Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 20 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Pengurus Mesjid Sebaiknya Ahli Manajerial
[Agama dan Pendidikan]

Pengurus Mesjid Sebaiknya Ahli Manajerial

Depok, Pelita
Ketua Umum Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khoiru Ummah, Drs H Ahmad Yani, mengatakan minimal ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi kalau ingin menjadi pengurus mesjid. Tiga persyaratan tersebut adalah berpribadi sholeh, berwawasan, dan ahli manajerial, papar Drs H Ahmad Yani saat acara Pelatihan Manajemen Mesjid yang diselenggarakan penerbit buku Gema Insani Press (GIP) di Depok, kemarin.
Menurutnya, tiga persyaratan ini sangat penting agar aktivitas mesjid hidup dan memberikan dampak positif di tengah masyarakat. Saat ini kebanyakan mesjid tidak banyak kegiatannya, kecuali mesjid yang berada di kota-kota besar, kata penulis buku Panduan Memakmurkan Mesjid ini.
Keperibadian yang soleh, papar Ahmad Yani, sesuai dengan pesan al-Quran, orang yang memakmurkan mesjid itu adalah orang yang beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Di samping sebagai orang yang mengurus mesjid, pengurus mesjid juga sekaligus menjadi panutan bagi masyarakat, ungkapnya.
Selain tempat ibadah, mesjid juga berfungsi sebagai tempat pengkajian beragam ilmu. Dari itu pengurus mesjid, lanjutnya, juga harus orang yang berwawasan, khususnya yang menyangkut dengan masalah keagamaan dan isu-isu kekinian. Selama ini, dalam pengamatannya, terjadi friksi-friksi antar sesama jamaah karena para pengurus mesjid tidak menguasai ilmu agama. Mereka tidak bisa membuat terobosan yang solutif bagi semua jamaah, terangnya.
Dia menambahkan, mesjid merupakan tempat berbagai kegiatan, selain ibadah dan pusat ilmu. Mesjid harus bisa menjadi pusat pelayanan sosial, tempat pertemuan, dan berbagai kegiatan posistif lainnya. Makanya, pengurus mesjid harus seseorang yang ahli manajerial. Agar kegiatan mesjid bisa terlaksana dengan baik dan tidak tumpang tindih, ujarnya.
Ahmad Yani mengaku berbeda dengan mesjid di daerah, pengelolaan mesjid di kota-kota besar sudah berjalan dengan baik. Ahmad Yani menyarankan, untuk mendapat pengurus yang memenuhi ketiga persyaratan tersebut tentu sukar. Makanya, dia berharap pengurus mesjid harus kolektif. Dari itu, pengurus mesjid tidak harus ustad semua. Harus ada juga yang dari unsur Manajemen, tambahnya.
Ahmad Yani tidak sepakat terhadap masyarakat yang berlomba-lomba membangun mesjid berdasarkan kemegehan fisik semata. Apalagi mesjidnya harus dilapisi emas dan berlian. Di samping itu, ia juga mengkritik para pengurus mesjid yang bangga kalau dapat mengumpulkan saldo mesjid dengan jumlah banyak.
Kas mesjid itu uang umat. Jadi harus segera disalurkan kepada umat. Tidak boleh ditahan terlalu lama, Ahmad Yani mengingatkan. Mesjid yang memiliki banyak saldo, berarti tidak punya kegiatan. (cr-12)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Setengah Abad Kiprah A Malik Fadjar
Kualitas Guru Kaltim Membanggakan
Perpustakaan Magelang Terapkan Pinjam Gilir
Pertahankan UU No 44
Musawarah Daerah BP-4 Digelar di Balaikota Jakarta