjadi santri kian membludak.
Seorang kiai dari Kaliwungu, Jawa Tengah, KH Dimyati Rais, berkunjung ke rumah Ali Mustafa Yakub. Kiai tersebutmengatakan bahwa tanah di sebelah rumah itu, kelak akan menjadi pesantren sekaligus asrama putra. Sementara asrama yang sedang dibangun di belakang rumah adalah khusus untuk santri putri.
Ucapan kiai yang merupakan doa, diamini meskipun sebenarnya tanah yang ada di sebelah rumah Ali Mustafa Yakub bukan miliknya. Sikap optimis ini membuat Menteri Agama waktu itu, Dr KH Tarmizi Taher, tertarik membantu mewujudkan keinginan itu. Dari sinilah, akhirnya tanah yang ada di samping rumah dapat dibeli dan mulailah dibangun gedung berlantai dua.
Mahasantri gratis
MENGINGAT belajar ilmu Hadis membutuhkan kesanggupan memahami bahasa Arab dan juga kepandaian di bidang ilmu-ilmu agama lainnya, hal ini sangat berat dilakukan mereka yang masih duduk di bangku SD/MI atua SMP/MTs dan bahkan SMA/MA sekalipun.
Atas dasar inilah, Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah ini memprioritaskan status mahasiswa sebagai santri yang berhak tinggal di sana, bahkan sebagai syarat mutlak.
Setelah resmi menyandang status mahasiswa, barulah mereka yang ingin menjadi mahasantri Darus Sunnah harus mengikuti tes masuk. Dalam hal ini calon mahasantri harus melewati dua tahapan pertama, tahap tes tulis yang meliputi tes profisiensi Bahasa Arab (TOAFL), pengetahuan dasar Ilmu Hadis, Ilmu Akidah, dan wawasan sejarah, serta pengetahuan Islam.
Setelah lulus tes tulis, mereka harus melewati tahap berikutnya yaitu tes lisan yang meliputi Qiraat al-Kutub (pembacaan kitab-kitab berbahasa Arab), Fahmul Maqru (memahami isi teks Arab sekaligus mampu menerangkannya), Nahwu, Sharaf, wawasan tentang Hadis dan Ilmu Hadis, penguasaan Bahasa Arab-Inggris, dan psikotes.
Hal ini dilakukan karena di samping tuntutan akademis pesantren juga karena keterbatasan tempat yang tidak mungkin menampung seluruh pendaftar yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Meski demikian, bukan berarti para pendaftar yang tidak lulus tes tidak diperkenankan belajar di pesantren.
Mahasantri pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah ini dikategorikan menjadi dua, yaitu muntadzim dan muntasib. Dan mahasantri muntadzim adalah mahasantri yang berhak tinggal di asrama. Dan mahasantri muntadzim inilah yang lulus dalam kedua tes tersebut. Sedangkan mahasantri muntasib adalah mahasantri yang tinggal di luar asrama. Baik mahasantri muntadzim maupun mahasantri muntasib, keduanya memperoleh pelajaran yang sama.
Mengingat seluruh mahasantri Darus Sunnah adalah mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Jakarta, maka dalam hal ini pesantren memberikan kelonggaran kepada mahasantrinya untuk aktif di berbagai organisasi kampus, baik yang intrakurikuler maupun yang ekstrakurikuler, dengan syarat tidak melanggar aturan-aturan Darus Sunnah dan juga tidak mengganggu dirasah di pesantren.
Sesuai dengan namanya, sebagian besar kurikulum Darus Sunnah adalah Hadis dan Ilmu Hadis dan juga pengetahuan keagamaan. Berikut adalah kurikulum Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah secara terinci.
Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah berada di bawah Yayasan Wakaf Darus-Sunnah dengan Akte Notaris Ny Lanny Soebroto No 1/1999. Sementara pengajar terdiri dari lulusan dalam dan luar negeri. Antara lain Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA (Master Tafsir-Hadis Universitas King Saud, Riyadh, Guru Besar Ilmu Hadis IIQ, Jakarta), H Badruddin Abdurrahman (UIN Jakarta/Universitas King Saud, Riyadh), Dr HA Sayuti Anshari Nasution, MA (lulusan Al-Azhar Mesir dan Sudan serta dosen di UIN Jakarta).
Kegiatan belajar-mengajar di Darus Sunnah tidak dipungut biaya sama sekali. Sebagai gantiya, setiap mahasantri wajib memiliki sendiri kitab-kitab yang dikaji. Pesantren juga menyediakan perpustakaan khususnya untuk literatur Hadis dan Ilmu Hadis.
Selain kegiatan belajar mengajar, pesantren juga memiliki organisasi intra-pesantren, antara lain Ikatan Mahasantri Darus Sunnah (Isdar). Lembaga Tahfidz Al-Quran al-Itqan. Buletin Dakwah Umat Nabawi (Jurnalistik). Forum Diskusi Lintas Perspektif (FDLP) Rasionalika (Forum Diskusi Dwi Mingguan). Kursus Bahasa Inggris (malam Ahad ke I dan III setiap bulan). Kursus Bahasa Arab (malam Ahad ke II dan IV setiap bulan)
Sebagai lembaga pendidikan, Darus Sunnah telah berhasil menelurkan sarjana-sarjana yang mumpuni khususnya di bidang Hadis dan Ilmu Hadis. Sampai saat ini telah tercatat hampir seluruh alumni telah terjun di masyarakat, menyebarluaskan berbagai khazanah keilmuan Islam sebagai salah satu wujud pengamalan ilmu yang telah mereka peroleh.
Tentu saja, hal ini membuat pihak pesantren bangga dan terus ingin lebih banyak melahirkan sarjana-sarjana yang tulus ikhlas, berakhlak mulia, disiplin, berdedikasi tinggi, dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan serta mampu mengamalkan dan mengaplikasikannya.
Untuk itu, sebagai salah satu bentuk usaha merealisasikan cita-cita luhur ini, Darus Sunnah telah mulai memperluas lokasi pesantren sehingga nantinya mampu menampung mahasantri yang lebih banyak lagi.
Dalam rangka pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di pesantren, Darus Sunnah juga berniat mendirikan pesantren yang setaraf dengan SLTP dan SLTA dengan tkhasshus Hadis dan Ilmu Hadis. Dengan demikian setelah lulus dari Darus Sunnah, para siswa telah mampu memahami pedoman utama ajaran agama Islam.
Darus Sunnah telah membebaskan tanah seluas 3.040 m2 yang kini sedang dalam rencana pembangunan. Tanah tersebut akan dibangun asrama khusus untuk santri putra, mulai dari tingkat Tsanawiyah-Aliyah dan perguruan tinggi. Sedangkan gedung yang lama akan dikhususkan untuk santri putri.
Gedung tiga lantai dapat menampung 400 santri, 240 santri Tsanawiyah-Aliyah, dan 160 mahasantri. Biaya diperlukan sekitar Rp10 miliar dan diperoleh dari para penginfaq. (djo)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Siapkan Ulama yang Menguasai Hadis...
Menag: Madrasah Siapkan Siswa Miliki Keunggulan Moral
STQ Tingkat Provinsi DKI Akan Digelar April 2009
Biro Pendidikan dan Mental Spiritual
Pengangkatan 56.000 Tenaga Honorer