Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 27 Agustus 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Cinta Lingkungan yang Membawa Berkah
[Opini]

Cinta Lingkungan yang Membawa Berkah
Oleh Haryono Suyono

Berapa hari lagi musim hujan akan melanda tanah air kita yang tercinta. Musim hujan selalu membawa keuntungan dan kerugian yang biasanya saling isi mengisi. Musim hujan akan membawa berkah kepada para petani karena datangnya musim hujan merupakan awal dari kegiatan bertanam yang menghasilkan produk untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya. Musim hujan, kalau berlebihan juga membawa petaka karena banjir, tanah longsor dan korban yang terbawa arus atau longsoran tanah yang menimpa rumah tangganya.
Dalam keadaan seperti ini, pemerintah, melalui Menteri Pertanian dan Menteri Lingkungan Hidup selalu akan tampil dengan petunjuk-petunjuknya melalui pemeritnah daerah dan aparatnya atau gerakan para Lembaga Swadaya Masyarakat sebagai ajakan untuk waspada sekaligus memanfaatkan peristiwa musim hujan dan bawaannya untuk sebesar-besar kesejahteraan bangsa. Para petugas bencana, sewaktu kami menjabat Menko Kesra RI, kami anjurkan untuk mengadakan /gladi/, /gelar kesiap siagaan /menghadapi bencana banjir. Perahu-perahu karet yang biasanya ditumpuk dan tidak diisi udara, mulai dipompa dan dilihat apakah tidak ada yang bocor dan siap pakai sewaktu terjadi banjir diluar banjir biasa seperti terjadi secara rutin di kali Ciliwung atau kali lainnya yang mudah diatasi.
Menteri Pertanian dan aparatnya, termasuk para penyuluh lapangan sudah tahu tugasnya. Biarpun pupuk makin mahal harganya para petani bisa juga mengurangi ketergantungannya dengan membuat pupuk komposnya sendiri. Mereka bertahun tahun sudah biasa menghadapi musim hujan dan musim tanam yang selalu datang setiap tahun. Para petugas mendampingi dan memberi semangat agar pola tanam dilakukan secara makin canggih dan membawa hasil yang menggembirakan.
Pada posisi pecinta lingkungan serta dukungannya terhadap pembangunan ada baiknya mulai dipikirkan untuk memindahkan hutan ke halaman rumah dengan jenis tanaman yang setiap hari segera dapat digunakan. Dalam gagasan pembangunan bertumpu pada manusia, yang akhir-akhir ini mendapat perhatian yang makin tinggi, keluarga dan anggotanya diperlakukan titik pusat pembangunan lingkungan yang membawa manfaat langsung. Manusia dikelilingi minimal secara sederhana oleh /lima ring /atau /lima lingkaran /lingkungan yang memberi kehidupan menguntungkan/. /Ring pertama adalah halaman rumah dan sekitarnya. Ring ini harus menjadi tanggung jawab setiap keluarga. Lingkungan sekitar rumah sebaiknya diubah menjadi /hutan/ dengan tanaman yang segera bisa dimanfaatkan oleh setiap keluarga dan anggotanya.
Lingkaran /hutan /sebaiknya berbentuk /Kebun Bergizi, /yaitu kebun yang tanamannya adalah tanaman siap dimasak berupa sayur mayur, tomat, cabai, kolam ikan, lele, atau tanaman berupa ketela rambat, atau semacamnya. Pagar-pagar bagian belakang bisa saja ditanami dengan pisang, atau tanaman keras yang ditebang setelah lima atau sepuluh tahun. Kalau halamannya sempit, setiap keluarga bisa menanam dengan cara susun sehingga membuat semarak halaman yang sempit tersebut.
Ring kedua /adalah kebun atau sawah yang dimiliki setiap keluarga. Penanggung jawab ring ini adalah setiap keluarga pemilik kebun atau sawah tersebut. Kebun dan sawah dijadikan /hutan hijau/ dengan tanaman ekonomis yang menghasilkan produk laku jual dan untung. Setiap keluarga seyogyanya pandai-pandai memilih tanaman yang membawa keuntungan dengan biaya tanam dan pemeliharaan yang paling minimal.
Ring ketiga /adalah/ /pinggir jalan di depan atau di sekitar rumah masing-masing. Termasuk didalamnya adalah jalur-jalur parit serta tempat pembuangan sampahnya. Pada jalur ini, biarpun jalan adalah fasilitas umum, karena terletak di pinggir rumah masing-masing, setiap keluarga bekerjasama dengan keluarga di sebelahnya, mengambil tanggung jawab yang setinggi-tingginya. Setiap keluarga bertanggung jawab untuk menanam dan memelihara tanaman di pinggir jalan di depan rumahnya. Apabila memungkinkan dipelihara juga jalan-jalan sebelahnya yang tidak mempunyai rumah yang berdekatan. Setiap keluarga bertanggung jawab, bersama keluarga lainnya, untuk memelihara kebersihan parit-parit yang membawa air dan kotoran agar tetap mengalir lancar.
Ring keempat/ adalah tanah-tanah kosong, yang sebaiknya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten atau desa. Tanah-tanah kosong tersebut, apabila oleh yang bersangkutan belum dimanfaatkan, sebaiknya ditanami dengan tanaman yang ada manfaatnya untuk membantu gizi anak-anak balita yang ada di desa tersebut, tetapi orang tuanya kurang mampu dan tidak mempunyai rumah atau halaman yang memadai. Keluarga yang bersangkutan dapat ditugasi untuk membantu memelihara di tanah kosong tersebut.
Ring kelima adalah hutan, pinggiran pantai serta pinggiran sungai. Penanggung jawabnya adalah pemerintah kabupaten/kota atau pemerintah pusat. Tangung jawab penghijauan untuk wilayah ini sebaiknya pemerintah. Apabila diperlukan partisipasi diharapkan tidak membebani rakyat karena masyarakat lebih dipusatkan tanggung jawabnya pada Ring satu sampai Ring yang ketiga. Sebaliknya pemerintah, kelurahan, kabupaten/kota dan propinsi/pusat mengambil tanggung jawab dari Ring ke enam sampai ke tiga. Dengan cara demikian maka pengembangan lingkungan mempunyai arti ganda, untuk kepeintingan pembangunan manusia dan memelihara kelestarian lingkungan. Cinta lingkungan bukan sekedar membuat lingkungan hijau atau hutan tidak gundul lagi, atau sungai mengalir airnya dengan baik dan sampah tidak lagi menyumbat, tetapi keluarga menjadi bertambah lebih sehat dan sejahtera.
(Penulis adalah Ketua Umum DNIKS)


 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Mandulkah Birokrasi Seni dan Budaya Indonesia ?
Mendesak,Penyusunan Prolegda
Masa Depan Afghanistan
Ramalan Musibah
Zakat Untuk Si Miskin