Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 21 Oktober 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
MUI Diminta Tegas Soal Pluralisme
[Agama dan Pendidikan]

MUI Diminta Tegas Soal Pluralisme

Jakarta, Pelita
Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) M al-Khaththath meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersikap tegas dalam menjaga akidah umat Islam, terutama dalam menghindari umat dari paham Pluralisme.
MUI telah mengeluarkan fatwa haram tentang Pluralime, Liberalisme, dan Sekularisme tahun 2005 lalu. Jadi MUI harus komitmen dengan fatwa tersebut, jangan terpengaruh dengan berbagai opini di masyarakat, kata al-Khaththath kepada Pelita di Jakarta, kemarin.
Permintaan al-Khaththath ini seiring dengan wafatnya mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Rabu (30/12), kemarin. Sebagaimana diberitakan, pada saat memimpin upacara pemakaman Gus Dur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut Gus Dur sebagai bapak pluralisme.
Seiring dengan hal tersebut, banyak masyarakat yang mengusulkan agar Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional. Salah satu alasannya, karena Gus Dur dinilai telah berjasa dalam mengembangkan nilai-nilai pluralisme di Indonesia.
Al-Khaththath menegaskan, paham pluralisme jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Karena paham ini, lanjutnya, menyatakan bahwa semua agama benar, dan tidak boleh ada klaim kebenaran. Di akhirat nanti, semua orang beragama akan masuk ke
dalam sorga yang sama.
Ini kan jelas bertentang ajaran Islam. Emang ada defenisi lain dari pluralisme? katanya mempertanyakan.
Tentang penghormatan kepada non-muslim atau kaum minoritas, katanya, hal itu merupakan perintah agama. Hadits Nabi mengatakan, terangnya, orang yang menyakiti kaum Yahudi dan Nasrani, berarti sama dengan menyakiti Nabi. Jadi jangan samakan
pluralisme dengan sikap menghormati non-muslim, katanya.
Dia juga mempertanyakan sikap SBY. Pada saat silaturrahim MUI dengan SBY beberapa waktu lalu, katanya, SBY berjanji akan mengikuti fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh MUI. Pluralisme jelas merupakan agenda kaum imperialis dan neo-liberalisme, agar umat Islam tidak bisa bangkit, katanya.
Sementara itu, sebelumnya, Ketua MUI KH Amidhan mengaku setuju atas pemberian gelar bapak pluralisme kepada Gus Dur.
Saya setuju, Gus Dur itu disebut sebagai bapak pluralisme. Karena Gus Dur telah berjasa memberikan ruang bagi kaum minoritas. Hal ini merupakan ajaran Nabi Muhammad yang tertuang dalam Piagam Madinah, katanya.
Amidhan menegaskan bahwa pemberian gelar tersebut, tidak bertentangan dengan Fatwa MUI tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama yang dikeluarkan MUI tahun 2005 lalu.
Tidak ada yang bertentangan. Fatwa itu bersyarat. Kita harus manyadari pluralitas bangsa Indonesia yang bermacam-macam agama, suku, dan etnis. Ini sesuatu yang given. Fatwa MUI menekankan perlunya berdampingan secara damai dan mengedepankan kesatuan bangsa, kata Amidhan. (cr-12)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Guru SMA Negeri 3 Jakarta Ikuti Wisata Rohani
MUI Diminta Tegas Soal Pluralisme
Ormas Islam Harus Perluas Spektrum Dakwah
Lapas Tanggerang Masih Kekurangan Guru
Ada Kelompok yang Gerogoti Ahlus Sunnah wal Jamaah