Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 30 September 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Dr KH Ahmad Suhaimi Hasan Dikenal...
[Agama dan Pendidikan]

Dr KH Ahmad Suhaimi Hasan Dikenal Sebagai Kiai Eces

ECES Bu? Eces Pak? Kata inilah yang kerap meluncur dari mulut mubaligh kondang dari Kota Tangerang saat menanyakan benar atau setuju saat ia menyampaikan dakwahnya.
Adalah Dr KH Ahmad Suhaimi Hasan, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum ini aktif berdakwah demi kemaslahatan umat Islam di wilayah Kota Tangerang, Provinsi Banten.
Kiai kocak dan banyak penggemar ini sempat menjadi anggota DPRD Kota Tangerang selama dua periode (1993-2003). Kini ia dipercaya sebagai Ketua Forum Komitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kota Tangerang, Pengurus Masjid Agung Al Ittihad Tangerang, dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum. Saya sampai sekarang masih aktif berdakwah di berbagai tempat, termasuk di Pemda Kota Tangerang, ucap Suhaimi.
Ahmad Suhaimi dilahirkan pada 12 April 1946 di Kampung Kedung Dalem, Desa Kedung Dalem, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang; sekira 21 kilometer sebelah utara Kota Tangerang. Ahmad Suhaimi adalah anak dari pasangan Hasan bin Muhidin bin Adzim dan Rodiah binti Rasimin bin Wala bin Sarbi.
Suhaimi menuturkan kehidupan kecilnya sebagai anak petani. Ia selalu membantu ayahya di sawah sebagai petani penggarap (macul, nandur, babat rami, ngoyos, dan mikul padi) selama 6 tahun dari Kelas I-VI SR (Sekolah Rakyat).
Setelah pulang sekolah dan makan siang, saya menjemput ayah yang berjarak 5 kilometer untuk memikul ubi jalar, karena ayah setiap hari berangkat ke daerah Rajeg Tangerang untuk membeli ubi jalar di kebun.
Lalu ubi tersebut, diserahkannya kepada ibunya untuk dijadikan kue-kue sejenis ubi-ubian seperti getuk, nyul, ketimus, gengsot, gatat, dan orog-orog. Kadangkala saya membantu ibu untuk mengambil daun kangkungan. Walaupun tugas berat, saya tetap mengaji di pesantren sampai pulang pagi sebagai santri kalong.
Pada tahun 1956, saat Suhaimi Kelas VI SR, ayah bundanya pindah ke Kampung Gunung, Sasak Mauk. Di kampung tersebut terdapat sebuah pesantren tradisional yang didirikan oleh KH Musa (almarhum) bin Jalim sebagai tempat belajar mengaji Al-Quran dan kitab-kitab kuning.
Dari sanalah ia mulai menempa diri. Dengan berbekal ilmu agama, dia mengembara dari satu pesantren ke pesantren yang lain, dari satu kiai di suatu daerah ke kiai yang lain di daerah yang lebih jauh, yaitu belajar kepada KH Arsyad di Kampung Bojong Sasak Mauk. Setelah tamat SR tahun 1957 terus mengaji di kampungnya. Baru pada awal tahun 1960 ia menuntut ilmu di Pondok Pesantren Salafiyah KH Muhiddin (almarhum) Kosambi, Sepatan Tangerang. Selanjutnya, Suhaimi belajar di Pontren Assalam Gerendeng Tangerang yang dipimpin oleh KH Abul Rohim dari tahun 1961 hingga 1967 (selama 6 tahun) sambil mengaji kitab-kitab alat (balaghoh) kepada KH Rifai di Pabuaran Sibang Tangerang dan masuk sekolah SMI (Sekolah Menengah Islam) Al Husna, Jalan A Damyati Tangerang hingga mengikuti ujian UGA (Ujian Guru Agama). Tahun 1965-1966, Suhaimi diangkat menjadi PNS Departemen Agama.
Selain belajar di pesantren salaf, saya belajar di SR sampai perguruan tinggi di Universitas Islam Syekh Yusuf (Unis) Kota Tangerang hingga tamat dengan gelar S-1 pada 1981, kata Suhaimi.
Ahmad Suhaimi menikah pada 1967 dengan seorang gadis bernama Embay Nadiyah binti KH Muhajar di Kenaiban Kota Tangerang. Saat itu ia masih bekerja sebagai ustadz yang keliling dari satu surau ke surau dan dari masjid ke masjid, mengajar di SD, madrasah, majelis taklim, dan di Pontren Assalam Gerendeng Kota Tangerang.
Setiap bulan puasa, walaupun sudah berumahtangga, Suhaimi mengisi bulan tersebut dengan mesantren kilat, antara lain di Kadu Kaweng --Pandeglang pada KH Sanja dengan mendalami ilmu Nahwu, kemudian di Kampung Sawang-- Medang Asem-Rengas Denglok, Kabupaten Karang pada KH Hasan Basr (Kang Obay), selanjutnya di Citeko-Plered Purwakarta pada KH Muhdi (almarhum), lalu di Goappara Sukabumi pada KH Mahmud, hingga akhirnya pada bulan Ramadhan tahun 1983 beliau mesantren pasaran tentang ilmu tauhid di Manonjaya Tarikmalaya. Saat itu KH Khoer Affandi (almarhum) berkata: Engkau tidak akan aku anggap sebagai santriku, jika engkau tidak membangun pesantren.
Kalimat sederhana namun berbobot ini menjadi pemikiran mendalam bagi Suhaimi, sehingga dengan tekad yang kuat dan restu kiai mulailah Suhaimi membangun pesantren di Kampung Rawarotan. Kampung yang awalnya tempat orang berjudi, mabuk-mabukan, dan lainnya. Namun dengan kegigihannya, masyarakat akhirnya sadar dan meninggalkan kegiatan buruk tersebut.(sidik m nasir)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Acara The Master agar dihentikan
MUI Se Jawa dan Lampung Fatwakan Debus Haram
Hari Mukti: Aksi Teroris Rugikan Islam
Program Studi Kependidikan Makin Diminati
Antusias Tuna Netra Ikuti Lomba Braille Tinggi