Cetak sekarang!

Pelayanan RSUD "Bayu Asih" Dikeluhkan Warga

Laporan:

 

Sistem perawatan dan pelayanan rumah sakit umum daerah (RSUD) Bayu Asih Purwakarta-Jabar, banyak dikeluhkan para pasien dan keluarga pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit tersebut. Selain itu, ketersediaa
Purwakarta, Pelita

Sistem perawatan dan pelayanan rumah sakit umum daerah (RSUD) Bayu Asih Purwakarta-Jabar, banyak dikeluhkan para pasien dan keluarga pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit tersebut. Selain itu, ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan para pasien-pun sering mengalami kelangkaan termasuk keterbatasan air bersih.

"Para dokter dan paramedis rumah sakit bekerja tidak professional, kalau pasien minta bantuan yang sifatnya segera, mereka sepertinya ogah-ogahan. Terlebih jika malam hari," keluh sejumlah pasien yang ditemui terpisah di RSUD Bayu Asih, kemarin. Keluhan senada juga disampaikan keluarga pasien Mamad Djunaedi (54) penduduk Kecamatan Plered.

Menurut Mamad, perawatan mertuanya yang mengalami sakit komplikasi bagian dalam, terpaksa ia pindahkan dari Bayu Asih ke sebuah rumah sakit di Bekasi. " Saya sengaja menempatkan rawat inap orang tua di ruang VIP RSUD Bayu Asih, tapi pelayanannya kok sangat mengecewakan. Padahal itu kelas VIP, lantas bagaimana dengan kelas-kelas yang lain," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Aliansi Pemuda Peduli Purwakarta (APPP) Haris Yogy, menilai sistem pelayanan di RSUD Bayu Asih memang harus segera dibenahi." Hasil votting yang dilakukan pada September 2002 lalu tentang RSUD Bayu Asih menunjukan, 65 persen menyatakan pelayannya kurang baik. 30 persen menyatakan tidak tahu dan 5 persen lagi menyatakan baik.

Menanggapi lemahnya sistem palayanan, Kepala RSUD Bayu Asih Purwakarta dr Gathami, kepada wartawan mengatakan, hal itu terjadi diakibatkan oleh masih terbatasnya jumlah dokter dan para medisnya."Bayu Asih, saat ini dikelola dengan memanfaatkan 10 dokter umum dan 21 dokter spesial. Sementara jumlah paramedisnya hanya 200 orang," jelas dr Gathami.

Dari 200 paramedis tersebut, jelasnya, 70 persen diantaranya masih berstatus tenaga honorer. Sedangkan perbandingan antara pasien dan paramedis saat ini, siang satu paramedis banding lima pasien. Sementara pada malam hari, satu paramedis bisa berbanding sepuluh pasien. Padahal, idealnya, satu pasien satu perawat.

Untuk menambah tenaga paramedis, kata Gathami, pihak rumah sakit memerlukan dana yang tidak sedikit. Dan, itu masih jadi kendala utama. Sementara bantuan dari pemerintah daerah selaku pemilik rumah sakit, selama ini hanya diberikan dalam bentuk bantuan sarana fisik.

Menyinggung soal kelangkaan obat-obatan, Ghatami mengakuinya. Hal itu karena keterlambatan pengiriman. Ia juga memberi alasan. semisal jenis obat anestesi selektif, apotik rumah sakit memang menyediakan secara terbatas. Sedangkan soal distribusi air bersih ke kamar-kamar air pasien, ia berjanji akan segera menaggulanginya dengan membangun sumur-sumur pompa baru .

Wakil Ketua DPRD Purwakarta, Saifudin Zuchri,SH mengakui masih banyak yang dikeluhkan dari warga tentang sistem pelayanan di Bayu Asih. Padahal, kata dia, dalam dua tahun terakhir rumah sakit itu sudah dua kali ganti kepala." Agar para dokter dan paramedisnya lebih profesional, makanya perlu terus dipacu dan terus dikritisi masyarakat luas," katanya.(yan)


Sumber: http://116.213.48.92//artikel/10145.shtml