Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 25 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Yayasan Ponpes Darul Muttaqin Berawal...
[Agama dan Pendidikan]

Yayasan Ponpes Darul Muttaqin Berawal dari Mushala Kecil

MALAM itu, tepatnya seusai sholat Isya para santri melakukan aktifitas rutin, mengaji kitab kuning. Santri putra dan santri putri tampak membawa kitab kuning menuju ruang pengajian bersama. Rupanya malam itu giliran jadwal pengajian Tafsir Jalalain.
Para santri tampak tertib dan serius mengikuti pengajian oleh KH Acep Basuni, MPdI, Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Darul Muttaqin Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat ini.
Para santri mendengarkan penjelasan sang kiai dan menyimak (melihat tulisan Arab yang dibaca kiai), sambil sesekali mencatat arti dari bacaan yang dibaca kiai tersebut.
Kalau ada penjelasan atau arti dari makna yang dibaca lalu saya nggak bisa ya... saya tulis, ujar seorang santri.
Ia mengaku, dengan sistem mengaji bersama dan para santri membawa kitab yang dikaji, ada nilai lebih yang diperolehnya. Selain bisa membaca kitab kuning, juga mendapatkan ilmu dari penjelasan pak kiai.
Itulah yang namanya mengaji secara wetonan (bersama-sama), para santri diharuskan membawa kitab yang dikaji, kata KH Acep Basuni kepada Pelita.
Di pesantren ini, para santrinya juga diharuskan mengaji secara sorogan (mengaji secara individual dengan membawa kitab tertentu langsung di hadapan kiai). Itu tak lain untuk melatih santri secara langsung bisa membaca kitab kuning, dan itu secara mandiri.
Masing-masing santri tentu khatamnya/selesainya berbeda-beda, ada yang lebih cepat ada yang lambat, tergantung dari santrinya sendiri. Tapi terus kita pacu agar mereka benar-benar memahami kitab kuning, ujarnya.
Kitab-kitab yang dikaji, diantaranya yakni Al-Quran, Tafsir Jalalain, Al-Fiyah Ibnu Malik (Nahwu Shorof), Nagom Maksud, Imriti, Jurumiyah, Taqrib (fiqh), Safinatunnajah (fiqh), Fathul Muin (fiqh), Mabadi Awaliyah (Ushul Fiqh), Tijan Darori (Tauhid), Talim Mutaalim (Akhlak), Hadis Arbain, Bulughul Maram (Kitab Hadis), Tanqihul Qaul (Hadis), Nasoihul Ibad (Tasawuf), Hidayatul Mustatid (Tajwid), dan Balahah Wadihah.
Bagi orangtua, wali murid, atau para santri sendiri menuju pondok pesantren ini tidak sulit karena berada di pinggir jalan, tepatnya di Jalan Siliwangi Km 11.5 Pangkalan I B Bantargebang Bekasi. Mereka bisa naik bis maupun Angkot baik dari arah Jakarta, Bekasi maupun Bogor.
Seiring dengan waktu dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi rupanya kiai yang satu ini terus mengamati perkembangan zaman. Sistem pelajaran yang diberikan tidak hanya terbatas pada pendidikan ala salafi. Artinya, seorang santri hanya belajar kitab kuning, tetapi tidak mengikuti pendidikan secara formal, seperti sekolah.
Ketika pendidikan sistem salafi kita terapkan, para santri ya... belajar kitab kuning saja, fokus pada ilmu agama saja. Sehingga para santrinya sepertinya tidak terikat, setelah tiga bulan ada yang pulang. Lalu kembalinya... ya.. terserah dia saja, ujar Kiai Acep.
Ia mengaku, kalau sekarang Pesantren Darul Muttaqin sudah memiliki gedung sekolah dan asrama untuk santri, bukan datang begitu saja. Namun ada upaya sungguh-sungguh dan kerja keras yang disertai doa untuk jihad melalui dunia pesantren.
Hasilnya alhamdulillah, Anda bisa lihat sendiri, kata KH Acep Basuni yang juga Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Kota Bekasi ini.
Asal muasal berdirinya pesantren ini, kata Kiai Acep, hanya tekad yang kuat, sebab awalnya hanya sebuah mushalla kecil yang berada di lingkungan rumahnya.
Dengan bekal mushalla kecil itu, kita syiarkan Islam, kita ajari anak-anak tentang Islam, kita adakan majelis taklim dan lain sebagainya, seperti halaqah anak-anak. Itu terjadi tahun 1991, kata Kiai Acep.
Istilah orang bilang dari tidak ada menjadi ada. Melihat jemaah lama kelamaan terus bertambah akhirnya tanah milik orang tuanya dan sebagian kecil wakaf dibangun gedung pesantren secara bertahap. Tahun 1999 didirikanlah SMK, dengan berdirinya SMK tersebut jumlah santri lambat laun terus bertambah. SMK Bisnis Manajemen Al-Muttaqin berupaya menciptakan kejujuran yang memadukan ilmu pengetahuan agama dan umum.
Mengapa saya mendirikan SMK Al-Muttaqin karena saya tidak mau ada lulusan santri yang menganggur. Harus ada keahlian, pekerjaan dan mampu mandiri, maka kita bangun SMK, agar para lulusannya siap bekerja, ujarnya.
Dan, terbukti kini para lulusannya sudah banyak yang bekerja. Siapa bilang santri itu nggak bisa bekerja? Ternyata mereka tekun dalam bekerja dan berdakwah, itu menyatu, ujarnya.
Kini, di Yayasan Pondok Pesantren Darul Muttaqin sudah ada TK, PAUD, Diniyah, SMK, Majelis Taklim, Pusat Kesehatan Pondok
Pesantren dan Koperasi Pesantren dan ikut mengurus yatim piatu. Semuanya itu berjalan dibawah binaan suami-istri, yakni KH Acep Basuni, MPdI dan istrinya Hj Nurhayati, SPdI. Selain itu, juga didukung para ustadz dan guru yang mahir dibidangnya masing-masing. (kim)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
SMAN 39 Cijantung Banyak Mengukir Prestasi
Ormas Islam Dihimbau Kembali ke Cita-Cita Awal
Kurangi Pengangguran Sarjana Lewat PKM, Co-op dan PMW
Tingkatkan Taraf Hidup Manusia
PMI Jakarta Utara Rp 2,5 Miliar