Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 07 September 2010  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
SUJIWO TEJO Bilangan Cinta
[Nusantara]

SUJIWO TEJO Bilangan Cinta

CINTA sepertinya sangat mempengaruhi dalang wayang, Sujiwo Tejo, 47. Saat jumpa pers peluncuran Dongeng Cinta Kontemporer II di bilangan kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (6/11), seniman eksentrik ini banyak menyebut kata cinta.
Kalau dalam limu matematika kita sering dengar bilangan kompleks, bilangan imajiner, atau bilangan prima, maka saya ingin menambahkan bilangan cinta. Bilangan cinta itu kalau dibagi berapapun akan utuh, ujar Sujiwo.
Saat itu pria yang mempunyai nama asli Agus Hadi Sudjiwo ini mengenakan stelan khasnya dengan peci dan sarung. Sambil duduk santai dengan mengangkat salah satu kakinya di kursi ia menjawab pertanyaan wartawan seputar cinta dengan kehidupan sosial masyarakat saat ini.
Kita terkadang hanya melihat dari luarnya saja. Bisa saja orang tampak cinta, padahal dendam. Namun juga bisa sebaliknya. Ini perlu, supaya kita tidak salah pilih pemimpin baik itu anggota DPR, KPK, dan yang lain, katanya.
Dari gambar atau fotonya saja kita bisa tahu pemimpin itu mencintai kita apa nggak. Kasta untuk DPR ya, harusnya yang mikirin rakyat, ujarnya lagi.
Selain masalah sosial-politik, menurut lelaki kelahiran Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962 ini merasa prihatin karena saat ini banyak orang yang tidak cinta pada pekerjaannya. Kita tidak suka masuk kedokteran tapi kita masuk karena menghormati orangtua. Ini namanya tidak etis, ungkapnya.
Kalau sudah begini orang tidak lagi mencintai pekerjaannya. Harusnya setiap orang mencintai pekerjaannya. Kalau saya jadi seniman ya, harus mati di atas panggung, kata mantan wartawan ini.(pk-21)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
RIANTI CARTWRIGHT Suka Kota Malang
BECKY TUMEWU Selalu Ingat Hak Anak
TUKUL ARWANA Mendalami Bahasa Inggris
Kapolwil Prioritaskan Pembenahan Internal
Koalisi Parlemen Banyak Dukungan