Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 23 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kesetaraan Gender: Pesona Yang Menjebak
[Opini]

Kesetaraan Gender: Pesona Yang Menjebak

Oleh: L. Fauzan Hadi

Dominasi Barat sejak masa renaisans telah memaksa umat Islam mengkonsumsi produk-produk pemikiran mereka. Dalam keadaan lemah tak berdaya, umat Islam kemudian menjadi serdadu-serdadu gerakan pemenuhan kepentingan Barat, terlebih lagi pada abad modern ini. Imbasnya merambah ke ranah kehidupan sosial, politik, ekonomi, termasuk juga pembongkaran syariat agama secara destruktif.
Gerakan semacam itu yang tampak ke permukaan beberapa dekade terakhir ini adalah gerakan kesetaraan gender. Semangat perjuangan kesetaraan gender semakin berkobar di kalangan muslimah Indonesia. Bagaimana pun, fenomena ini harus dilihat sebagai bagian gerakan yang berpengaruh dalam menentukan paradigma pembangunan bangsa.
Sebagaimana dimuat economist tahun 1995, perceraian meningkat 100 persen pada tahun 1960-1980 di Skandinavia, serta 30 persen anak lahir dari hubungan di luar nikah. David Popenoe, dalam Disturbing The Net: Family Change And Decline In Modern Sociaty, menyatakan, jumlah anak bermasalah meningkat hingga 400 persen pada tahun 1970-1980 disebabkan karena tidak terurus orang tua mereka. Daftar masalah mereka meliputi alkoholic, pengguna obat bius, dan terlibat kekerasan.
Pada abad 21, gerakan itu semakin menunjukkan perkembangannya yang membelalakkan mata dunia Islam, saat Aminah Wadud mengimami shalat jumat dengan jamaah laki-laki dan perempuan, dilakukan di sebuah gereja di New York tanggal 18 Maret 2005. Kemudian, di bidang hukum, telah muncul pula tuntutan perempuan untuk persamaan kekuatan saksi perempuan dengan laki-laki.
Di Indonesia sendiri, wacana dan isu kesetaraan gender menggema dalam khazanah intelektual muslimah mulai tahun 1989, ketika jurnal Ulumul Quran memuat tulisan karya Jane I. Smith dan Yvone Haddad. Artikel itu berusaha membongkar pemikiran agama Islam yang dianggap menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki. Dari situlah kesetaraan gender mulai memikat hati sebagian intelektual muslimah, terutama mereka yang mengenyam pendidikan Barat melalui women study.
Dalam dunia politik, perempuan Indonesia menuntut penetapan persentase keterwakilan perempuan di parlemen. Hal ini agaknya menunjukkan bahwa mereka tidak lagi menganggap anggota parlemen mewakili rakyat secara umum. Sebaliknya, paradigma mereka adalah anggota parlemen laki-laki mewakili kaum laki-laki dan anggota parlemen perempuan mewakili kaum perempuan. Dan seperti telah kita ketahui, Indonesia sendiri menetapkan 30 persen keterwakilan perempuan dalam pemilu legislatif.
Kesetaraan gender dan persamaan kelas
Kalangan intelektual muslimah serta mereka yang begitu gigih mendukung konsep perjuangan a la Barat tersebut agaknya terpukau dengan iming-iming kesetaraan. Mereka dihujani dengan doktrin bahwa kaum perempuan dikuasai, ditindas dan dikekang oleh kaum laki-laki. Oleh karenanya harus diperjuangkan supaya terjadi penghapusan batas antara laki-laki dan perempuan dalam hal apa pun.
Dasar pemikiran kesetaraan gender ini mirip dengan dasar pemikiran perjuangan persamaan kelas kaum marxis. Keduanya sama-sama membagi golongan menjadi kaum tertindas atau yang dikuasai dan penindas atau yang menguasai. Dalam hal kesetaraan gender, penindas diwakili kaum laki-laki, dan yang tertindas diwakili kaum perempuan. Sejarah telah membuktikan bahwa persamaan kelas yang mereka cita-citakan itu adalah hal yang utopis.
Perjuangan persamaan kelas didorong oleh arogansi sistem kapitalisme yang semakin mempertegas gap antara buruh dan pemodal. Sementara kesetaraan gender distimulasi oleh trauma perempuan Barat atas perlakuan yang mereka terima selama ratusan tahun saat gereja memerintah eropha. Kehidupan keras yang dialami perempuan Barat itu, sebagaimana dituliskan oleh Francis Bacon pada tahun 1612, di mana disebutkan banyak laki-laki memilih untuk hidup lajang, jauh dari pengaruh buruk perempuan dan beban anak-anak sehingga dapat berkonsentrasi pada kehidupan publiknya.
Sementara Islam, berabad-abad sebelum itu telah menempatkan perempuan pada posisi terhormat yang belum pernah didapatkan sebelumnya. Bayi perempuan yang pada masa jahiliyah dianggap aib dan menurunkan martabat keluarga sehingga harus dikubur hidup-hidup dalam Islam justru mendapat perlakukan secara terhormat. Hak waris pun baru mereka dapatkan setelah kehadiran Islam. Sayangnya, keadaan yang kontras antara perempuan di dunia Islam dengan perempuan di Barat tersebut tidak banyak diketahui oleh umat Islam sehingga para muslimah menganggap konsep kesetaraan gender juga relevan untuk umat Islam.
Antara kesetaraan dan keseimbangan
Terminologi kesetaraan sebenarnya tidak bersifat kuantitatif, melainkan menunjuk pada nilai. Kuantitas bisa berbeda, tetapi nilai bisa setara. Satu dollar amerika bisa setara dengan sepuluh ribu rupiah. Jadi, setara tidak berarti harus memaksa satu rupiah sama dengan satu dollar. Kalau taman dibangun atas tanaman-tanaman yang tidak setara tinggi dan lebar tajuknya, itulah keadaan seimbang yang menghasilkan keindahan. Jadi dalam keadaan dan peranan yang berbeda nilai semua tanaman itu sama dalam konteks keindahan taman.
Ahli pikir Barat, Bertrand Russel menjelaskan, suatu keluarga menjadi hancur karena keterlibatan kaum wanita dalam kerja-kerja umum. Hal serup diungkapkan Prof. arnold toynbee menjelaskan, dalam sejarah abad-abad keruntuhan, biasanya terjadi apabila kaum wanita telah meninggalkan rumah.
Maulana al-Maududi, seorang tokoh Islam yang terkemuka dari pakistan menilai bahwa gerakan pembebasan yang dipelopori oleh wanita Barat telah menyebabkan kaum wanita hilang sifat kewanitaannya. Kaum wanita banyak melakukan tugas-tugas serta kerja-kerja yang tidak cocok dengan tabiat kewanitaannya.
Peranan sosial yang dipaksa agar dijalankan oleh wanita Barat itu, kata al-Maududi, pada hakikatnya bukanlah suatu pembebasan malah merupakan suatu penyelewengan dan perhambaan. Akibat dari propaganda yang tidak benar dan mengelirukan itu, kaum wanita sedang coba memusnahkan kewanitaan mereka sendiri. kini mereka memandang aib untuk hidup secara natural dengan sifat sebagai seorang wanita dengan melaksanakan tugas-tugas yang cocok dengan tabiat yang telah dibagikan oleh Allah. Dan sebagai gantinya mereka mencari kehormatan di dalam merebut pekerjaan laki-laki.
Itulah yang saya maksud dengan perjuangan menuju kesetaraan dengan melakukan pelanggaran terhadap hukum keseimbangan. Dalam Islam, shalat jumat yang dilakukan oleh kaum laki-laki sama nilainya dengan shalat zuhur kaum perempuan yang dilakukan di rumah. Jadi, untuk mendapatkan nilai yang sama, tidak harus melakukan aktivitas yang sama. Perempuan, dengan segala macam sifat dan karakteristik yang melekat pada dirinya, dalam hal nilai aktivitas bisa setara dengan laki-laki justru ketika melakukan hal yang sesuai dengan keperempuanannya. Persis sama dengan memaksakan sayur-sayuran dan daging setara kedudukan dan fungsinya dengan nasi. Padahal keduanya saling melengkapi, dan tidak bisa saling merebut posisi.

Penulis adalah Ketua Umum Badan Koordinasi HMI Nusra dan anggota kelompok diskusi Nada Fajar

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Menakar Visi Budaya Pasangan Capres-Cawapres
Reformasi Jangan Berhenti
Perdamaian Aceh dalam Perspektif Pilpres 2009
Hari Keluarga dan Pembangunan Keluarga
Mengapa Pancasila