Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 02 September 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Keamanan Laut dan Keselamatan Pelayaran di Selat Malaka
[Derap TNI-POLRI]

Keamanan Laut dan Keselamatan Pelayaran di Selat Malaka
Sangat Berarti bagi Penyokong Kelancaran Perdagangan Dunia

PERKEMBANGAN lingkungan strategik telah berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan baik global, regional, maupun nasional. Perkembangan situasi politik dan keamanan dunia telah berubah, yang menempatkan kepentingan bidang ekonomi menjadi lebih dominan. Laut yang merupakan wahana paling ekonomis bagi lalu-lintas perdagangan dunia menjadi sangat penting. Sementara itu isu perampokan di laut (piracy dan sea robbery) serta kemungkinan adanya terorisme maritim pada saat ini menjadi mengemuka dan menjadi perhatian dunia. Oleh karena itu keamanan laut dan keselamatan pelayaran menjadi berarti bagi penyokong kelancaran perdagangan dunia dalam peningkatan bidang ekonomi.
Dinamika perkembangan lingkungan strategik tersebut telah menempatkan kawasan Asia-Pasifik dan Asia Tenggara menjadi fokus perhatian dunia. Situasi demikian telah menjadikan kawasan ini sumber konflik kepentingan antarnegara. Dengan demikian pola hubungan antarbangsa cenderung bergeser dari kepentingan politik ke arah kepentingan ekonomi yang menuntut terwujudnya stabilitas kawasan. Guna menunjang kepentingan ekonomi perlu adanya jaminan Keamanan Sea Lines of Communication (SLOC) atau garis perhubungan laut (GPL), dan Sea Lines of Trade (SLOT). Jaminan keamanan SLOC/GPL ini sangat vital bagi para pengguna laut di dua kawasan tersebut.
***
KAWASAN laut yang menjadi tanggung jawab Koarmabar meliputi 2 juta kilometer persegi wilayah pantai, 1,3 juta kilometer persegi perairan yurisdiksi nasional, membentang dari 06 derajat Lintang Utara sampai 11 derajat Lintang Selatan, 092 derajat Bujur Timur sampai 108 derajat Bujur Timur. Pada kawasan yang menjadi tanggung jawab Koarmabar terdapat jalur pelayaran internasional yang terpadat di dunia, membentang dari Selat Malaka sampai Laut China Selatan. Jalur pelayaran ini berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam; jelas Kadispen Koarmabar Letkol Laut (Kh) Drs Supriyono.
Selat Malaka merupakan kawasan yang menjadi tanggung jawab Koarmabar dan kunci stabilitas keamanan maupun perekonomian. Dilewati lebih dari 11 juta barel minyak bumi/hari dari Timur Tengah ke Jepang dan negara-negara Asia Timur. Selat Malaka merupakan selat kedua terpenting setelah Selat Hormuz (15.3 juta barel/hari) lebih dari 50.000 kapal dagang melintasi Selat Malaka (600/hari).
Perdagangan Eropa dengan Asia Timur sangat tergantung pada keamanan Selat Malaka. Secara keseluruhan Selat Malaka merupakan faktor kunci dari kesinambungan dan stabilitas 30 persen perdagangan dunia dan 80 persen kebutuhan minyak Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Sekitar 90 persen perdagangan internasional dilakukan melalui laut, dan hampir separuhnya melewati kawasan yang berada di dalam wilayah yurisdiksi dan kedaulatan Indonesia khususnya wilayah kerja Koarmabar. Beberapa jalur alternatif dapat ditempuh namun pilihan itu akan memperpanjang perjalanan sampai empat hari dan menyebabkan biaya tambahan sekitar 500.000 dolar AS.
Menurut Letkol Supriyono, lalu-lintas perdagangan melalui Selat Malaka sebagian besar tergantung pada keamanan maritim. Jepang konon harus menebus biaya tambahan sekitar 87 juta dolar AS/bulan jika terjadi gangguan serius di Selat Malaka, atau bahkan lebih dari 250 juta dolar AS/bulan jika gangguan itu meluas sampai ke Laut China Selatan. Secara ekonomis sulit menemukan alternatif bagi Selat Malaka, khususnya bagi kapal-kapal hingga berbobot 300 Dwt. Selat lain di perairan Indonesia tidak cukup dilengkapi dengan infrastruktur telekomunikasi yang memadai. Selain itu khusus bagi negara-negara Asia Timur, menggunakan alternatif dapat dipastikan akan menelan biaya jauh lebih besar dari biaya yang mereka keluarkan.
Sehubungan letak dan posisi Selat Malaka yang sangat penting terhadap perekonomian dunia maka TNI AL mengembangkan formulasi untuk pengamanan perairan tersebut yang dibingkai dalam Patkor Malindo (Patroli Koordinasi Malaysia-Indonesia), sedangkan dengan Singapura dilakukan Patkor Indosin (Patroli Koordinasi Indonesia-Singapura), dan Indindo (Patroli Koordinasi India-Indonesia).
Thailand menurut rencana juga akan bergabung dalam patroli terkoordinasi. Untuk menjamin keamanan dan kelancaran kawasan tersebut akan dikembangkan sistem pengamanan maritim terpadu atau Integrated Maritime Security System (IMSS) di Selat Malaka untuk menghindari intervensi negara-negara lain yang mempunyai kepentingan ekonomi melewati kawasan tersebut. Hingga saat ini empat negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan India mampu mengamankan kawasan Selat Malaka dan membuktikan kepada dunia internasional bahwa Selat Malaka aman untuk lalu-lintas pelayaran.
***
SEBAGAI Komando Utama Pembinaan dalam menyiapkan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT), Pangarmabar bertanggungjawab kepada Kapala Staf Angkatan Laut (Kasal). Sebagai Komando Utama Operasional dalam penggunaan kekuatan, Pangarmabar bertanggungjawab kepada Panglima TNI. Pada tingkat komando pelaksana operasi, Koarmabar membawahi dua komando pelaksana operasi yaitu Gugus Tempur Laut Wilayah Barat (Guspurlabar) dan Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat (Guskamlabar).
Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksda TNI Soeparno yang menjabat sebagai Pangarmabar sejak tanggal 15 Juli 2008 sampai dengan 16 Desember 2009 telah banyak menorehkan prestasi yang membanggakan. Hal ini bisa dilihat dari hasil operasi yang digelar Komando Armada RI Kawasan Barat dalam periode Juli sampai dengan Desember 2009 yang meliputi Perikanan, Pelayaran, Kepabeanan, Kehutanan, Timah, Imigrasi, Granit, Migas, Perompakan, dan Kecelakaan/SAR. Hasil itu berupa penghentian dan pemeriksaan (Henrikan) 3.048 kapal, yang diproses berdasarkan bukti-bukti yang ada 327 kapal, sedangkan diizinkan melanjutkan pelayaran karena tidak cukup bukti 2.721 kapal, kekayaan negara yang berhasil diselamatkan mencapai Rp261.599.910.000; jelas Kadispen Koarmabar.
Seiring dengan bergulirnya waktu, jabatan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) hari ini diserahterimakan dari Laksamana Muda TNI Soeparno kepada Laksamana Muda TNI Marsetio, MM. Selanjunya Laksamana Muda TNI Soeparno akan menempati jabatan sebagai Asisten Operasi (Asops) Kasal, sedangkan Laksamana Muda TNI Marsetio, MM yang sebelumnya menjabat Pangkolinlamil, merupakan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat yang ke-23.
Berdinas di lingkungan Armada bukan hal yang baru bagi Laksamana Muda TNI Marsetio, MM. Sebab, separo dari perjalanan karier Laksamana Muda peraih Adhy Makayasa AAL Angkatan-26 ini dihabiskan di lingkungan Armada Timur dan Armada Barat.
Pengalaman dalam meniti karier mengantarkan perjalanan kariernya hingga pada posisi laksamana berbintang dua. Dalam menjalankan tugas sehari-hari didampingi istri tercinta asal Kota Apel Malang Ny Penny Iriana dan dikaruniai dua orang putra bernama Rio Rakhmat Bramantio, alumni Unair; dan Rian Risky Putrantio saat ini masih menjalani pendidikan di Akademi Angkatan Laut, Bumi Moro, Surabaya.
Selamat jalan Laksda TNI Soeparno.
Selamat bertugas Laksda TNI Marsetio, MM.(be)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Kasad: Jaga Demokrasi dari Kepentingan Luar
Pangarmabar: Cermati Perkembangan Situasi
Kolinlamil Dituntut Tingkatkan Kemampuan
Kolonel Marinir Mokhamad Suwandy Kepala Staf Garnisun Tetap III
Pangdam VI/Tpr Resmikan Lapangan