|
[Swadaya Mandiri] Minggu lalu Presiden SBY menggelar “Summit” suatu pertemuan tingkat tinggi antara pemerintah, lembaga-lembaga swadaya masyarakat serta kekuatan pembangunan lain dalam masyarakat untuk menyampaikan rancangan program pembangunan dan sekaligus menampung gagasan-gagasan dari masyarakat yang bisa dimasukkan dalam program pertama selama 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II. Pertemuan itu dipersiapkan dengan matang dalam bidang Ekonomi, Kesra dan bidang pembangunan lainnya.
Pertemuan itu tidak saja menggelar pengarahan dari Presiden dan para Menterinya, tetapi dibagi dalam sesi-sesi yang secara sungguh-sungguh ingin menampung gagasan dan kemungkinan tambahan lain yang bisa mempertajam dan memperkuat gagasan dan rancangan yang telah disiapkan dengan kerja keras oleh para pembantu Presiden, dan kemudian diolah lagi oleh para Menteri baru yang diajak Presiden untuk memimpin pelaksanaan gagasan dan melaksanakan rancangan kerja 100 hari pertama tersebut. Rancangan yang disiapkan dengan matang, tetapi dalam waktu yang sangat singkat, serta upaya menampung gagasan dari masyarakat madani yang juga sangat singkat, sudah tentu tidak cukup, sehingga pelaksanaan dari gagasan selama 100 hari kiranya bisa menjadi forum untuk penyempurnaan lebih lanjut agar upaya membangun masyarakat sejahtera dapat dilaksanakan dan membawa perubahan berupa hasil yang diharapkan.
Dimasa lalu ada pameo NATO, alias “No Action Talk Only”. Pameo tersebut diperbaharui oleh Dirjen WHO pada akhir bulan September lalu dengan kata-kata yang lebih sopan “We always talk, but we never walk”. Pembaharuan sindiran itu mengandung pesan agar pertemuan “Summit” yang digelar minggu lalu dapat dikuti dengan dukungan operasional program yang sistematis dan dana yang memadai sehingga gagasan-gagasan indah yang ditelurkan dapat segera dilaksanakan dengan hasil nyata dan membawa perubahan yang signifikan berupa makin kencangnya pembentukan masyarakat yang sejahtera.
Salah satu contoh yang menarik, tahun lalu dalam rangka mengisi Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Yayasan Damandiri mengajak masyarakat membagi lingkungannya menjadi lima lingkaran tanggung jawab dengan titik sentral keluarga. Lingkaran pertama (Ring I) adalah halaman sekitar rumah. Ring II kebun-ekbun tidak jauh dari rumahnya. Ring III adalah jalan dan lingkungan sekitar rumah dan kebun atau sawahnya. Ring IV adalah tanah kosong dan tidak terawat karena milik pemerintah atau orang kaya yang membeli tanah hanya untuk investasi masa depan. Ring V adalah gunung, tepi sungai atau pantai yang biasanya milik pemerintah atau lembaga lainnya. Gagasan yang dikembangkan adalah mengajak setiap keluarga Indonesia dengan sungguh-sungguh menghijaukan ring I-III sebagai tanggung jawab keluarga untuk kepentingan keluarga dan anak cucunya. Halaman rumah itu dikembangkan menjadi Kebun Bergizi untuk keperluan sendiri atau untuk kemungkinan bisnis dengan kerjasama antar tetangga.
Gagasan ini segera diambil oper oleh beberapa pemerintah daerah, antara lain Kabupaten Purbalingga. Bahkan di kabupaten ini diadakan lomba antar Posdaya dengan kesertaan keluarga anggotanya di pedesaan. Hasilnya menakjubkan. Dalam wadah Posdaya ternyata masyarakat dengan gigih merubah halaman rumahnya menjadi Kebun Bergizi yang hijau dengan sawi dan sayur lainnya, merah dengan tomat dan cabai, serta nampak indah dan sangat berguna untuk memelihara gizi keluarganya. Gagasan serupa dikerjakan juga oleh masyarakat Cina yang kebetulan beberapa staf dari Kantor Kementerian Kependudukan sempat berkunjung ke Indonesia.
Salah satu contohnya adalah masyarakat di sekitar kota Beijing yang dengan gigih mengajak warganya untuk bertindak seperti masyarakat Purbalingga. Di suatu desa di pinggiran Beijing, ibukota Cina, Negara raksasa dengan penduduk terbesar seluruh dunia tersebut, hampir seluruh keluarga sudah memiliki Kebun Bergizi. Salah satu keluarga yang kami kunjungi minggu lalu, sebut saja Nenek Chia, yang “baru” berusia 62 tahun, suaminya yang “sudah” berusia 67 tahun, tetapi masih aktif bekerja sebagai pekerja jasa pemipaan untuk pemanasan rumah. Nenek “muda” Chia itu tinggal bersama cucunya yang baru berumur 10 tahun. Anak dan mantunya yang masih muda, dua-duanya bekerja sehingga cucunya tinggal serumah bersama neneknya. Setiap pagi suaminya bekerja diluar rumah, dan cucunya sekolah, nenek Chia tinggal sendirian di pinggiran kota Beijing itu.
Sang nenek semasa masih muda bekerja juga di luar rumah sebagai pekerja pabrik. Tetapi sejak memiliki rumah di pinggiran kota Beijing, dia lebih tekun bekerja sebagai petani di kebun koperasi desanya. Di luar kebun, sejak ada anjuran membuat Kebun Bergizi, mulailah nenek Chia merubah halamannya menjadi kebun bergizi. Ditanamnya sawi, tomat dan tanaman kebutuhan sayuran sehari-hari lainnya. Dipinggi-pinggir pagar ditanamnya buah yang bisa menghasilkan buah lezat untuk dimakan.
Halaman yang tidak terlalu luas yang ditanami tomat, sayuran dan pohon buah itu pada kunjungan kita minggu lalu pohon buahnya berbuah sangat lebat. Dengan lancar, dalam bahasa Cina yang sederhana dan dengan mudah diterjemahkan oleh petugas pengantar, Nenek Chia menjelaskan bahwa tanaman sayur produk halamannya cukup untuk masak sayur yang nyaman hampir dua atau tiga kali satu minggu. Beberapa pohon tomat yang ada di halaman rumah itu bisa dipetik buahnya hampir seminggu sekali, sehingga cukup untuk menambah kenikmatan makan malam dengan suami dan cucunya. Pohon buah yang hampir tidak pernah sepi selalu menyumbang buah manis dan lezat yang bisa menjadi penyedap setelah makan malam bagi seluruh keluarga.
Model yang kita lihat pada kehidupan keluarga Chia bukan monopoli atau model untuk memuaskan pengunjung. Lembaga swadaya masyarakat yang menjadi tuan rumah menujukkan bahwa keluarga Lie, yang berada di sebelah rumah Nenek Chia, juga memiliki rumah yang tidak terlalu besar tetapi secara fungsional dikembangkan dengan halaman yang tidak dibiarkan kosong, diubah menjadi Kebun Bergizi. Mereka bahkan bercerita bahwa daun-daun serta sampah rumah tangganya diubah menjadi pupuk kompos, sehingga dengan penuh kebanggaan Nenek Chia dan Lie berkata bahwa tanaman dan buahnya tidak mengandung zat kimia karena hanya dipupuk dengan pupuk kompos hasil olahan secara alamiah. (Prof. Dr. Haryono Suyono, baru pulang dari Cina).
|