Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 01 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Buya Syakur Yasin: BSI Konsekuensi Logis Visi Remaja
[Nusantara]

Forkim Sambut Baik Merger BPR-PK
Buya Syakur Yasin: BSI Konsekuensi Logis Visi Remaja

Indramayu, Pelita
Munculnya ide merger perusahaan daerah bank perkreditan rakyat/perkreditan kecamatan (BPR/PK) oleh Bupati Indramayu, H Irianto MS Syafiuddin mendapat sambutan baik.
Pasalnya ide merger ini untuk membentuk sebuah holding company bank dengan konsep one owner one bank (satu pemilik satu bank), ide ini mendapat tanggapan yang serius dari Ketua Forum Komunikasi Imam Masjid (Forkim) Kabupaten Indramayu Buya Syakur Yasin, MA.
Buya Syakur Yasin menilai, sebuah merger dilakukan tentunya ada maksud dan tujuan. Disamping untuk perampingan organisasi, merger dilakukan juga untuk menyelamatkan kelangsungan hidup bank itu sendiri.
Menurut Buya Syakur Yasin, Pemkab khususnya Bupati dalam hal ini bertindak sebagai pemilik berhak mengambil langkah kebijakan berkaitan dengan kelangsungan hidup BPR ke depan.
Sebagai perusahaan daerah yang menghasilkan PAD keberadaan BPR/PK memberikan kontribusi kepada pembangunan daerah. Namun itu bukan tujuan utama karena harus tetap mengutamakan fungsi intermediasi dan benar-benar menjadi andalan ekonomi rakyat, tutur Buya.
Menonjolnya hak otonomi dari bank-bank perkreditan yang menimbulkan perbedaan beberapa hal diantaranya besarnya suku bunga simpanan dan kredit, jumlah karyawan, jumlah gaji berikut tunjangannya.
Menurut Buya Syakur dalam batas-batas tertentu hal itu masih dapat dimaklumi. Mengingat luasnya cakupan wilayah, jumlah nasabah/konsumen yang harus dilayani serta prestasi kinerja jajaran manajemennya.
Adanya sedikit perbedaan antarbank perkreditan tersebut, selagi dalam batas wajar dan normatif hal itu tidak terlalu menjadi persoalan.
Kalau misalnya, besarnya gaji dan tunjangan yang tidak sama, selagi hal itu merupakan reward atau penghargaan atas prestasi kerja yang bersangkutan akan dapat lebih merangsang untuk makin berprestasi.
Namun konsekuensinya, apabila prestasinya menurun maka jangan marah atau tersinggung bila tunjangan atau reward dihapuskan, tutur Buya lagi.
Terkait dengan ide pembentukan Bank Syariah Indramayu (BSI) hasil merger BPR, menurut Buya hal itu suatu konsekuensi logis dari sebuah keinginan besar sebagai sinyal keberhasilan visi daerah Indramayu yaitu Remaja yang menekankan religiusitas.
Bila hasil merger itu nantinya menjadi sebuah Bank Syariah maka akan sangat bagus dan hal itu menunjukan dalam satu dekade terakhir ini masyarakat Indramayu telah menjadi makin Islami sehingga membutuhkan suatu lembaga keuangan yang bersyariah keislaman.
Tentunya harus dikaji lebih dalam dibarengi dengan perbaikan seluruh kualitas sistem manajemennya. Sebab kemajuan sebuah lembaga keuangan sangat ditentukan oleh kehandalan dan kualitas jajaran manajemen. Tidak kemudian menjadi suatu bank syariah lalu akan maju secara otomatis, tutur Buya mengingatkan.
Buya Syakur optimis bahwa Bank Syariah Indramayu nantinya akan maju dan diterima masyarakat karena akan banyak menawarkan program-program yang sesuai dengan syariat Islam seperti program dana talangan ibadah haji, asuransi pendidikan, program, bea siswa dan lain-lain dengan jaminan yang tidak memberatkan .
Bila dapat terwujud suatu bank Syariah Indramayu maka terasa lebih mantap dalam upaya membangun tradisi keislaman masyarakat Indramayu ke depan.
Memang dibutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sedikitnya 15 tahun untuk berhasil membangun tradisi keislaman masyarakat dimana msyarakat mau menjalankan syariat dengan kesadarannya, harap Buya.
Buya Syakur menekankan jika nanti dapat terwujud suatu Bank Syariah Indramayu, diharapkan bukan menjadi sebuah lembaga yang eksklusif yang hanya melayani nasabah dari kalangan umat Islam saja.
Tetapi harus melayani masayarakat Indramayu dari semua golongan dan agama supaya dapat lebih maju dan bermanfaat bagi kalangan yang lebih luas dan lebih banyak menjaring nasabah. (ck-106)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Jembatan Batanghari II Pertaruhan di Akhir Juni 2009
Pemprov Jabar Batalkan Rapergub Upah Buruh
Walikota Depok: Narkoba Bahaya Laten
Pekan Budaya Jadi Agenda Tahunan
Kajati Perintahkan Tahan Tersangka Korupsi