|
[Assalamu'alaikum] Menyikapi Perubahan di Amerika Serikat
BERBAGAI perubahan, sesungguhnya sedang terjadi di AS. Perubahan itu disebabkan oleh peristiwa runtuhnya gedung kembar World Trade Center di New York (2004) dan juga (terutama) karena krisis keuangan 2008. Berbagai perubahan itu, oleh kalangan internal AS sendiri, terutama oleh lawan-lawan Barack Obama, dinilai sangat mendasar. Mengubah kapitalisme ke arah sosialisme. Obama digambarkan sebagai seorang sosialis demokrat. Meskipun kenyataannya tidak seekstrem itu, perubahan itu memang cukup bermakna. Hal ini tampak dari keberhasilan Obama didalam melakukan reformasi kesehatan dan finansial. Peran negara, yang semula ditempatkan sebagai penonton, kini berperan lebih besar didalam perekonomian dan mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Dengan lolosnya kedua UU itu di Kongres AS, berarti sebagian besar rakyat AS bisa menerima perubahan itu. Slogannya, Change, dari Wallstreet ke Mainstreet dan Yes, We can!.
Apa yang terjadi di AS itu, tentunya juga disebabkan perubahan-perubahan yang kini sedang terjadi di dunia. Munculnya China dan juga India dan Rusia sebagai kekuatan ekonomi dunia baru, selain Jepang yang sudah lama menjadi kompetitor dibidang ekonomi. Selain itu, juga perkembangan dalam negeri AS, yang pada akhir-akhir ini banyak dilaporkan dalam media AS, bahwa kreativitas dan kemampuan inovasi AS sedang mengalami penurunan. Mengesankan, bahwa AS sudah di puncaknya, sehingga orang sudah berpikir dunia pasca-Amerika. Kalau dahulu dunia mengenal Britain rules the wave, era itu menghilang bersamaan dengan tampilnya AS sebagai negara adikuasa baru dan bahkan satu-satunya, setelah AS memenangkan Perang Dunia ke II dan perang dingin antara Blok Barat (yang dipimpin AS) dan Blok Timur (yang dipimpin Uni Soviet). Sekarang, dunia akan semakin rata dan dominasi AS akan semakin melemah. Termasuk, dalam hal ini ideologinya. Kapitalisme dan pasar bebas-nya mulai goyah, digantikan sosialis demokrat (?).
Meskipun demikian, AS masih yang terbesar dan terkuat. Hal ini tampak dari potensi ekonomi, militer, dan pengaruhnya di dunia. Wajar, kalau tidak mau kehilangan yang selama ini dimilikinya. AS masih bisa membagi bebannya dengan negara lain. Misalnya, di Afghanistan, AS melibatkan NATO dan negara lainnya. Hal yang sama, ketika harus berperang melawan terorisme. Sedangkan dalam hubungan antarbangsa, diintrodusir perlunya kesamaan sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya melalui berbagai lembaga multilateral maupun hubungan bilateral. Pendekatannya, dalam hal ini memang telah berubah, dimana Obama lebih mengedepankan pendekatan diplomasi.
Kita tidak selayaknya mencurigai niat-niat seperti itu. Sebab, setiap bangsa, pada akhirnya memang harus lebih mementingkan kepentingan nasionalnya. Tetapi, kalau kita diperlakukan tidak adil oleh AS, kitapun tidak boleh berdiam diri. Misalnya didalam produk perikanan atau rokok, yang dengan berbagai alasan, misalnya kualitas, keterbatasan kuota, terkadang ditolak masuk ke AS. Demikian juga didalam menyikapi berbagai kebijakan LN AS, yang selama ini terlalu sering pro Israel, sehingga menghambat cita-cita terwujudnya negara Palestina. Namun, yang terpenting, AS pun ternyata bisa dipaksa untuk berubah. Dan perubahan di AS itu, selayaknya bisa dimanfaatkan untuk juga mengubah tata hubungan internasional ke arah yang lebih adil.
|