Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 23 April 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Prajurit TNI: Mencintai dan Dicintai Rakyat
[Opini]

Prajurit TNI: Mencintai dan Dicintai Rakyat

Oleh Kolonel Inf Slamet Riyadi

DALAM berbagai kesempatan Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengingatkan kepada para prajurit, sebagai salah satu bagian dari sistem kenegaraan TNI harus terus menerus berbenah diri. Peringatan ini seiring dengan berbagai langkah nyata yang secara berlanjut dilakukan sesuai dengan komitmen menjalankan reformasi internalnya sehingga berbagai perubahan pun terwujud demi kebaikan TNI, baik secara institusi maupun individu prajurit.
Apa hasil dari berbagai pembenahan yang terus menerus dilakukan oleh TNI? Barangkali wajar apabila kini semua pihak bisa melihat secara nyata berbagai perubahan drastis di TNI semisal tidak lagi melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis dan juga tidak terlibat di ranah bisnis. Pendeknya, kini TNI benar-benar menuju kepada tataran yang lebih baik yaitu TNI yang lebih profesional.
Profesionalisme tentu menjadi konsen TNI. Dan sudah seharusnya konsen itu bukan sekedar retorika, karena profesionalisme TNI harus dibangun secara riil dengan mengedepankan aspek kemahiran teknik kemiliteran yang ditopang oleh aspek moral, etika, disiplin, serta kesejahteraan; dengan tetap berada pada jatidirinya sebagai prajurit Sapta Marga. Ini tak akan bisa berjalan sekali jadi, tetapi membutuhkan proses dan upaya terus menerus. Bahkan boleh jadi tanpa henti sebagaimana reformasi yang dijalankan oleh TNI.
Terkait hal ini Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso juga menyatakan bahwa reformasi TNI terus dilanjutkan karena bagi TNI, reformasi adalah proses yang tiada akhir. Proses-proses penyempurnaan akan tetap dilakukan dengan satu tujuan pasti yakni mewujudkan Postur TNI yang solid, profesional, tangguh, modern, berwawasan kebangsaan, mencintai dan dicintai rakyat, sehingga mampu mengemban tugas sebagai komponen utama pertahanan negara.
Menjadi prajurit TNI yang mencintai dan dicintai rakyat adalah sebuah pesan moral yang seharusnya juga terpatri dalam diri setiap prajurit TNI. Maknanya, dengan menjadi prajurit yang mencintai rakyat maka TNI akan memiliki daya juang yang tak kenal lelah, tak kenal putus asa, tak pernah menyerah, berdedikasi, bahkan militansi tinggi sebagai prajurit.
Di sinilah letaknya filosofi prajurit pejuang dan prajurit rakyat, yang tak pernah lelah memperjuangkan kepentingan rakyat sekalipun harus mengorbankan nyawanya. Sedangkan prajurit yang dicintai rakyat, menunjukkan bahwa eksistensi dan reputasi prajurit TNI diakui oleh rakyat, didukung sepenuhnya oleh rakyat, memiliki kebersamaan yang utuh dan ikhlas, memiliki kerekatan (kohesivitas) yang kuat antara TNI dengan rakyat. Dalam bahasa sederhana, TNI benar-benar manunggal dengan rakyat. Manunggalnya TNI dan rakyat menjadi kekuatan yang luar biasa ketika dihadapkan untuk menjalankan tugas utama sebagai alat negara di bidang pertahanan.
***
SWBAGAI prajurit TNI tentu telah mencermati bagaimana perkembangan situasi dunia dewasa ini dengan berbagai kecenderungan perubahannya. Kecenderungan perubahan dunia yang berjalan dinamis, dengan tuntutan nilai-nilai universal yang semakin mengemuka, baik berkaitan dengan demokratisasi, lingkungan hidup, hak asasi manusia, senjata pemusnah massal, konflik transnational, dan penanggulangan aksi terorisme. Ini semua tentu harus dipahami oleh para prajurit TNI mengingat semua itu akan membawa beban ikutan terhadap tugas dan tanggung jawabnya sebagai alat negara di bidang pertahanan.
Sementara itu kondisi di lingkup nasional akhir-akhir ini juga belum sepenuhnya kondusif seiring dengan kompleksitas problem yang melanda hampir di semua lini kehidupan masyarakat. Kondisi ini pun harus dicermati semisal munculnya gejala primordialisme kedaerahan yang selalu mengatasnamakan otonomi daerah, separatisme, fundamentalisme, bahkan degradasi nasionalisme, dan wawasan kebangsaan. Bila dicermati semua kecenderungan, menyebabkan hakikat ancaman menjadi lebih meningkat dan beragam, sehingga dapat berpengaruh terhadap mental dan moral prajurit TNI dalam pelaksanaan tugas-tugas TNI.
Menyikapi hal tersebut lantas apa yang harus dilakukan oleh prajurit agar setiap penugasan TNI dapat dilaksanakan dengan baik? Kembali lagi kepada komitmen awal, tidak boleh tidak TNI harus mewujudkan profesionalisme segenap prajuritnya. Kesemuanya itu harus menjadi orientasi TNI, baik didalam membuat kebijakan maupun dalam implementasi tugas-tugas pembinaan, pembangunan, dan penggunaan TNI.
Dengan profesionalisme, setiap prajurit TNI harus memiliki sikap dedikasi yang tinggi dengan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri atau kelompok. Dan prajurit yang dedikatif pasti akan taat kepada pemimpinnya, merasakan apa yang ditugaskan merupakan kewajiban yang harus dikerjakan dengan semangat, loyal, serta setia kepada negara dan bangsanya. Karenanya karakter prajurit sikap yang berdedikasi merupakan semangat pengabdian yang kuat dari dalam jiwa setiap prajurit yang selalu harus ditumbuhkembangkan.
***
MEMANG secara faktual anggaran yang dialokasikan untuk TNI dari tahun ke tahun masih sangat terbatas dibanding dengan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi dalam rangka pembangunan kekuatan dan pemeliharaan kemampuan TNI. Ini pun disadari benar bahwa keterbatasan anggaran itu sangat berpengaruh terhadap kesiapan operasional TNI.
Problemnya adalah, dalam situasi keterbatasan apapun TNI harus tetap mengatasi permasalahan dan tantangan. TNI harus mampu melaksanakan tugas pertahanan negara, sesuai dengan cita-cita, tujuan dan kepentingan nasional. Bagaimana mungkin? Kembali lagi kepada karakter yang dimiliki, yakni prajurit TNI harus ingat dengan jatidirinya, harus memahami dan menghayati secara mendarah daging dalam setiap nafas hidupnya agar mampu mencintai rakyat sekaligus layak dicintai rakyat.
***
MENJADI prajurit TNI sesungguhnya adalah pekerjaan berat. Mereka harus lebih banyak melayani daripada dilayani. Prajurit sesungguhnya pelayan negara, karena ia yang harus menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Tugas ini sangat sulit dikuantifikasikan dengan angka-angka, sehingga harga yang harus dibayar oleh para prajurit juga tak serta merta mudah terukur dengan angka-angka, apalagi dengan uang.
Bila demikian, apakah prajurit tak perlu uang? Jelas perlu, bahkan sangat memerlukan. Karena diikat sumpah dan jatidiri itulah sampai saat ini belum pernah terdengar prajurit TNI melakukan aksi demo menuntut upah yang layak sebagaimana para buruh atau karyawan lainnya. Mereka tetap setia dengan profesinya sebagai prajurit, yang harus lebih banyak berkorban, termasuk korban perasaan ketika harus meminjam uang di bank demi bisa menyekolahkan anaknya.
Terlepas dari korban atau pengorbanan prajurit, saya hanya ingin mengingatkan kembali bagaimana seorang prajurit TNI harus bisa mencintai dan sekaligus dicintai rakyat sebagaimana sering dikemukakan oleh Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso. Untuk bisa seperti ini, maka setiap individu prajurit TNI harus benar-benar memahami dirinya sebagai prajurit. Nah, apa sesungguhnya makna prajurit TNI? Apakah prajurit itu hanya mereka yang berpangkat rendah dalam golongan Tamtama dan Bintara? Apakah prajurit adalah sosok yang memiliki jabatan tertentu?
Seorang budayawan (seingat saya adalah Emha Ainun Nadjib), pernah dengan begitu fasih menjelaskan bahwa prajurit bukanlah jabatan, melainkan jiwa. Karenanya menjadi prajurit atau tentara tidak sama dengan menjadi Camat, tidak sama dengan menjadi Bupati, tidak sama menjadi Gubernur, Menteri atau Presiden. Sebab tentara itu jiwa, sedangkan Camat, Bupati, Gubernur, atau Presiden itu adalah jabatan.
Jabatan Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, jabatan Komandan ataupun jabatan Panglima, akan ditinggalkan dan meninggalkan (dengan paksa) orang yang menyandangnya. Sedangkan ketentaraan adalah jiwa yang menyatu dengan manusianya. Ketentaraan atau keprajuritan adalah ruh yang tak bisa dicopot kecuali oleh suatu pengkhianatan dan ketidaksetiaan. Keprajuritan atau ketentaraan adalah kepribadian yang mendarah daging sampai maut menjemputnya.(Bersambung)
Penulis, Kadispenpas Puspen TNI

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Angket Century dan Kisah Lehman
Visi Depdiknas dan Tantangan
Membangun Perdamaian Dunia
Harapan kepada Presiden SBY
Menegakkan Amanah Bangsa