Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 22 Desember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Catatan Imigrasi Tahun 2002 (1) Menonjolnya "Illegal Migrants" Hingga Soal BVKS
[Politik dan Keamanan]





SALAH satu dari banyak peristiwa keimigrasian yang menonjol sepanjang tahun 2002 di Indonesia adalah aktifitas menyangkut imigran gelap. Menerut data Direktorat Lalu Lintas Keimigrasian, Ditjen Imigrasi, Depkeh dan HAM, jumlah Imigran Gelap asal RRC selama 2002 adalah 201 orang yang tersebar di DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Untuk memudahkan pengawasan terhadap keberadaan dan kegiatan mereka, sejak bulan Juli 2000, telah diberikan KPWL berdasarkan persetujuan Direktur Wasdakim.


Dengan jatuhnya rezim Taliban di Afghanistan pada awal 2002 mengakibatkan berkurangnya gelombang Imigran Gelap asal Afghanistan. Semula jumlah mereka pada tahun 2001 mencapai 1.663 orang, namun berkat kerjasama dengan pihak IOM dan UNHCR telah berhasil dikeluarkan dari wilayah Indonesia; (a) kembali ke negeri asalnya sebanyak 431 orang; (b) diterima oleh negara ketiga sebanyak 319 orang. Sedangkan yang masih dalam proses penanganan UNHCR adalah sebanyak 1.124 orang dan dalam proses penangan IOM sebanyak 741 orang.


Tidak semua dari para imigran gelap yang telah ditangani tersebut merupakan warganegara Afghanistan, namun sebagian kecil juga merupakan orang asing asal Timur Tengah dan Asia Selatan, antara lain dari Irak, Iran, Pakistan, dan lain-lain yang secara tidak sah "terdampar" di Indonesia dalam perjalanannya menuju Australia.


Mengingat terbatasnya sarana Karantina Imigrasi untuk menampung mereka, maka tindakan sementara yang diambil untuk mengatasi masalah keberadaan mereka di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan tempat tinggal, biaya hidup, dan biaya pemulangan (deportasi) ke negara asal bagi yang bersedia dipulangkan, dilakukan melalui kerjasama dengan pihak UNHCR dan IOM.


Pengawasan orang asing


DALAM rangka mengatasi masalah illegal migrants atau imigran gelap asal Timur Tengah dan Asia Selatan, telah dilakukan koordinasi dalam rangka pengawasan orang asing, baik secara internal dengan UPT dan Kantor Wilayah Departemen, maupun secara eksternal dengan pihak UNHCR dan IOM.


Untuk kegiatan koordinasi pengawasan orang asing (Sipora) dengan instansi terkait, pada TA 2002 telah diselenggarakan Rapat Koordinasi pada tanggal 18 Desember yang dihadiri oleh segenap anggota Tim Sipora yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM RI No M-36.PR.09.03 Tahun 2002 tanggal 7 Mei 2002.


Materi Pertemuan Sipora tahun 2002 adalah mengenai masalah pengawasan terhadap penyalahgunaan visa dan izin tinggal dari orang asing warganegara RRC dan Kunjungan warganegara India.


Daftar cekal


BERDASARKAN rekapitulasi daftar Cekal Keadaan per Desember 2002, maka statistik pencegahan sebanyak 214 orang, dan penangkalan sebanyak 4.258 orang.


Dari 214 orang yang dikenai tindakan pencegahan, 8 orang ditetapkan oleh Imigrasi, 24 orang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dan 182 orang ditetapkan oleh Kejaksaan Agung, sesuai dengan kewenangan yang ditetapkan oleh Undang-Undang No 9 Tahun 1992 beserta Peraturan Pelaksanaannya.


Dari 4.258 orang yang dikenal tindakan penangkalan, 4.158 orang ditetapkan oleh Imigrasi, dan 100 orang ditetapkan oleh Kejaksaan Agung, sesuai dengan kewenangan yang ditetapkan oleh Undang-Undang No 9 Tahun 1992 beserta Peraturan Pelaksanaannya.


Karantina


Jumlah orang asing terkarantina yang berada di Karantina Imigrasi Kalideres - Jakarta per Nopember 2002 adalah sebanyak 85 orang, yang terdiri dari 60 orang ex Dit. Wasdakim, 1 orang ex Kanwil DKI, 1 orang ex Kanim Manado, 5 orang ex Kanim Soetta, 21 orang ex Kanim Jak-Pus, 4 orang ex Kanim Tg. Priok, 2 orang ex Kanim Batam, 1 orang ex Kanim Jak-Bar, 1 orang ex Kanim Kupang, 1 orang ex Kanim Malang, 1 orang ex Kanim Entikong, 2 orang ex Kanim Jak-Tim, 1 orang ex Kanim Cirebon, 2 orang ex Kanim Ngurah Rai, 1 orang ex Kanim Semarang.


Sedangkan kebangsaan dan jumlah orang asing terkarantina yang berada di Karantina Imigrasi di daerah-daerah.


c. Deportasi


JUMLAH orang asing yang di deportasi dari wilayah Indonesia per Desember 2002 oleh Ditjen Imigrasi adalah sebanyak 1.698 orang, yang dikenai pro yustisia sebanyak 4 orang, dari 1.694 orang yang dideportasi tersebut sebanyak 753 orang adalah ex Pengungsi, 494 orang telah melakukan pelanggaran overstay, dan 451 orang di antaranya telah melakukan pelanggaran Visa Palsu, Sponsor Fiktif, Paspor Palsu dan sebagainya.


Sedangkan deportasi yang dilakukan oleh UPT di daerah sebanyak 656 orang dengan berbagai pelanggaran keimigrasian sebagaimana terlampir (XI).


Dari segi kebangsaannya, yang menonjol adalah deportasi terhadap warganegara Irak 362 orang, Afghanistan 349 orang, RRC 320 orang, Arab Saudi 106 orang, Pakistan 54 orang, Korea Selatan 45 orang. (Lampiran XII).


Sebagai konsekwensi dari pelanggaran hukum keimigrasian yang dilakukan oleh orang asing berupa penggunaan "sponsor fiktif" untuk mendapatkan izin masuk dan izin tinggal di Indonesia, maka selama TA 2002 sebanyak 58 perusahaan yang terlibat di dalamnya, di "black list" dan tidak diperbolehkan bertindak sebagai sponsor, dengan rincian terlampir. (jones)



 

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Mayoritas DPD Golkar Pertahankan Akbar, Amien Minta Tanyakan Hati Nurani
Tentang Pemilu Dipercepat, Rakyat Diminta Tidak Terpengaruh
Yusril: RI Takkan Berbaik-baik dengan Negara yang Sewenang-wenang
su 4 Nama Penggerak Demo Bukan dari BIN Seharusnya Pemerintah Cari Akar Masalah Bukan Kambing Hitam
Dubes Brasil Perkenalkan Diri kepada Menhan