Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 22 Desember 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Menpora Prihatin Atas Kondisi Sekolah Atlet Ragunan
[Olah Raga]

Menpora Prihatin Atas Kondisi Sekolah Atlet Ragunan

Jakarta, Pelita
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Malarangeng menyatakana keprihatinannya atas kondisi Sekolah Atlet di Ragunan, Jakarta. Dalam kunjungan kerjanya ke lokasi tempat dilahirkan atlet-atlet kelas dunia itu, ia melihat langsung buruknya sarana dan prasarana.
Saya sangat prihatin dengan kondisi sarana dan prasarana yang ada di Sekolah Atlet Ragunan. Lihat saja, peralatan latihan fisik di fitnes center, sudah berkarat dan bisa titanus kalau digunakan dan kolam renang kalau digunakan bisa menimbulkan penyakit gatal-gatal, kata Andi Mallarangeng, dalam peninjauan langsung di kompleks Sekolah Atlet Ragunan, Rabu (6/1).
Peralatan latihan fisik yang disebut Andi sebagai sentral dan mutlak dibutuhkan seluruh cabang olahraga untuk meningkatkan kondisi fisik atlet itu memang sudah tidak memenuhi syarat lagi. Bukan hanya besi-besinya berkarat, tetapi eternit tempat fitnes itu pada jebol. Ruangan terasa pengab karena sirkulasi udara tidak ada. Begitu juga dengan kolam renang yang airnya keruh dan terlihat ada sampah.
Bukan hanya tempat fitness, kolam renang, tetapi track untuk latihan atletik juga sudah tidak layak lagi digunakan. Para atlet sama saja menjalani latihan di aspal karena karpetnya sudah menipis, timpal Erwin Maspaitella, pelatih atletik Sekolah Atlet Ragunan.
Melihat kondisi itu, Andi mengungkapkan keinginan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk melakukan revitalisasi (perubahan besar-besaran) terhadap Sekolah Atlet Ragunan. Ia ingin membicarakan masalah itu dengan Pemda DKI Jakarta dan Mendiknas yang selama ini terlibat dalam pengelolaan Sekolah Ragunan.
Saya sudah menghubungi Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Mendiknas M Nuh untuk membicarakan masalah itu. Rencana revitalisasi itu juga telah saya sampaikan kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan mendapat persetujuan, paparnya.
Andi berkeinginan untuk mengembalikan fungsi Sekolah Ragunan sebagai pusat pembinaan calon atlet nasional, seperti pada konsep awal berdirinya.
Terus terang, saya ingin menjadikan Sekolah Ragunan sebagai salah satu sekolah olahraga yang terbesar dan terlengkap fasilitasnya seperti Singapura Sport School, ujar Andi, sambil menyebutkan revitalisasi juga dilakukan terhadap Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) dan Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) di berbagai daerah.
Mantan juru bicara Presiden ini juga mengungkapkan keprihatinannya dengan sedikitnya jumlah atlet dari cabang olahraga yang banyak memperebutkan medali emas seperti atletik, senam dan renang harus mendapat perhatian besar.
Bagaimana Indonesia mau meraih gelar juara umum pada saat menjadi tuan rumah SEA Games 2011 kalau jumlah atlet dari cabang yang memperebutkan medali sangat sedikit. Di SEA Games Laos 2009, atletik memperebutkan 45 medali emas. Masak, kita hanya punya 18 atlet atletik, paparnya.
Selain masalah sarana dan prasarana, Andi menyoroti masalah rekrutmen siswa sekolah atlet, yang sebelumnya telah melahirkan atlet berprestasi dunia di antaranya Susi Susanti, Ivana Lie, Icuk Sugiarto dan Yayuk Basuki.
Saya mau rekrutmen siswa yang dibina di sekolah ini harus jelas dan tidak sembarangan siswa bisa menjadi penghuni sekolah Ragunan. Kita akan membenahi sistem perekrutan. Begitu juga dengan manajemennya, tegas Andi.
Dalam kesempatan tersebut Menpora juga terkejut betapa kecilnya gaji pelatih yang selama ini membina atlet di Sekolah Ragunan, dan secara spontan menaikkan gaji tersebut. Untuk membina olahraga yang bagus maka diperlukan kesejahteraan pelatih yang memadai, ujarnya.
Gaji pelatih yang bertugas membina atlet-atlet muda di sekolah olahraga terbesar di Indonesia itu adalah Rp2,6 juta/bulan. Melihat kondisi itu Menpora menaikkan menjadi sekitar Rp5 juta/bulan, sedangkan asisten pelatih menjadi Rp3,5 juta/bulan.
Selain menaikkan gaji pelatih, Menpora juga menaikkan uang saku bagi atlet binaan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang menjalani pendidikan di Sekolah Olahraga Ragunan.
Uang saku dinaikkan dari Rp300 ribu menjadi Rp500 ribu/bulan, katanya, dihadapan atlet yang menjalani pendidikan.
Atlet binaan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang saat ini menjalani pendidikan sekitar 203 siswa mulai dari tingkat SD hingga SMA. Mereka adalah atlet dari 18 cabang olahraga diantaranya atletik, basket, voli, bulutangkis dan renang. (har)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Pennetta Menang Mudah di Auckland
Gulat Lolos ke Asian Games China
Timnas Akan Bermain Secara Terbuka
Tim Saya Kurang Beruntung
Pelita Jaya Pecat Empat Pemain