|
[Politik dan Keamanan] Mencari Jalan Keluar
SEMULA kita berharap, kita bisa menyongsong 2009-2014 dengan penuh optimisme. Ada pemerintahan yang kuat, program yang jelas, dan kondisi lingkungan yang kondusif. Demikian juga kalangan LN, berharap begitu besar. Majalah The Economist menyebut tahun 2009-2014 itu sebagai a golden chance, kesempatan emas bagi Indonesia. Namun, entah karena apa, pertemuan Antasari Azhar dengan Anggoro Widjojo di Singapura itu telah menyedot perhatian kita semua, mengabaikan masalah yang lain. Meskipun tidak diyakini kebenarannya oleh Antasari sendiri, dugaan mengalirnya sejumlah uang ke Pimpinan KPK telah menyulut timbulnya kasus hukum Bibit-Chandra. Hal ini diawali dengan testimoni Antasari yang dikatakan oleh Antasari sebagai testimoninya Anggoro Widjojo. Apalagi dengan peran Anggodo Widjojo yang memperkuat dugaan itu.
Sulitkah mencari kebenaran fakta dan kemudian proses hukumnya, sehingga Presiden membuat Perppu KPK, mengganti Pimpinan KPK dan kemudian membentuk Tim Delapan? Dapat dipahami, bahwa krisis semakin meluas. Kepolisian dan Kejaksaan, ternyata telah berjalan begitu jauh. Tim Delapan ternyata menilai lemah, fakta dan proses hukum yang dilakukan kedua aparat penegak hukum kita itu. Masalahnya, tidak saja sekedar perbedaan pendapat, tetapi sudah menjadi pertaruhan kehormatan. Tidakkah suatu hal yang mengherankan, bisa terjadi perbedaan yang begitu mencolok antara lembaga di sekitar Presiden? Meskipun Tim Delapan bukan sebuah lembaga negara, Tim Delapan itu dilahirkan melalui sebuah Keppres, sehingga (tentunya) bisa melahirkan jalan keluar krisis Bibit-Chandra. Ternyata rekomendasinya tidak mengikat, baik bagi Kepolisian, Kejaksaan, dan bahkan bagi Presiden sendiri. Bibit-bibit konflik antar-lembaga negara dan bahkan konflik horisontalpun merebak. Bagaimana komentar kalangan MK, DPR, dan demo di akar bawah dan facebook. Bahkan antara KPI dan Dewan Pers pun terlibat polemik pembatasan penyiaran proses hukum. Semuanya, menunggu hari Senin lusa, ketika Presiden menjanjikan akan menyampaikan kebijakannya.
Tidak berlebih, kalau semua masalah telah mengerucut pada Presiden. Kalau lembaga di bawah Presiden tidak mampu mencari jalan keluar yang elegan, maka pertaruhan itu beralih menjadi pertaruhan kehormatan Presiden. Inikah risiko sebuah Kabinet Presidensial?
Ada falsafah kepemimpinan yang mungkin bisa menjadi arah mencari jalan keluar. Tidak ada prajurit yang jelek. Artinya, hanya komandan yang jelek. Sebaliknya, tugas prajurit adalah agar komandannya sukses/berhasil. Apa artinya? Kalau semuanya menyadari kedudukannya, maka ( insya-Allah) akan ada jalan keluar yang elegan. Siapa prajurit dan siapa komandan dalam kasus Bibit-Chandra? Meskipun waktu semakin dekat, bisa saja dalam dua hari ini masih ada pikiran sehat untuk menemukan jalan keluar krisis yang sedang kita hadapi. Kalau tidak, kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Semoga Allah SWT selalu memberi petunjuk jalan yang benar, jalan yang lurus bagi kita semuanya. Amien.
|