Cetak sekarang!

Delapan Kopassus Korban Kecelakaan Akhirnya Ditemukan

Laporan:

 

Semua prajurit Kopassus yang jatuh ke laut lepas pantai Pusong, Lhokseumawe, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sabtu, akibat kecelakaan saat latihan dengan sebuah helikopter, Senin (6/10) ditemukan telah men
Banda Aceh, Pelita

Semua prajurit Kopassus yang jatuh ke laut lepas pantai Pusong, Lhokseumawe, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sabtu, akibat kecelakaan saat latihan dengan sebuah helikopter, Senin (6/10) ditemukan telah menjadi mayat.

Jurubicara Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) Provinsi NAD Kolonel Laut (E) Ditya Soedarsono di Banda Aceh, kemarin menyebutkan semua korban ditemukan masih terikat tali dan tidak terlalu jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

Prajurit TNI dari kesatuan Kopassus yang gugur dalam kecelakaan itu terdiri atas empat personel anggota Penanggulangan Teror (Gultor) dan empat lainnya anggota Parako (Para Komando) ini ditemukan sekitar pukul 14.15 WIB oleh KRI Todak yang dipimpin Mayor Laut (P) Kus Mariadi.

Kedelapan prajurit yang gugur dalam latihan kecelakaan itu masing-masing Sertu Slamat Budiono, Serda Maksum, Praka Nainggolan, Praka Aprianto, Praka Khaerul Anan, Pratu Sigit, Pratu Sugiono, dan Pratu M Dodi.

Peristiwa naas itu terjadi pada Sabtu (4/10) sekitar 10.45 WIB saat latihan persiapan terakhir dalam bentuk "stabo" (turun dari helikopter dengan tali) dari sebuah lokasi menuju lapangan Hiraq untuk menyambut HUT ke-58 TNI.

Menurut Ditya, berita telah ditemukan semua korban beserta delapan senjatanya, setelah dua senjata ditemukan Minggu itu diperoleh dari Komandan Gugus Laut (Dangusla) Kolonel Laut (P) Guguk Handayani sekitar pukul 11.00 WIB.

KRI Todak yang baru melaksanakan tugas di negara tetangga Malaysia diminta ikut membantu mencari kedelapan personel TNI yang mengalami kecelakaan di lepas pantai Pusong, sekitar 274 Km sebelah timur Banda Aceh.

Pencarian itu dilakukan bersama empat kapal perang, sejak peristiwa tersebut terjadi, yakni KRI Siada, KRI Teluk Sibolga, KRI Sigalu, dan terakhir KRI Todak.

"Yang jelas, semua jenazah korban, senjata dan helm-nya kini sudah ditemukan semua," demikian Kolonel Laut (E) Ditya Soedarsono.

Kirim tim investigasi

Pada bagian lain, Ditya menyebutkan PDMD NAD mengirimkan tim khusus untuk menyeliki penyebab kecelakaan yang menewaskan delapan prajurit TNI di pantai Pusong, Lhokseumawe, 4 Oktober 2003.

"Tim investigasi yang terdiri atas tiga orang berpangkat Kolonel dan seorang Letko itu, hari ini (6/10) menuju ke Lhokseumawe," kata Kolonel Laut (E) Ditya Soedarsono.

Tim itu untuk menyelidiki kecelakaan yang menewaskan delapan pasukan elit, Kopassus ketika melakukan latihan akhir persiapan menyambut HUT ke-58 TNI di kota Lhokseumawe.

Dikatakannya, peristiwa naas itu terjadi pada Sabtu (4/10) sekitar pukul 10.45 WIB dari lokasi pantai Pusong menuju Lapangan Hiraq kota Lhokseumawe, namun setelah beberapa menit tinggal landas terjadi perubahan cuaca berupa angin kencang.

Akibatnya kedelapan prajurit jatuh ke laut setelah tali "stabo" (tali untuk turun dari helikopter) diputuskan.

"Kecelakaan itu terjadi saat latihan dalam bentuk 'stabo' dan latihan semacam itu bukan hal baru bagi prajurit TNI," kata Ditya Soedarsono.

Sedangkan tim investigasi PDMD yang diturunkan ke Lhokseumawe itu dipimpin Kolonel CPM Maman Taryaman, Ka.Kumdam Kolonel Chk M Sidik Fahmi, LO AU Kolonel Pnb Warsono, dan Waas Intel Letkol Gaguk Soesatyo.

Menurut Ditya, dalam latihan "stabo" sebelumnya, kedelapan prajurit TNI ini telah melaksanakan gladi, Jum'at (3/10) di Bandara Malikussaleh dan berlangsung mulus karena pada saat itu sekitar pukul 10.00-15.00 WIB cuacanya cukup cerah.

Warga ikut mencari

Sebelumnya, ribuan warga Kota Lhokseumawe dan sekitarnya, dilaporkan ikut mencari delapan prajurit yang tenggelam ketika melakukan latihan di perairan laut Pusong dan keikutsertaan masyarakat itu sebagai solidaritas terhadap TNI.

Sejumlah warga yang dihubungi Antara di Lhokseumawe, menjelaskan, ribuan masyarakat bersama aparat keamanan menyisir perairan laut dan bibir pantai mencari delapan prajurit yang hilang tenggelam dalam latihan itu.

Idris, warga Kota Lhokseumawe, menjelaskan, rasa solidaritas masyarakat mencari para korban itu cukup tinggi, terutama dari kalangan nelayan di pesisir pantai Pusong.

"Sejak kabar jatuhnya delapan prajurit saat latihan, setiap harinya ribuan warga berdatangan ikut menyisir kawasan pantai bersama aparat keamanan setempat," katanya.

Bahkan, sebagian besar nelayan pantai Pusong bersama kapal penangkap ikan tidak melaut selama tiga hari (Sabtu-Senin) dan ikut menyisir perairan untuk mencari delapan korban pasukan elit TNI AD itu.

Salah seorang perwira Penerangan Komando operasi (Koops) TNI juga membenarkan solidaritas masyarakat Kota Lhokseumawe untuk membantu pencarian delapan prajurit tersebut cukup tinggi.

"Dari raut wajah masyarakat juga terbersit rasa duka atas musibah yang menimpa kedelapan prajurit TNI tersebut," ujarnya. (ant/jon)

 

 


Sumber: http://116.213.48.92//artikel/18652.shtml