|
[Swadaya Mandiri] Seperti diduga sebelumnya dalam Konperensi tingkat tinggi di Markas Besar ESCAP di Bangkok, yang pada tahun 1970-an ikut menjadi pelopor gerakan mengatasi masalah kependudukan yang gawat pada masa itu, menjadi ajang pertemuan yang mesra karena banyak sesepuh di masa lalu merasa bersyukur pekerjaan besarnya dalam menangani masalah kependudukan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kemesraan itu membawa manfaat karena para pejabat tinggi, ahli-ahli pembangunan dan wakil negara-negara donor lainnya, sadar bahwa kemajuan struktur dan ciri kependudukan yang berkembang dewasa ini belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik oleh banyak negara. Beberapa negara Asia Pasifik yang cerdas dan memanfaatkan faktor kependudukan sebagai potensi yang tersembunyi memetik hasil yang menggembirakan. Tetapi negara-negara yang memandang enteng dan tidak mengadakan investasi yang memadai pada sumber daya manusianya tetap saja bergerak lamban karena penduduk yang kualitasnya rendah.
Kalau pada tahun 2000 lalu, negara Asia Pasifik dan Afrika seakan membagi proporsi penduduk miskin dunia sama rata, para ahli memperkirakan bahwa dengan struktur dan ciri penduduk yang makin baik karena keberhasilan penanganan di masa lalu, dan penduduknya makin bisa dimanfaatkan untuk pembangunan, seperti terjadi selama sepuluh tahun terakhir di beberapa negara, pada tahun 2015 nanti proporsi penduduk miskin dunia di wilayah ini bisa tinggal 10-12 persen saja dari seluruh penduduk miskin dunia. Tetapi sebaliknya, Afrika yang masih harus berjuang mengubah struktur dan ciri penduduknya yang belum menguntungkan, akan menjadi rumah dari hampir 70 persen penduduk miskin dunia.
Salah satu yang mendorong keberhasilan tersebut adalah adanya phenomena kemajuan dengan makin tingginya tingkat pendidikan dan mobilitas penduduknya. Di masa lalu penduduk Asia Pasifik umumnya mempunyai tingkat pendidikan rendah. Karenanya di banyak negara, termasuk di Indonesia, perubahan struktur dan ciri penduduk itu belum menghasilkan kebijakan baru dalam penanganan pembangunan secara eksplisit. Umumnya pembangunan ditekankan pada ketersediaan sumber daya alam, modal dan tehnologi. Kekuatan sumber daya manusia, kecuali untuk negara-negara seperti Jepang, Cina, Korea dan Singapura, belum secara maksimal dimanfaatkan.
Alasannya sangat sederhana. Penduduk Asia Pasifik yang setengah abad lalu umumnya berusia sangat muda berubah dengan cepat menjadi penduduk dewasa atau penduduk tua belum banyak disadari sebagai potensi baru karena miskin dan tingkat pendidikannya rendah. Biarpun secara teoritis sangat menguntungkan tetapi pemerintah dan penanggung jawab lainnya harus bekerja keras melakukan pemberdayaan yang intensif. Kebijaksanaan untuk itu tidak seluruhnya muncul sehingga apabila tidak waspada, aspirasi dan permintaan penduduk dewasa akan jauh lebih rumit untuk dipenuhi.
Karena itu keberhasilan Asia dan Pasifik dalam penanganan masalah kependudukan tidak boleh dikendorkan. Kalau pengendoran itu terjadi, dengan pasti akan terjadi ledakan penduduk baru yang jauh lebih dahsyat. Ledakan itu tidak akan disertai tingkat kematian yang tinggi, tingkat kesabaran yang sama karena kualitas penduduk yang lebih baik, tetapi akan melejit menjadi katatrophi multi faset yang sangat berbahaya. Aspirasi dari penduduk dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi akan menghasilkan gerakan yang dahsyat dan bisa berkembang menjadi revolusi sosial yang belum pernah ada di dunia.
Pertemuan tingkat tinggi di Markas ESCAP di Bangkok tanggal 16–18 September 2009 mendorong pejabat tingkat tinggi di wilayah Asia Pasifik makin yakin bahwa dunia harus dibawa kepada upaya pembangunan dengan menempatkan penduduk sebagai titik sentral pembangunan. Setiap rencana dan pelaksanaan pembangunan sebaiknya menempatkan penduduk sebagai pelaku pembangunan yang cerdas dan cekatan, sekaligus mengarahkan pembangunan pada penduduk tertinggal, pendidikannya rendah dan miskin. Prinsip kebersamaan, sama-sama kerja keras, sama-sama mengambil peran, dan sama-sama menikmati hasil pembangunan secara proporsional perlu dijadikan pedoman untuk menghasilkan masyarakat yang adil dan makmur dalam suasana kependudukan yang seimbang dan bisa menikmati hasil pembangunan secara lestari. (Prof. Dr. Haryono Suyono,Mantan Menko Kesra RI).
|