Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 22 Agustus 2014  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta, Mencetak Santri Mengenal Diri dan Ajaran Islam
[Agama dan Pendidikan]





LULUSAN Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Surakarta yang ingin masuk ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir sejak tahun 1995 tidak perlu lagi mengikuti ujian atau kelas persamaan. "Yang nilainya baik dan memenuhi syarat, lulusan pesantren kami ini dapat masuk ke Universitas Al-Azhar tanpa ujian persamaan," kata KH Chozin Siddiq, pengasuh Pondok Putra Assalaam.


Kerjasama ini tercetus setelah pondok pesantren ini mendapat kunjungan langsung Rektor Al-Azhar Syekh Gad El Haq (almarhum) tahun 1995. Di situlah Syekh memberikan kemudahan kepada lulusan PPMI Assalaam untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.


"Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami, bahwa pesantren yang masih muda usia ini mendapat penghargaan dari Al-Azhar Mesir," tambah Chozin Siddiq. Untuk bulan September ini ada 29 santri yang akan melanjutkan studi di Al-Azhar Kairo. "Kini sudah ada 60-an lulusan Pesantren Assalaam yang melanjutkan ke Al-Azhar Kairo, Mesir."


Kemudahan yang diberikan Al-Azhar ini tampaknya kurang diminati oleh sebagian besar lulusan PPMI Surakarta. Mereka lebih berkonsentrasi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Indonesia, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Negeri Surakarta (UNS), dan lain-lain. Bahkan minat melanjutkan ke IAIN pun berkurang.


Ini dapat dibuktikan dengan banyaknya lulusan PPMI Assalaam yang diterima di perguruan tinggi negeri. Mereka ternyata mampu menembus ketatnya persaingan masuk Fakultas Kedokteran UI, UGM, atau jurusan favorit di ITB. Dengan demikian, beberapa tahun terakhir ini nama alumnus Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta menghiasi daftar nama mahasiswa kampus bergengsi di Indonesia.


Kehadiran santri alumnus PPMI Assalaam di universitas negeri papan atas di Indonesia memang sebuah prestasi. Keberhasilan itu memacu santri yang kini masih berada di lingkungan asrama mengikuti jejak kakaknya melangkah ke universitas umum dan bukan agama. "Di sini kami melihat bahwa mereka lebih tertarik menginjakkan kaki ke UI, UGM, ITB, UNS atau universitas negeri lain ketimbang IAIN dan bahkan Al-Azhar Kairo Mesir yang bisa ditempuh tanpa mengikuti ujian persamaan," tutur Chozin Siddiq. Namun demikian, lanjut dia, pengasuh dan guru di lingkungan PPMI Assalaam mengarahkan santri untuk melanjutkan studinya berdasar pemantauan selama di asrama. "Kami mengarahkan mereka berdasar kemampuan."


***


DIBANDING ponpes lain di Indonesia, Assalaam terbilang baru. Lembaga ini berdiri 7 Agustus 1982 melalui kiprah Majelis Pengajian Islam. Ketika itu baru program Madrasah Tsanawiyah yang dibuka. Namun dalam tempo sesaat, pesantren ini membesar bukan saja dari jumlah santri dan bangunan fisik, tapi juga program.


Assalaam adalah satu-satunya madrasah yang menggelar program akselerasi belajar di Indonesia meski baru untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah. Saat ini sekitar 2.300 santri belajar di lembaga yang menempati tanah wakaf dari Hj Aminah Marzuki itu. Mereka diasuh 300-an pengajar yang hampir separuhnya berada di lingkungan kompleks selama 24 jam. Program pendidikan yang digelar antara lain Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, SMP dan SMU, serta Takhasussiyah atau kelas persamaan untuk siswa SMP dari luar yang ingin melanjutkan studi di SMU Assalaam.


Madrasah Tsanawiyah mulai dibuka tahun 1982 bersamaan dengan keberadaan PPMI Assalaam. Kemudian Madrasah Aliyah tahun 1986. Keduanya mengikuti kurikulum Departemen Agama. Pada tahun 1988/1989 dibuka Sekolah Menengah Umum yang mengacu kurikulum Depdiknas. Semuanya sudah disamakan, tanpa melalui jenjang diakui. "Sejak berdiri, Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam ini sudah diperhatikan oleh Departemen Agama. Ini terbukti pada tahun berikutnya kami mendapatkan sertifikat," kata Drs H Ahmad Samsuri MM, salah seorang pengasuh di PPMI Assalaam. "Mereka datang dari seluruh provinsi di Indonesia."


Keberhasilan itu bukan datang dengan sendirinya, tetapi upaya segenap pengurus termasuk meningkatkan kualitas pisik dan spiritual kawasan lingkungan pondok pesantren. "Terus terang kami ini pondok yang tidak murah," kata KH Dalhari Nuriyanto, pengasuh pondok putri. Secara jujur ia mengakui biaya pendidikan di tempuhnya terbilang mahal untuk ukuran pondok pesantren. Namun, biaya yang harus dibayar orangtua adalah murni untuk pendidikan anak. Pisik bangunan menelan anggaran cukup besar. Belum lagi dana untuk makan bergizi selama berada di asrama.


Secara pisik, bangunan di sekitar Assalaam berstruktur modern. Santri tinggal di lingkungan permanen atau bahkan cukup megah untuk ukuran sebuah pesantren. Nuansa hijau menghiasi seluruh bangunan. Di bagian depan terdapat masjid besar yang juga bersih. Suasana pesantren mengingatkan kita pada sekolah Al-Azhar, Al-Izhar atau lembaga Islam lain yang besar.


Santri tidak memasak sendiri makanan. Mereka juga tinggal tidak berhimpit sebagaimana di tempat lain. Satu kamar besar seukuran kelas hanya dihuni 10 orang. Assalaam lebih tepat disebut boarding school dan bukan pesantren biasa. Tak ada lagi berwudlu dengan kolan bahkan tempat gosok gigi pun menggunakan air mengalir dengan kran dan wastafel. Untuk makan, ada dapur dan ruang makan yang sangat besar. Menunya pun bervariasi berdasar perhitungan ahli gizi. Makanan mereka tergolong empat sehat lima sempurna karena mengandung unsur protein hewani, nabati, sayur dan menu lain yang dibutuhkan tubuh remaja yang sedang berkembang.


Santri putra dipisahkan dari santri putri bukan saja tempat tinggal tapi juga sekolah dan aktivitasnya. Pada saat santri laki-laki keluar, santriwati tidak boleh keluar. Begitu pula saat menelepon di wartel, ada waktu untuk laki-laki dan ada pula waktu untuk wanita, sehingga tidak terjadi pertemuan antara santri laki-laki dan perempuan. Di dalam sholat fardhu (wajib) pun para santri diharuskan melaksanakannya dengan berjamaah, jika tidak, maka santri bersangkutan akan mendapat sanksi.


***


BIAYA yang dikeluarkan untuk seorang santri ternyata cukup besar. Untuk satu bulan, santri kelas I diminta membayar Rp450.000. Sementara santri kelas berikutnya membayar Rp300.000 per bulan. Itu belum termasuk uang pangkal yang mencapai Rp4,5 juta. "Yang terbesar memang untuk pembangunan pisik," ucap Nuriyanto. Assalaam terus berbenah melengkapi kebutuhan. Perpustakaan dan dapur misalnya sedang dilaksanakan pembuatannya. "Kami berusaha mandiri, tak mengandalkan donasi dari mana pun."


Sehari-hari santri yang berada di kawasan Pabelan Surakarta ini belajar seperti biasa. Malam hari setelah mengikuti pengajian santri kembali dibimbing untuk mempersiapkan pelajaran esok hari. Sementara siang adalah waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler.


Dari struktur bangunan dan program belajar, tampak bahwa PPMI Asaalaam bukan bagian dari Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah. "Kami bukan bagian dari Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah. Kami tidak fanatik pada organisasi agama," tegas KH Chozin Siddiq. Menurut dia, santri berasal dari beragam. Soal fanatik ibadah, dia menuturkan mengajarkan pada santri hanya yang ada dalilnya. Untuk ibadah, tak bisa lain kecuali mengikuti petunjuk atau dalil. Sedangkan untuk muamalah atau urusan duniawi boleh mengikuti maslahat.


Kehidupan modern bukan berarti santri tak mengenal sama sekali buku agama. Hadits seperti Subulus Salam dan beberapa kitab klasik juga diajarkan kepada santri. Begitu juga tentang sikap tawaddu dan menghormati guru. "Kami ingin mencetak santri yang mengenal diri dan ajaran Islam. Bahwa kemudian santrinya memilih pendidikan umum, pengasuh pondok tak menyalahkan. Justru mereka bisa berkiprah di bidang umum dengan bekal iman yang baik. (sidik m nasir)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Umat Islam Jangan Gegabah Menghakimi Aliran Ahmadiyah
Pemerintah Harus Percepat Tetapkan RUU Pornografi untuk Minimalisir Krisis Moral
2000 TKI Ilegal TempatiBarak Penampungan dari Depsos
Kaki Sangat Berharga Bagi Penderita Diabetes
KHASANAH BUDAYA NUSANTARA