Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 22 Juli 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Mengenal Nahdlatul Wathan, Ormas Islam Terbesar di NTB
[Nusantara]

Mengenal Nahdlatul Wathan, Ormas Islam Terbesar di NTB

Nahdlatul Wathan yang lebih akrab dikenal dengan NW oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) telah berkiprah selama 74 tahun dalam mencerdaskan masyarakat Pulau Lombok, baik dari ilmu agama maupun ilmu umum lainnya.
Organisasi ini lahir sebagai organisasi dengan manajemen modern pertama di NTB yang didirikan oleh Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Zainuddin Abdul Majid, ulama lulusan Madrasah Saulatiyah Makkah Al Mukarromah.
Pendirian Nahdlatul Wathan
Nahdlatul Wathan, berasal dari dua suku kata dalam bahasa arab, yaitu kata Nahdloh yang berarti kebangkitan dan kata Wathan yaitu tanah air, Nahdlatul Wathan berati kebangkitan negeri (kebangkitan sebuah bangsa) ini tercermin dalam kiprahnya yang terus bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah Islamiyah yang selalu berpegang teguh dalam Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Madzhabil Imamisy Syafii Rodiallohu Anhu.
Cikal bakal dari NW adalah Pesantren Al Mujahidin, Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan Madrasah Banat Diniyah Islamiyah (NBDI), yang didirikan di Kampung Bermi Desa Pancor, pada tahun 1934 oleh TGKH Zainuddin Abdul Majid, tiga bulan setelah kepulangan beliau belajar di Makkah Al Mukarromah.
Menurut penuturan puteri beliau Hajjah Siti Raehanun Zainuddin Abdul Majid, pendirian pesantren tersebut terdorong karena ingin memajukan masyarakat yang pada saat itu masih dalam kebodohan dan keterbelakangan akibat dari tekanan pemerintah colonial Belanda. Maka beliau berfikir satu-satunya cara untuk mengangkat harkat dan martabat umat Islam maka diperlukan lembaga pendidikan dan diajar berbagai ilmu pengetahuan baik itu ilmu agama maupun ilmu umum lainnya.
Setelah melalui perjuangan panjang akhirnya pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 Hijriyah yang bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1937 NWDI secara resmi didirikan, hari lahir NWDI tersebut kemudian sampai dengan saat ini selalu diperingati secara meriah tidak hanya oleh murid-murid beliau dari seluruh Nusantara tetapi juga masyarakat NTB.
Eksistensi NWDI sebagai organisasi telah diakui oleh Pemerintah RI berdasarkan Akte Nomor 48 tanggal 19 Oktober 1956 yang dibuat dan sahkan oleh Notaris Pembantu Hendrik Alexander Malada di Mataram, Akte Nomor 50 Tanggal 25 Juli 1960 dibuat dan disahkan oleh Notaris Pengganti Sie Ik Tiong di Jakarta, Penetapan Menteri Kehakiman Tanggal 17 Oktober 1960 Nomor:J.A./105/5 dan dimuat dalam Tambahan Berita Negara RI Nomor 90 Tanggal 8 November 1960, AKte Nomor 31 Tanggal 15 Februari 1987, Akte Nomor 32 Tanggal 15 Februari 1987 yang dbuat dandi sahkan oleh Wakil Sementara Abdurrahim, SH di Mataram dan Akte Nomor 23 Tanggal 24 Agustus 2002 Nomor 23 yang dibuat dan disahkan oleh Notaris Lalu Sribawa, SH di Mataram dan Akta Nomor 08 Tanggal 12 Oktober 2005 yang dibuat dan disahkan oleh Notaris Lalu Sribawa, SH di Mataram.
Sejak organisasi ini didirikan telah diadakan 12 kali Muktamar dan 1 kali Muktamar Kilat Istimewa, yaitu pada tanggal 28-30 Januari 1977 di Pancor. Sedangkan setelah wafatnya TGKH. Zainuddin Abdul Majid pada tanggal 21 Oktober 1997, Muktamar telah dilaksanakan sebanyak dua kali.
Muktamar pertama, yaitu Muktamar X berlangsung Tanggal 24-26 Juli 1998 di Praya LOmbok Tengah dan yang terpilih saat itu adalah Hajjah Siti Raehanun Zainuddin Abdul Majid, puteri pendiri NW yang kembali terpilih untuk kedua kalinya dalam Muktamar XI yang berlangsung tanggal 14-16 Agustus 2004 di Anjani.
Pada Muktamar XII yang berlangsung pada tanggal 29-31 Juli 2009 ini, masyarakat NW yang dikenal dengan aniturain masih memiliki harapan besar agar Hajjah Siti Raehanun Zainuddin Abdul Majid tetap memimpin menjadi Ketua Pengurus Besar NW untuk lima tahun ke depan karena telah berhasil membawa kemajuan yang sangat signifikan bagi perkembangan NW, baik dalam bidang dakwah, sosial dan politik.
Organisasi ini beserta lembaga-lembaga otonomnya telah tersebar luas ke seluruh Nusantara, dengan Pengurus Besar (PB) di tingkat pusat, Pengurus Wilayah (PW) di tingkat provinsi, Pengurus Daerah (PD) di tingkat kabupaten/kota, Pengurus Cabang (PC) untuk tingkat kecamatan, Pengurus Anak Cabang untuk tingkat desa/kelurahan dan Pengurus Ranting untuk tingkat dusun/ lingkungan.
Untuk mengendalikan organisasi sejak Muktamar X, PBNW berkedudukan di Mataram Ibu Kota NTB. Sedangkan pusat NW dalam menjalankan kegiatannya sejak Muktamar X tanggal 25 Maret 2001 bertempat di Desa Kalijaga Kecamatan Aikmel Lombok Timur dan sejak Senin 26 Maret 2001 berpindah ke Ponpes Syaikh Zainuddin di Desa Anjani Kecamatan Suralaga.
Di Anjani NW berkembang pesat dibangun di atas komplek seluas 23 are. Berbagai lembaga pendidikan dari dasar hingga menengah didirikan, demikian juga dengan lembaga-lembaga sosial dan lembaga penyiaran seperti radio dan penerbitan lainnya. Di tempat baru inilah para Masyayikh, sebutan untuk para pengasuh/ guru/dosen menggembleng para santri untuk meneruskan tradisi pendiri NW.

Amal usaha Nahdlatul Wathan
Untuk mencapai tujuannya, NWDI melaksanakan amal usaha dalam bidang pendidikan, sosial dan Dakwah Islamiyah. Adapun jumlah lembaga pendidikan yang telah didirikan berjumlah 900 buah, berupa TK Islam, Madrasah Ibtidaiyah, SD Islam, Madrasah Tsanawiyah Muaallimin, Madrasah Tsanawiyah Muallimat, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah Muallimin, Madrasah Aliyah Muallimat, Madrasah Aliyah, SLTP, SMA, Madrasah Aliyah Keagamaan Putra-Putri, Mahad Darul Quran wal Hadits, Institut/ Universitas/Sekolah Tinggi dan Pondok pesantren.
Sedangkan untuk lembaga sosial didirikan panti asuhan, asuhan keluarga, Klinik Keluarga Sejahtera. Dalam bidang kesehatan didirikan Klinik Bersalin, Klinik Pondok Pesantren, sedangkan dalam bidang ekonomi didirikan koperasi NW.

Sejarah singkat Pendiri NW
Nahdaltul Wathan didirikan oleh TGKH Zainuddin Abdul Majid, nama kecilnya Muhammad Saggaf lahir di Bermi Desa Pancor, tanggal 17 Robiul Awal 1316 H dari pasangan Tuan Guru Haji Abdul Majid yang dikenal juga dengan nama Guru Muminah dan Hajjah Halimatussadiyah.
Muhammad Assagaf sejak anak-anak terkenal kecerdasan dan kesolehannya serta sangatlah patuh kepada orang tuanya. Setelah lulus Sekolah Rakyat (SR) 4 tahun yang dimasukinya pada umur delapan tahun, Muhammad Assagaf memohon restu kedua orang tuanya untuk menuntut ilmu ke Makkah pada tahun 1321H/1923M, kedua orantuanyalah yang kemudian mengantar ke Madrasah Saulatiyah.
Di tempat ini beliau dikenal sebagai murid yang tekun dan selalu meraih nilai lebih tinggi di antara teman-teman seangkatannya, sehingga beliau disayang oleh guru-gurunya seperti Syaikh Hasan Muhammad Al Masyasyath, Syaikh Sayyid Amin Al-Kutbi, dan Syaikh Salim Rahmatullah.
Setelah belajar selam 12 tahun di Makkah, atas perintah guru beliau yang paling dikagumi Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath pada tahun 1934 beliau pulang ke tanah kelahirannya dan mendirikan Pesantren Al-Mujahidin, Madrasah NWDI, Madrasah NBDI dan organisasi NW.
Selain aktif berdakwah TGKH ZAinuddin Abdul Majid pernah menjadi anggota Konstituante dan MPR RI serta penasehat MUI Pusat. Aktif juga berhasil menulis beberapa karya yang cukup besar seperti kumpulan doa-doa yang dikenal dengan Hizib Nahdlatul Wathan, yang setiap malam Jumat ramai dibaca di masjid-masjid, surau, dan pondok pesantren di Pulau Lombok, serta puluhan karya tulis lainnya. Lagu-lagu karangan beliau juga sangat akrab di telinga masyarakat Pulau Lombok tidak hanya di lingkungan Abituren NW.
Ulama yang masyhur sampai di tanah Arab ini wafat pada pukul 19.53 WITA, hari Selasa 20 Jumadil Akhir 1418 H/21 Oktober 1997 M. Sederet nama cucu beliau yang siap berjuang meneruskan kiprah NW, di antaranya cucu tertua TGH Lalu Gede Muhammad Wira Sakti Amir Murni, Lc yang baru pulang menuntut ilmu dari Yordania dan Raden Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, Lc alumni Madrasah Saulatiyah.

Mahad Darul Hadits Wal Quran
Untuk meneruskan tradisi keilmuan yang didapatkan di Madrasah Saulatiyah Makkah Al Mukarromah, TGKH ZAinuddin Abdul MAjid mendirikan Mahad Darul Hadits Wal Quran (MDQH), sebuah perguruan tinggi yang khusus sebagai tempat mendalami ilmu agama, yang ditempuh selam empat tahun bagi santri laki-laki dan tiga tahun bagi santri perempuan.
Cara belajar di MDQH adalah dengan halaqah (bersila) mengikuti cara ulama Salaf dengan berbusana putih bawah dan atas. Sejak mula tahun 1998 setelah mendapat petunjuk gaib dari TGH Zainuddin Abdul Majid, puteri beliau Hj Siti Raehanun Abdul Majid, MDQH yang ada di Pancor kegiatannya dipindah ke Anjani.
MDQH sebagian besar masayikhnya (dosennya) adalah alumni Madrasah Saulatiyah, karena itu tradisi keilmuan di MDQH Anjani masih tetap sama seperti apa yang diajarkan oleh pendiri NW. Salah seorang dari masyayikh tersebut adalah cucu kesayangan beliau dari Raden Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, LC, salah seorang harapan baru bagi kemajuan Nahdlatul Wathan. (darma/zul/sak)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
LSM GMP Laporkan Kepala DPU Banten ke Polda
Desain Pembangunan Jalan Simpang Palima Diubah
Digelar di 115 Titik Pemko Medan Subsidi Pasar Murah
Desain Pembangunan Jalan Simpang Palima Diubah
Terkait Pembangunan Ruko Bermasalah