|
[Assalamu'alaikum] Rakyat Kian Menjerit
SUNGGUH malang nian nasib sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama kalangan bawah. Hari-hari ini, mereka dihadapkan dengan persoalan hidup yang semakin berat. Mereka menjerit, karena menghadapi biaya berbagai kebutuhan hidup yang terus meningkat.
Topik pembicaraan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah mengenai harga-harga kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin mahal. Celakanya, kenaikan harga-harga tersebut hampir bersamaan dengan tahun ajaran baru yang juga membutuhkan dana yang besar. Sementara masyarakat juga merasa semakin sulit memperoleh tambahan uang, karena situasi dan kondisi ekonomi Indonesia yang belum menggembirakan.
Di kolom ini, kami pernah mengkhawatirkan mengenai dampak kenaikan tarif dasar listrik atau TDL yang mulai berlaku bulan Juli ini. Meski pemerintah sudah menentukan mengenai TDL yang dinaikkan, tapi dampaknya pasti dirasakan oleh masyarakat. Kekhawatiran itulah yang kini terjadi. Harga-harga kebutuhan pokok masyarakat hampir semuanya naik.
Dengan berbagai alasan, pedagang menaikkan harga barang dagangannya. Kenaikan itu semakin tinggi akibat dinaikkannya tarif beberapa ruas tol belum lama ini. Ironisnya, para pejabat mengeluarkan pernyataan bahwa kenaikan harga-harga tersebut dinilai wajar. Padahal masyarakat beban hidupnya sudah semakin berat.
Kini pemerintah juga kembali sibuk untuk menghitung ulang TDL untuk industri, setelah banyak keluhan dan protes. Yang lebih mengerikan adalah pernyataan dari pengamat bahwa dengan dinaikkan TDL, maka banyak industri di Tanah-Air yang tak mampu lagi melanjutkan kegiatannya dan akan berdampak pemutusan hubungan kerja.
Bagi kalangan industri, jika TDL itu menjadi lebih ringan, tentu akan disambut gembira. Tapi, mungkinkah dengan diturunkannya TDL bagi industri, akan mampu mengembalikan harga-harga di pasaran yang sudah telanjur naik? Tampaknya kok tidak mungkin.
Apalagi, pertengahan Agustus 2010, insya-Allah umat Islam di Indonesia akan menunaikan ibadah puasa Ramadhan yang biasanya akan diiringi dengan kenaikan harga-harga, baik untuk makanan, minuman, dan sandang. Kenaikan harga-harga itu biasanya akan semakin meninggi menjelang Idul Fitri. Masihkah pemerintah menilai kenaikan-kenaikan itu masih wajar?
Yang terpenting dari itu semua adalah langkah konkret dan uluran tangan pemerintah kepada rakyat yang sedang menjerit. Paling tidak masyarakat yang sebagian besar masih belum mengenyam kesejahteraan itu hidupnya akan lebih baik. Sehingga kasus gantung diri, seperti yang dilakukan oleh pelajar SD bernama Basir di Pasar Minggu, Jakarta Selatan bisa dihindari.
Hanya karena orang tuanya tidak mampu membiayai untuk melanjutkan sekolah, Basir nekad mengakhiri hidupnya. Andai pada saat itu ada uluran tangan dari pemerintah atau dermawan kepada keluarga itu, mungkin bocah laki-laki itu masih hidup. Tragis memang!
|