|
[Swadaya Mandiri] Pada waktu mengikuti Konperensi tentang Kesejahteraan dan Pembangunan Sosial Dunia di Hong Kong minggu lalu, kami dengan rombongan yang terdiri dari Dr Tjuk Kasturi Sukiadi, Ketua DNIKS, sekaligus Ketua BK3S Jatim, Drs. M. Soedarmadi, Direktur Eksekutif Damandiri, Dr. Rohadi Haryanto, Sekjen DNIKS, dan Dr. Mulyono Daniprawiro, Pejabat Senior Damandiri, menyempatkan diri bertemu beberapa TKI yang meninggalkan keluarganya untuk berjuang membangun keluarga sejahtera melalui perjuangan yang berat pada banyak keluarga di Hong Kong. Menjelang Hari Keluarga Nasional 2010 akhir bulan ini tidak salahnya kita menghargai perjuangan yang gigih itu agar kita bisa bekerja keras membentuk dan mengirim tenaga kerja profesional dengan harapan imbalan jasa yang lebih gemilang dimasa datang. Kita juga menghargai perjuangan mereka karena dengan latar belakang yang profesional dan fasilitasi yang baik para pekerja itu umumnya bisa menempatkan diri sebagai prajurit profesional dengan gaji yang lumayan, tidak kalah dengan pensiun seorang Menko senior di Republik tercinta ini.
Dari kesan pertemuan sekilas yang dilanjutkan dengan mengikuti gerakan mereka di lapangan, diperoleh kesan bahwa umumnya para pekerja kita di Hong Kong cukup bahagia. Mereka bekerja selama enam hari dalam satu minggu dengan kesempatan libur sehari bagi setiap pekerja rumah tangga yang bebas digunakan menurut kemauan sendiri. Apabila beruntung memperoleh majikan yang baik, mereka boleh memilih hari liburnya pada hari Sabtu atau Minggu melalui kesepakatan. Pada hari libur setiap pekerja boleh jalan-jalan layaknya seorang “tuan besar” dengan pilihan acara yang beraneka ragam.
Salah satu acara yang dirancang dengan tiket yang dipesan jauh-jauh hari dan terjadi pada saat kunjungan kami ke Hong Kong minggu lalu adalah Konser penyanyi penyanyi kondang dari Jakarta. Tiket untuk acara ini harus dipesan jauh hari karena ternyata kami masih menemui beberapa pejuang devisa yang kecewa kehabisan tiket dan terpaksa menikmati hari liburnya dengan makan enak di suatu restoran di pusat pertokoan, layaknya seorang pegawai swasta menengah dan tinggi dari Jakarta. Untuk makan-makan tersebut, dengan alat komunikasi hp canggihnya mereka mengajak teman-temannya berjalan bersama, mengarungi lautan ke pusat pertokoan dengan nyaman. Gaya pakaiannya tidak kalah dengan gadis-gadis modern di Jakarta, Surabaya atau Semarang, dan pasti kita tidak mengira bahwa mereka adalah pembantu rumah tangga. Di tangannya ditenteng tas modern dan sebuah payung karena waktu ini Hong Kong, seperti juga Jakarta, Surabaya dan Semarang, masih diguyur hujan sesuai prediksi yang mereka ikuti di televisi atau radio.
Tiga orang pembantu rumah tangga, sebut saja Darmi, Warsilah dan Wati, sudah lebih dua tahun tinggal pada keluarga di Hong Kong. Pada hari Sabtu itu mereka libur dan tidak kebagian tiket sehingga harus menghabiskan hari liburnya untuk berbelanja sekaligus “window shoping” ke pusat pertokoan di kota. Mereka sengaja bepergian bertiga agar bisa mengadakan “perundingan” sebelum mengambil keputusan final dan apabila tiba waktnya makan siang, mereka bisa memilih makanan berbagi dengan kenikmatan yang lebih bila pergi sendirian yang pasti harus dengan pilihan terbatas. Pilihan belanja tersebut memberi opsi yang lebih luas karena bisa saja mereka belanja tanpa harus melihat barangnya.
Salah satu opsi belanja tanpa susah-susah menenteng barang ini dilakukan juga diantara para pejuang devisa tersebut. Salah seorang pejuang yang kami temui bernama Nanik, yang karena memiliki majikan yang baik memperoleh kesempatan menawarkan barang-barang yang pembelinya tidak usah melihatnya. Nanik, yang sudah lebih lima tahun bermukim sebagai pekerja di Hong Kong, setiap liburan berubah menjadi agen antar pembantu menawarkan aneka ragam barang yang bisa dipesan, dibayar dengan cara cicilan dan barang pesanannya langsung diantar dari Surabaya ke alamat masing-masing di seluruh Indonesia tanpa cacat. Pekerjaan ini memberi keuntungan yang sangat tinggi sehingga Nanik bisa mengirim ke orang tua, suami dan anak-anaknya di tanah air layaknya seorang kaya yang bingung membelanjakan uangnya. Nanik dan keluarganya sudah mempunyai rumah, sawah yang diolah oleh suami dan keluarganya dengan baik.
Seperti juga Nanik ada juga seorang senior lain bernama Yati yang konon menurut ceritanya sudah berada di Hong Kong lebih tujuh tahun. Yati sudah berhasil mengirim suaminya ke Korea karena pergaulannya di Hong Kong yang sangat maju. Yati sudah tidak lagi kelihatan seperti pembantu rumah tangga, dia sekaligus adalah “supervisor” diantara para pembantu yang dengan cekatan mengatur teman-temannya yang akan pulang karena sudah “terminated”, alias masa kontraknya habis. Menurut penuturannya seorang yang terminated bisa kembali bekerja di Hong Kong kalau memperoleh visa untuk kembali dengan tanggung keluarga di Hong Kong. Karena itu Yati menjadi semacam konsultan untuk mengurus surat-surat bekerja sama dengan agent di Hong Kong dan di tanah air. Yati juga mencarikan calon majikan atau mengatur majikan mana dan kapan majikan itu menjadi penanggung untuk mengurus pengiriman pembantu yang dimaksud kembali ke Hong Kong. Karena pekerjaannya itu setiap kali Yati pergi ke airport mengantar kliennya serta meyakinkan majikan yang membutuhkan. Majikan yang butuh tenaga itu bisa juga ikut ke airport untuk meyakinkan bahwa kebutuhannya serius dengan harapan petugas yang disayanginya betul-betul kembali ke Hong Kong. Yati yang konsultan itu dengan fasih, layaknya seorang diplomat, bicara dengan calon majikan yang dimaksud dalam bahasa Mandarin yang lancar dengan gelak tawa yang meyakinkan.
Pada Hari Keluarga Nasional yang ke 17, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 65 ini patut kita renungkan alangkah indahnya kalau keluarga Indonesia dilatih menjadi pekerja profesional dengan sungguh sungguh agar kesejahteraan dan kehormatan mereka dirantau terjamin dan harga diri bangsa tetap dipertahankan sebagai bangsa yang bekerja keras tetapi tetap terhormat. Dirgahayu keluarga Indonesia. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS).
|